blank
Internet rakyat.

KUDUS (SUARABARU.ID) – Masyarakat Kabupaten Kudus kini mendapat angin segar dengan mulai dibukanya kesempatan pendaftaran Internet Rakyat, layanan internet murah berkecepatan tinggi yang belakangan ramai diperbincangkan di berbagai daerah. Program ini menawarkan akses internet hingga 100 Mbps dengan tarif hanya Rp 100 ribu per bulan, tanpa batasan kuota.

Program Internet Rakyat merupakan inisiatif perluasan jaringan berbasis 5G Fixed Wireless Access (FWA) yang dikembangkan oleh penyedia layanan Surge. Teknologi ini memungkinkan masyarakat mendapatkan koneksi internet cepat tanpa pemasangan kabel fiber, sehingga proses instalasi lebih mudah dan menjangkau lebih banyak wilayah.

Sejumlah kota dan kabupaten di Jawa disebut telah masuk cakupan awal, termasuk beberapa area di Jawa Tengah.

Dan untuk masyarakat Kudus pun sudah mulai bisa melakukan pre registrasi. Setelah proses pre registrasi, nanti akan dilakukan verifikasi

Pendaftaran melalui laman resmi Internet Rakyat yakni internetrakyat.id sudah bisa dilakukan menggunakan alamat di wilayah Kudus. Hal ini membuka peluang bahwa jaringan pemancar (tower/BTS) telah menjangkau sebagian area di kabupaten tersebut.

Calon pelanggan dapat melakukan pendaftaran melalui situs resmi Internet Rakyat internetrakyat.id dengan mengisi data diri dan alamat lengkap termasuk mengisi kode OTP yang akan dikirimkan melalui pesan whatsapp.

Setelah itu, sistem akan melakukan pengecekan cakupan untuk memastikan apakah lokasi sudah dapat dilayani. Jika lolos verifikasi, instalasi dapat dijadwalkan langsung oleh teknisi.

Paket Internet Rakyat menawarkan layanan unlimited, kecepatan hingga 100 Mbps, serta tarif tetap Rp 100 ribu per 30 hari. Program ini diharapkan menjadi solusi terjangkau bagi rumah tangga, pelajar, hingga pelaku UMKM di Kudus yang membutuhkan akses internet cepat tanpa biaya tinggi.

Dengan semakin luasnya area jangkauan dan mulai terbukanya pendaftaran bagi warga Kudus, Internet Rakyat menjadi salah satu opsi menarik di tengah tingginya kebutuhan konektivitas digital masyarakat.

Ali Bustomi