Oleh: Taufiq Nugroho Nur, M.Pd
Pepatah Jawa mengatakan, “Guru, digugu lan ditiru.” Guru harus dipercaya dan diteladani. Mari kita hormati para guru. Sebab, dari tangan dan ketulusan merekalah lahir generasi yang beriman, berilmu, dan beradab. Selamat Hari Guru, semoga guru Indonesia semakin sejahtera, berwibawa, dan terus menjadi cahaya pendidikan Indonesia.
H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, berpendapat bahwa pendidikan adalah kunci untuk membuka pintu kemajuan dan kemakmuran bangsa.Sebuah negara yang gemah ripah loh jinawi
Ki Hajar Dewantara merumuskan peran guru melalui semboyan terkenal: “Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani.” Ungkapan ini menggambarkan bahwa guru harus menjadi teladan ketika di depan, memberikan motivasi ketika di tengah, dan memberikan dorongan ketika di belakang. Guru bukan hanya pengajar (teacher), melainkan juga pendidik (educator) dan pembimbing (mentor) yang menumbuhkan semangat dan karakter siswanya.
Dalam perspektif Islam, guru memiliki kedudukan yang tinggi. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud). Artinya, peran ulama adalah mendidik ummatnya. Ulama atau guru berperan sebagai penerus misi kenabian dalam menyebarkan ilmu, kebenaran, dan akhlak mulia. Oleh sebab itu, profesi guru disebut sebagai profesi kenabian suatu panggilan hidup yang menuntut keikhlasan, kesabaran, dan pengabdian.
Kaisar Hirohito dari Jepang setelah kekalahan Perang Dunia II tidak bertanya berapa banyak tentaranya yang tersisa, melainkan berapa banyak guru yang masih hidup. Ia menyadari bahwa kebangkitan bangsa hanya bisa dibangun melalui pendidikan yang kuat. Kisah serupa juga terjadi di Malaysia pada tahun 1970-an. Saat itu, pemerintah Malaysia meminta bantuan Indonesia untuk mengirim guru-guru terbaiknya guna memperkuat sistem pendidikan.
Tokoh seperti Imaduddin Abdulrahim menjadi dosen tamu di Universiti Teknologi Malaysia dan turut membangun pondasi pendidikan Islam dan teknologi di negeri jiran tersebut. Kini, Malaysia diakui memiliki sistem pendidikan yang relatif lebih maju daripada Indonesia.
Namun, di tengah idealisme luhur itu, kenyataan di lapangan sering kali berbanding terbalik. Banyak tantangan sosial yang menguji profesi suci seorang guru. Menjelang Hari Guru Nasional tahun ini, berbagai kasus yang menimpa guru mencuat ke publik dan menyesakkan dada.
Kasus pertama, seorang kepala sekolah SMP Negeri dicopot karena melarang anak pejabat parkir mobil di halaman sekolah. Kasus kedua, seorang kepala SMA Negeri diberhentikan karena menampar siswa yang berulang kali melanggar aturan dengan merokok di sekolah. Kasus ketiga, di Subang, seorang guru dipersekusi oleh orang tua siswa karena menegur anak yang selalu melanggar disekolah.
Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa guru sering terjebak dalam dilema moral dan hukum. Di satu sisi, mereka dituntut mendisiplinkan siswa, di sisi lain, mereka diancam oleh tekanan sosial, hukum, bahkan kekerasan. Situasi ini membuat banyak guru kehilangan semangat dalam berinteraksi dengan siswa ketika menjalankan tugas mulia mereka.
Dalam teori pendidikan Ki Hajar Dewantara, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh guru, tetapi juga oleh tiga pusat pendidikan (Tri Pusat Pendidikan); keluarga, sekolah, dan masyarakat. Orang tua memiliki tanggung jawab utama dalam mendidik anaknya. Namun, karena keterbatasan waktu dan kemampuan, tanggung jawab tersebut sering diserahkan kepada guru di sekolah.
Idealnya, hubungan antara guru, murid, dan wali murid bersifat mutual saling menghargai, mendukung, dan bekerja sama demi perkembangan anak. Komunikasi tiga arah harus dibangun secara terbuka, egaliter, dan berorientasi solusi. Guru bukan bawahan wali murid, melainkan mitra dalam mendidik. Jika terjadi kesalahan, musyawarah adalah jalan terbaik, bukan persekusi.
Menurut teori Human Capital yang dikemukakan oleh Theodore W. Schultz (1961), pendidikan dan guru merupakan bentuk investasi yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial. Oleh karena itu, negara wajib memberikan kepastian hukum, kesejahteraan, dan perlindungan moral kepada guru.
Kepastian hukum diperlukan agar guru merasa aman dalam mendidik dan menegakkan disiplin. Kesejahteraan penting agar guru bisa fokus menjalankan tugas tanpa terbebani masalah ekonomi. Dengan kesejahteraan yang memadai, guru dapat meningkatkan kompetensi profesionalnya baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Guru yang bahagia akan menularkan kebahagiaan dan semangat belajar kepada muridnya. Guru sejati tidak hanya diukur dari seberapa banyak ilmu yang diajarkan, tetapi dari seberapa besar pengaruh positif yang ditinggalkan pada muridnya. Orang bijak berkata, “Guru tidak gagal karena kebodohan muridnya, tetapi gagal ketika ia kehilangan kesabaran terhadap muridnya.”
Guru modern harus memiliki tiga karakter utama; good looking, good knowledge, dan keep humble, berpenampilan baik, berwawasan luas, dan tetap rendah hati. Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Mendikdasmen berpendapat bahwa guru harus menjadi contoh yang baik bagi siswa dalam segala aspek, baik dalam prilaku, sikap maupun karakter.
Keteladanan guru dapat menjadi kunci kesuksesan siswa di masa depan. Allah ﷻ juga berfirman dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11:“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” Ayat ini menjadi pengingat bahwa profesi guru adalah jalan mulia menuju derajat tinggi di sisi Allah, asalkan dilakukan dengan keikhlasan dan tanggung jawab.
Penulis sebagai guru dan mantan siswa, mengucapkan selamat hari guru. Semoga guru-guru Indonesia semakin berdaya, sejahtera, berilmu dan berakhlakul karimah dalam menemani para siswa menjemput masa depan mereka yang lebih baik.
Membangun kesadaran bersama antara guru dan masyarakat untuk membangun komunikasi yang baik agar tidak ada lagi guru yang dipersekusi, di buli wali murid dan sebaliknya sekolah adalah tempat yang ternyaman untuk belajar didampingi guru tercinta. Orang bijak berkata bahwa kerja guru adalah hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.”Guruku jangan lelah menjadi guru yang menyenangkan dan menjadi sahabat siswa. Happy Teachers Day”.
Penulis adalah Pendidik di SMP Negeri 3 Welahan dan Pengurus PGRI Cabang Welahan.













