KUALA LUMPUR (SUARABARU.ID)– Tim Peneliti dari Universitas Semarang (USM), melakukan terobosan dengan menawarkan solusi beton akustik cerdas, yang tak hanya kokoh menopang bangunan, tapi juga mampu meredam suara secara efisien.
Dan yang lebih menarik, komposisinya bisa dirancang lebih presisi, berkat bantuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Tim Peneliti USM sendiri terdiri dari Ngudi Hari Crista, Sudharto P Hadi, Erni Setyowati, dan Aimmatul Husna.
Penelitian mereka yang berjudul ‘Machine Learning Modelling of Acoustic Concrete Using Orange Data Mining’, dipaparkan dalam The International Conference on Artificial Intelligence and Its Applications (Icon-AI 2025), di Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Kuala Lumpur, Rabu-Kamis (12-13/11/2025).
BACA JUGA: Dosen Teknik Elektro USM Perkenalkan Teknologi AI dalam Mendeteksi Stroke
Dalam paparannya, Ngudi membuktikan, komposisi beton akustik, seperti persentase agregat ringan, rasio pori, jenis serat, atau ukuran rongga, bisa diprediksi dampak akustiknya sebelum dicetak.
Dalam penelitiannya bersama kolega lain, mereka menggunakan platform open-source Orange Data Mining, untuk melatih algoritma machine learning. Antara lain, Random Forest, k-Nearest Neighbors, dan Support Vector Machine, dengan memasukkan data hasil uji laboratorium sebelumnya.
Hasilnya menunjukkan, model AI mampu memprediksi Noise Reduction Coefficient (NRC), yaitu ukuran seberapa besar suara diserap oleh material, dengan koefisien determinasi (R²) mencapai 0,987, artinya akurasi prediksi nyaris sempurna, sebesar 98,7 persen.
BACA JUGA: Tim PKM USM Beri Pelatihan Kabel Jaringan FO di SMK Pembangunan Mranggen
”Artinya, insinyur tak perlu lagi membuat puluhan contoh beton, lalu mengujinya satu per satu di ruang akustik yang mahal. Cukup masukkan komposisi rencana ke dalam sistim, dan dalam hitungan detik, AI memberi tahu, ‘Campuran ini akan menyerap suara hingga 65 persen di frekuensi 1.000 Hz’, atau berapa pun target reduksi kebisingan yang dibutuhkan,” ujarnya.
Menurut dia, inovasi itu sangat relevan untuk kota-kota padat seperti Semarang, Jakarta, atau Surabaya. Di mana kebisingan lalu lintas, pabrik, atau aktivitas komersial melebihi ambang batas aman WHO (55 dB siang hari).
Beton akustik bisa dipasang sebagai fasad gedung sekolah dekat rel kereta, dinding pembatas jalan tol, atau partisi ruang kelas, tanpa mengorbankan kekuatan struktural.
BACA JUGA: Mahasiswa Asing USM Juara 1 Lomba Menyanyi Indo-Pop Voice
”Kami tidak membuat material baru dari nol. Kami memanfaatkan bahan lokal, semen, pasir, agregat ringan, lalu mengoptimalkannya secara cerdas. Ini lebih murah, lebih cepat, dan ramah lingkungan,” ungkap Ngudi.
Ke depan, imbuhnya, model itu bisa diintegrasikan dalam perangkat lunak desain arsitektur atau sistem rekomendasi untuk kontraktor. Bahkan, kombinasi dengan sensor IoT memungkinkan beton “belajar” dari kondisi nyata, jika kebisingan ternyata lebih tinggi dari perkiraan. Sistim ini juga bisa menyarankan modifikasi untuk lapisan berikutnya.
”Di tengah upaya Indonesia membangun Smart City yang berkelanjutan, inovasi ini membuktikan, transformasi digital tak hanya terjadi di layar ponsel, tapi juga dalam material paling dasar pembangunan. Kini, beton bukan lagi benda mati. Ia bisa mendengar, belajar, dan merespons untuk kota yang lebih tenang, sehat, dan manusiawi,” ungkapnya.
Riyan













