Masyarakat yang tergabung dalam Komunitas Khoja Semarang (Khojas) tampil dalam panggung 'Khoja Folklore' sebagai bagian dari Festival Kota Lama Semarang, di halaman Gedung Marba, Kota Semarang, Jumat, 12 September 2025. (Foto: Diaz Azminatul Abidin)
“Komunitas Seni dan Budaya Khoja Semarang (Khojas) terus menggaungkan tradisi leluhur. Memiliki akar keturunan dari wilayah Gujarat, India, tradisi Khoja disemai dan terus berakuluturasi dengan budaya lokal yang multikultural. Dari mulai kuliner khas, seni dan budaya, bahasa, dan lainnya. Warisan syarat makna itu terus dijaga selama berabad-abad dan diperkenalkan kepada khalayak. Mengisi keberagaman etnis di Kota Semarang, Jawa Tengah…”
SEBUTIR sore merekah, melemparkan teduh dari cakrawala. Semburat cahaya kuning keemasan dan jingga memadu. Memancar, merambati gedung-gedung tua di Kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah. Meraba dinding-dinding putih art deco dari bangunan cagar budaya (BCB) peninggalan era kolonial Belanda itu.
Di jantung kawasan, heritage Gedung Marba tampak paling mencolok dibandingkan bangunan mayoritas. Menyala dengan corak merah batu bata. Ronanya selaras dengan warna-warni baju Kurta khas India. Dimana busana itu sedang dikenakan puluhan orang dari Komunitas Khoja Semarang (Khojas), dalam pentas budaya bertema ‘Khoja Folklore’, di halaman gedung tersebut, Jumat, 12 September 2025.
Radha (18), berdiri di sisi Timur panggung pentas. Menghadap ke Barat searah dengan Gereja Blenduk, yang merupakan salah satu bangunan paling ikonik Kawasan Kota Lama Semarang, tepat di jalan utama.
Gadis muda keturunan Khoja, Gujarat, India, ini mengamati anak-anak dan para seniornya yang sedang menampilkan tarian Sammer. Meski kian semarak dengan irama musik tradisional seruling dan kendang, dia memang masih agak malu-malu untuk ikut tampil.
Penampilan Orkes Melayu (OM) Sinar Mutiara Muda Khoja yang mengiringi nyanyian yang dibawakan dalam pentas budaya ‘Khoja Folklore’ dalam Festival Kota Lama Semarang, Jumat, 12 September 2025. (Foto: Diaz Azminatul Abidin)
Ya, sore itu, pentas budaya bertema ‘Khoja Folklore’ sedang berlangsung menyemarakkan Festival Kota Lama Semarang 2025. Disaksikan puluhan dan mungkin ratiusan pengunjung yang datang, baik dalam negeri maupun mancanegara.
Selain baju Kurta, disajikan pula kuliner Bubur India, seni terbangan Persatuan Majelis Muslimin (PMM) Khoja Semarang, Pengantin Sunat Khoja, dan Orkes Melayu (OM) Sinar Mutiara Muda Khoja.
“(Senang) beragam banget budayanya, pokoknya bagus,” kata perempuan bernama lengkap Radha Mardhatilla Reisa, yang sedang mengeyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Kota Semarang ini.
Radha merasa bangga tradisi leluhurnya terus eksis selama berabad-abad, meskipun berada di negeri yang berbeda. Apalagi, tradisi Khoja diterima dan mampu berakulturasi dengan budaya lokal masyarakat ‘Kota Lumpia’, yang multikultural.
Sebagai generasi muda Khoja di Semarang, dia senang pada sore itu komunitasnya bisa tampil mengenalkan budaya leluhur, dan mendapat apresiasi dari banyak pengunjung yang datang.
“Harapan saya, komunitas ini semakin lanjut terus. Jangan sampai putus budaya khasnya (Khoja) gitu. Tetap dilanjutin sampai nanti cucu-cucu sampai pokoknya generasi selanjutnya,” ucap Radha.
Secara khusus, Radha ingat betul tradisi Khoja yang dikenalkan oleh orang tuanya. Contohnya, kuliner khas Khoja. Salah satunya Kue Bolu khas Khoja, kuliner ikonik yang kerap dibuat saat perayaan Hari Raya Idul Fitri, bagi umat muslim Khoja. Ini baru sebagian kecil dari kekayaan budaya Khoja yang membersamai, produk budaya lintas etnis di Kota Semarang.
Pengunjung ikut menari tarian Sammer pada pentas budaya ‘Khoja Folklore’ dalam Festival Kota Lama Semarang, Jumat, 12 September 2025. (Foto: Diaz Azminatul Abidin)
Ketua Khojas, M Soleh MD, mengatakan, Setidaknya Khojas sudah sering tampil dalam pentas yang serupa sejak lima tahun terakhir. Kehadirannya mampu menarik perhatian, dan minat dari masyarakat untuk ikut bergembira dalam irama Gerak dan musik khas ala film-film bollywood itu.
Dituturkan Soleh, Khoja merupakan salah satu etnis masyarakat di Kota Semarang yang memiliki garis leluhur dari wilayah Gujarat, India. Etnis ini telah tinggal di Semarang sejak berabad-abad lalu di Nusantara, khususnya Kota Semarang.
“Orang Khoja berasal dari Gujarat, India. Rata-rata memang orang muslim. Makannya ada juga salah satu tradisi selawatan dengan seni terbangan khas turun-temurun,” katanya.
Dahulu kala versi sejarah, kata Soleh, kedatangan orang Khoja ke Indonesia secara umum untuk berdagang dan berdakwah. Bukti fisiknya, terdapat Kampung Pekojan yang mayoritas ditinggali etnis tersebut. Adapula bangunan heritage, Masjid Jami’ Pekojan yang juga rutin membuat Bubur India untuk dibagikan saat Bulan Ramadan. Sama halnya dengan etnis lain, seperti Kampung Pecinan untuk Tionghoa, dan Kauman untuk orang-orang Arab.
Warisan Khoja yang lain, di dunia kuliner juga cukup dikenal di Kota Semarang khususnya. Di antaranya Nasi Kebuli, yang juga khas dari negara-negara Asia Selatan, dan Arab. Kemudian Ketan Srikaya, Bolu Khoja, Pistuban, hingga Bubur India. Uniknya, Bubur India hanya disediakan saat bulan Ramadan di Masjid Jami Pekojan.
“Ternyata sudah banyak yang tahu, memang Bubur India (Khoja) ini lama ada di Kota Semarang. Masjid Pekojan itu sudah ada pada abad ke-18. Berarti perkiraan bubur Khoja itu juga sudah ada waktu itu juga,” ucap Soleh, yang berprofesi sebagai pedagang itu.
Secara umum, kata dia, profesi orang-orang Khoja bermacam-macam. Ada pedagang seperti dirinya, pebisnis, pegawai negeri, jurnalis, seniman, politisi, hingga pendakwah. Salah satu seniman Khoja asal Kota Semarang yang terkenal pada masanya, yakni aktor sekaligus penyanyi bernama (alm) Ahmad Rafiq. Salah satu putrinya, saat ini menjadi politisi dan menjbaat Bupati Pekalongan, yakni Fadia A Rafiq.
Lebih lanjut, Soleh mengatakan, ingin mengenalkan lebih luas eksistensi dan kebudayaan masyarakat Khoja kepada khalayak melalui komunitas Khojas. Sejak Khojas berdiri pada 2020, katanya, masyarakat makin mengenal Khoja sebagai etnis yang berasal dari India, khususnya wilayah Gujarat.
Terlebih selama berabad-abad, eksistensi peradaban masyarakat Khoja telah mewarnai ’Kota Lumpia’ dengan keberagaman etnisnya yang multikultural. Pengaruh akulturasi budaya Khoja tumbuh membersamai etnis lain, seperti Jawa, Arab, Tionghoa, dan lainnya. Searah dengan itu, Soleh juga ingin meluruskan pandangan mayoritas masyarakat, bahwa sebetulnya orang Khoja berbeda dengan Arab.
“Nah, mulai beberapa tahun ini (masyarakat) makin mengetahui. Dan yang namanya Khoja itu bukan Arab,” katanya.
Komunitas Khoja Semarang (Khojas) didirikan sejak 2020, untuk mengenalkan budaya dan eksistensi masyarakat Khoja di Kota Semarang, khususnya. (Foto: Diaz Azminatul Abidin)
Sejarah, dan Perkembangan Komunitas Khoja
Chandra A N, seorang wartawan senior yang juga pemerhati Sejarah di Kota Semarang, mengatakan, kedatangan orang Khoja dari Gujarat, India, di nusantara diperkirakan sejak abad ke 13. Era yang sama dengan keberadaan Kerajaan Samudera Pasai, di Aceh. Mereka datang dengan tujuan berdagang dan berdakwah. Orang khoja, disebut menggunakan Bahasa Urdu, hal ini menjadi identitas pembeda dengan etnis Arab.
”Salah satu yang terbesar di Kota Semarang. Karena letaknya di pesisir, kota pelabuhan,” katanya.
Orang-orang Khoja di Kota Semarang, saat ini telah melebur dengan sejumlah etnis lainnya di Ibu Kota Provinsi Jawa tengah ini. Pada perkembangannya, mereka ada yang menikah dengan etnis Jawa, Kalimantan, Arab, Tionghoa, dan laiinnya. Meski demikian, orang Khoja merupakan mayoritas muslim.
”Banyak (juga) dengan China. Banyak. Makanya kalau kita melihatnya di wajah-wajah orang Khoja itu selalu bervariasi. Ada yang ke India-Indiaan, ada ke Arab-Araban, ada ke Eropa-Eropaan, ada yang ke Jawa-Jawaan, warnanya macam-macam,” katanya yang juga Sekretaris Khojas itu.
Lebih lanjut, Chandra, mengatakan, Komunitas Khoja Semarang mulai berdiri dan tampil ke publik sebagai sebuah komunitas sekira 2020. Pertama kalinya tampil di Car Free Day, Jalan Pahlawan, Kota Semarang. Pada saat itu diakui mendapat banyak perhatian dari pengunjung. Apalagi penampilannya bak artis pada film-film Bollywood yang mengajak untuk bernostalgia.
Dikatakannya, sejak saat itu Khojas terus tampil. Baik dari panggung-panggung kecil, hingga yang difasilitasi oleh Pemerintah kota Semarang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota. Terlebih untuk tampil di Festival Kota Lama Semarang, yang menampilkan banyak potensi multikulturalisme kota.
Jauh sebelum eksistensi melalui Khojas, orang Khoja sudah memiliki jejaknya di Kota Semarang, tepatnya di Kampung Pekojan. Dinukil dari jurnal karya Ravita Laelatul Kurniawati dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, berjudul ’Akulturasi Budaya pada Masjid Djami’ Pekojan dalam Pengembangan Toleransi di Semarang 1892-1912 M’, Pekojan menjadi salah satu tempat permukiman tua di Kota Semarang.
Masyarakat keturunan Khoja, India, di Kota Semarang mayoritas muslim. Mereka tumbuh berdampingan dengan lintas etnis, dan keyakinan di Kota Semarang yang multikultural. (Foto: Diaz Azminatul Abidin)
Memang, Kota Semarang sebagai kota pelabuhan mendatangkan banyak pedagang asing pada masa lampau dan menjadikannya sebagai daerah yang multikultural. Banyak orang asing singgah dan menetap. Masyarakat Kota Semarang terdiri berbagai etnis dengan masing-masing budaya yang berkembang bersamanya. Beberapa etnis di antaranya, masyarakat local seperti Jawa, orang asing berasal dari etnis Cina, Arab, Eropa, termasuk Khoja.
Disebutkan dalam jurnal yang dibuat tahun 2024 itu, nama Pekojan berasal dari kata Koja atau Khoja, sebutan orang-orang Islam yang berasal dari negeri Hindustan (India). Kampung Pekojan dihuni oleh masyarakat etnis Jawa dan Khoja pada umumnya, dengan mayoritas masyarakat mayoritas etnis Khoja.
Lebih lanjut, dituliskan, Kampung Pekojan memiliki ikon berupa ’Jalan Pekojan’ yang menjadi pusat perdagangan di Kota Semarang. Pada perkembangannya, daerah ini makin ramai dengan aktivitas perdagangan. Baik barang kebutuhan rumah tangga, hingga bahan bangunan.
Para pedagang dari Khoja memiliki kesamaan agama dengan penduduk pribumi yang mayoritas beragama Islam, kawasan Pekojan lantas dihuni mayoritas orang beragama Islam. Akan tetapi, kawasan Pekojan juga mekin ramai dengan populasi etnis Tionghoa. Kepercayaan dari orang China juga melebur di kawasan ini.
Keragaman budaya tampak dengan berdirinya kelenteng-kelenteng (tempat ibadah pemeluk Tri Dharma) khususnya yang didirikan di kawasan Pecinan dan Pekojan di Kota Lumpia. Pekojan yang dulunya dihuni mayoritas kawasan orang Islam, kini membentuk kawasan yang heterogen. Terdapat berbagai macam etnis dan kebudayaan serta kepercayaan, di dalamnya. (*)
SEMARANG (SUARABARU.ID)- Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi (Ilkom) Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi (FTIK) Universitas Semarang (USM), menggelar pelatihan...