Oleh: Dyna Mulia Safitri
SUATU sore yang hangat di Desa Kemuning, Kecamatan Bejen, suara gamelan mengalun dari arah lapangan desa. Puluhan anak muda tampak berbaris, mengenakan celana komprang hitam, jarik bermotif parang, dan belangkon bergelung.
Wajah mereka disapukan warna merah menyala, dengan kumis dan jenggot tebal dari wol sintetis. Di tangan mereka menggenggam toyak tongkat kayu yang menjadi simbol keberanian.
Mereka tengah berlatih Tari Warokan, tarian khas Temanggung yang menggambarkan semangat kepahlawanan dan kekuatan rakyat.
“Kami ingin anak-anak muda mengenal tarian ini bukan hanya sebagai hiburan, tapi juga bagian dari jati diri Temanggung,” ujar Ananda (19), pelatih muda kelompok seni Warokan Turonggo Mudho Cipto Sejati Kemuning, sembari tersenyum bangga melihat anak-anak asuhnya menari dengan semangat.
Tari Warokan bukan sekadar tontonan. Tarian ini memadukan gerak prajurit dan nilai spiritual tentang keteguhan hati. Nama “Warokan” berasal dari kata wewarah, yang berarti orang yang memberi tuntunan atau nasihat tanpa pamrih. Dalam masyarakat Temanggung, sosok warok dipercaya sebagai penjaga moral dan pelindung desa.

Meski usianya belum setua tarian klasik Jawa lainnya, Tari Warokan telah menjadi simbol kebanggaan lokal sejak mulai berkembang pada pertengahan 1990-an. Kini, berbagai kelompok seni di Temanggung aktif menampilkan Warokan dalam acara hajatan, upacara adat, hingga festival kabupaten.
Pemerintah Kabupaten Temanggung juga berperan besar dalam pelestarian seni tradisi ini. Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, pemerintah menyalurkan hibah kesenian senilai Rp10,5 miliar kepada lebih dari 250 kelompok seni, termasuk kelompok Tari Warokan. Dana tersebut digunakan untuk pengadaan kostum, alat musik, hingga pelatihan generasi muda.

Di tengah derasnya arus budaya modern, mempertahankan tarian tradisi bukan perkara mudah. Banyak anak muda lebih tertarik pada seni kontemporer. Namun di Kemuning, semangat pelestarian itu terasa hidup. Setiap malam minggu, suara gamelan dan teriakan khas gamelan menggema di lapangan desa tanda latihan dimulai.
“Latihan Warokan itu melelahkan, tapi juga menyenangkan,” kata Vian (12), salah satu penari cilik.
Gerakannya kuat, cepat, dan penuh makna. Rasanya seperti ikut menjaga sesuatu yang berharga.
Melalui pelatihan rutin dan penampilan di berbagai acara budaya, Tari Warokan kini kembali menemukan penontonnya. Tidak sedikit wisatawan lokal datang khusus untuk menyaksikan pertunjukan ini, terutama saat Festival Budaya Temanggung.
Warisan yang Terus Bergerak
Warokan bukan hanya milik masa lalu, tapi juga bagian dari masa depan Temanggung. Di tangan para seniman muda dan dukungan masyarakat, tarian ini terus menari diantara perubahan zaman. “Selama masih ada yang mau menari, Warokan tidak akan pernah mati,” ucap Ananda
Di balik wajah merah dan kumis tebal para penari, tersimpan tekad untuk menjaga denyut nadi budaya yang menjadi kebanggaan lereng Sindoro Sumbing.**













