Oleh : Hadi Priyanto
Budi daya Bandeng yang saat ini berkembang di Desa Ujungwatu dan Clering, Kecamatan Donorojo, Jepara hingga mencapai luasan tambak 330 ha tak bisa dilepaskan dari peran Mbah Muhammad Satir. Ia seorang penginjil dari Dukuh Jerukrejo, Desa Banyumanis yang sejak tahun 1962 tinggal di dukuh Palohjati dan kemudian melayani di jemaat di padukuhan tersebut.
Melihat kondisi padukuhan yang memiliki wilayah pantai, Mbah Satir kemudian mulai mulai melakukan budi daya ikan bandeng. Tak mudah. Sebab Mbah Satir harus mulai mengolah kawasan rawa yang dipenuhi karang, pepohonan, semak belukar, dan menyulapnya menjadi tambak.
Namun kerja keras Mbah Satir itu akhirnya berbuah manis. Tambaknya mampu menghasilkan ikan bandeng yang melimpah. Bahkan kemudian tambak Mbah Satir semakin luas. Keberhasilan Mbah Satir ini kemudian banyak di tiru oleh warga sekitar dengan membuka tambak. Sementara Mbah Satir setelah meninggal dimakamkan di pemakaman Cumpleng, Ujungwatu

Peran PLN UIK TJB dalam Konsep Pentahelix
Kini tambak di Desa Ujungwatu telah berkembang pesat. Setidaknya terdapat 200 ha tambak bandeng semi intensif hingga mampu meningkatkan produktivitas tambak dari 800 kg menjadi 2.000 kg / ha. Ini terjadi setelah terbangun kolaborasi lima unsur utama dalam pengembangan potensi tambak yaitu para petambak, akademisi, bisnis, pemerintah dan media.
Ada banyak pihak yang berkolaborasi dalam pengembangan tambak di Desa Ujungwatu mulai petambak yang ingin maju, Pemerintah Kabupaten, Kementerian Kelautan dan Perikanan, PLN UIK Tanjung Jati B, Balai Besar Budidaya Air Payau, Unisnu Jepara, pabrik pakan hingga media yang aktif mempromosikan potensi bandeng Ujungwatu.

Tanpa mengabaikan peran pihak lain, hadirnya PLN UIK Tanjung Jati B pada tahun 2022 dapat disebut memegang peran kunci. Sebab dengan elektrifikasi area tambak, membuat dapat dikembangkan teknologi kincir yang mampu meningkatkan produktifitas tambak.
Berkat kerjasama dengan PLN UIK Tanjung Jati B ini, pada tahun 2023 telah dilakukan Penguatan Infrastruktur dan Kapasitas yang meliputi pembangunan instalasi listrik untuk budidaya bandeng, penanaman mangrove, pelatihan diversifikasi olahan bandeng, dan penyebaran bibit mangrove ke wilayah Lain. Sedangkan tahun 2024 dilakukan Ekspansi dan Integrasi Ekosistem yang dilakukan Penanaman Pohon untuk Pemulihan Ekosistem, pembanguan sekretariat / pusat pembelajaran bandeng Kalingga, perluasan konservasi pesisir, pembuatan rumah bibit, perluasan program Electrifying Marine dan pengembangan budidaya Ikan air tawar dan produksi garam

Sementara pada tahun 2025 dilakukan program Inovasi dan Kelembagaan yang terdiri dari Pelatihan Pakan Mandiri (Pakan Alternatif), Bantuan Green House Kelompok Mekar Jaya, Pengadaan Mesin Pakan Apung, Instalasi Listrik 3 Phasa Program Bandeng Kalingga, Penanaman & Pemeliharaan Mangrove, Pelatihan Pemasaran Digital, Pengembangan Koperasi, Inovasi Alat Produksi Pakan Mandiri, Pengembangan Branding “Pusat Kuliner Bandeng R&D Manajemen Pakan dan Salinitas Air
Direncanakan pada tahun 2026 nanti akan dilakukan program Hilirisasi dan Keberlanjutan yang terdiri dari Pengembangan Pusat Budidaya Mangrove dan Crowdfunding “Jaga Pantura”, Pengembangan Rumah BUMN Jepara dan Sistem Digital Marketing serta Platform Co-Investment “Bandeng Kalingga.

Branding Bandeng Kalingga
Para petambak di Ujungwatu yang terdiri dari Kelompok Budidaya Ikan Sido Maju 2, Sido Maju Jaya, Mini Mulyo, Sido Jaga, Tanggul Penangkis, Bendeng Nusantara dan Sido Makmur akhirnya sepakat membentuk Koperasi Bala Kalingga Jaya. Salah satu harapannya, melalui koperasi ini dapat lebih sigap dalam mengembangkan dan memperluas pasar
Dengan kerjasama Pentahelix, kini bandeng Ujungwatu memcoba membangun branding baru sebagai Bandeng Kalingga dengan produk Bandeng Presto, Otak-otak Bendeng dan Abon. “Kami ingin memanfaatkan kebesaran Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga untuk memperkuat pasar kami,” ujar Ketua Koperasi Bala Kalingga Jaya Wiharsono saat menerima sejumlah media yang tengah mengikuti Safari Jurnalistik dan Media Hangout PLN Tanjung Jati B yang berlangsung 11 November 2025. Dalam kunjungan ini hadir pula Wawan Subiyanto dan tim dari TJSL PT PLN Unit Induk Pembangkitan Tanjung Jati B.

Selama ini hasil tambak dari Ujungwatu di jual ke Juana dalam bentuk ikan segar dengan harga sekitar Rp. 30.000,- / kg. “Dengan membuat produk olahan harapan kami nilai tambahnya akan semakin besar yang dapat dinikmati petambak,” ujar Wiharsono yang didampingi oleh sejumlah pengurus koperasi.
Sementara bendahara koperasi, Khabid Anwar menjelaskan produk yang dihasilkan oleh koperasi Bala Kalingga Jaya diantaranya adalah bendeng presto Kalingga, otak-otak bandeng dan abon Bentari . “ Harga untuk bandeng presto Rp. 40 ribu dengan berat 500 gram dan untuk Otak-otak Rp. 45 ribu,” ujarnya. Namun jujur, kami belum mampu meraih pasar yang lebih besar walaupun kualitas produk kami bagus.
Walaupun sudah ada permintaan untuk pengiriman luar kota, namun sifatnya belum rutin. “Biasanya untuk bawaan yang sifatnya pribadi atau pesanan kantor,” ujarnya. Harapan kami, tingkat kunjungan wisata ke Jepara, termasuk Karimunjawa yang tinggi dapat menjadi pasar Bandeng Kalingga, ujar Khabib. Jarak antara Jepara dan Ujungwatu yang lebih 50 km disebut menjadi kendala dalam meraih pasar wisatawan.
Kedepan, harapan dari Koperasi Bala Kalingga Jaya dapat membuka konter-konter penjualan di Jepara atau di obyek wisata yang ada. Atau ada tempat penjualan produk-produk oleh – oleh Jepara yang memiliki akses kuat terdahap wisatawan.
Bandeng Kalingga, bagaikan potensi besar yang masih tersembunyi di pesisir utara Jepara. Walaupun kualitasnya tak kalah dengan Bandeng Juana, namun akses pasar terhadap wisatawan belum terbangun. Karena itu perlu langkah yang sigap dari para pemangku kepentingan untuk membangun akses pasar serta inovasi, kreatifitas dari pengurus dan anggota koperasi Bala Kalingga Jaya untuk mempu menghasilkan produk yang memiliki daya saing.
Penulis adalah wartawan SUARABARU.ID













