blank
KH Ahmad Hadidul Fahmi atau Gus Fahmi ketika mengisi pengajian akbar di Dalangan Purwojati Kertek Wonosobo. Foto : SB/dok Pemuda Dalangan

WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Menjelang peringatan Hari Pahlawan Nasional , Senin 10 November 2025, Pemuda Dalangan Desa Purwojati Kertek Wonosobo bersama keluarga besar Jam’iyah Rifa’iyah menggelar Pengajian Akbar.

Pengajian Akbar bertajuk “Meneladani Perjuangan dan Keulamaan KH Ahmad Rifa’i”, itu digelar di halaman MI Rifa’iyah Dalangan, Purwojati Kertek Wonosobo, pada Minggu, 9 November 2025.

Acara tersebut menjadi ajang refleksi keagamaan sekaligus kebangsaan, mengenang sosok KH Ahmad Rifa’i, ulama besar asal Kendal yang dikenal sebagai pejuang dakwah dan tokoh perlawanan terhadap penjajahan, serta telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Pengajian menghadirkan penceramah KH Ahmad Hadidul Fahmi atau Gus Fahmi, pengasuh Pondok Pesantren Attaujieh Al Islami Lil Huffadz Leler Rawalo, Banyumas. Ribuan jamaah memadati area pengajian sejak pagi, menghadirkan suasana khidmat dan penuh kebersamaan.

Ketua Panitia, Azis Syafi’ie, menyampaikan bahwa kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan atas jasa KH Ahmad Rifa’i.

“KH Ahmad Rifa’i bukan hanya ulama, tetapi juga pejuang yang mengajarkan keberanian, kejujuran, dan keadilan. Semangat perjuangan beliau menjadi warisan berharga yang harus terus dijaga,” ujarnya.

Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan penuh dari Ketua Pemuda Dalangan, Aris Warsidin, yang menegaskan bahwa pelibatan generasi muda merupakan kunci menjaga tradisi keagamaan dan semangat kebangsaan agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Karakter Bangsa

Camat Kertek Indra menekankan pentingnya meneladani perjuangan KH Ahmad Rifa’i dalam membangun karakter bangsa yang religius dan berintegritas.

“Semangat KH Ahmad Rifa’i adalah semangat perjuangan yang berakar dari iman dan kecintaan pada tanah air. Pemerintah sangat mengapresiasi masyarakat Dalangan yang mampu menjaga nilai-nilai religius sekaligus memperkuat kebersamaan di tengah era modern,” ujarnya.

Hadir dalam acara tersebut H Kholik Idris, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Fraksi Partai Demokrat sekaligus tokoh masyarakat asal Dalangan Purwojati Kertek Wonosobo. Kholik menyampaikan rasa bangga atas semangat warga Dalangan yang kompak menjaga tradisi keagamaan.

Hadir pula dalam kesempatan tersebut Mugi Sugeng (Wakil Ketua DPRD Wonosobo), Chamdan, Safik Anang Hidayullah dan Taat Zulkarnain selaku anggota DPRD Kabupaten Wonosobo.

“Pengajian Akbar ini menunjukkan bahwa masyarakat Dalangan memiliki semangat religius dan kebangsaan yang kuat. KH Ahmad Rifa’i adalah sosok yang patut diteladani, ulama yang berilmu, berani dan berjuang tanpa pamrih demi kebenaran,” katanya.

Dalam tausiyahnya, Gus Fahmi menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya meneladani perjuangan KH Ahmad Rifa’i dalam konteks kekinian.

Menurutnya, perjuangan sang ulama bukan hanya melawan penjajahan fisik, tetapi juga melawan “penjajahan moral” dan krisis akhlak yang kini melanda masyarakat.

“KH Ahmad Rifa’i tidak hanya berjuang dengan pedang dan kata-kata, tetapi juga dengan karya dan keteladanan. Beliau menulis kitab agar umat Islam tidak kehilangan arah, agar kita bisa berpikir jernih, beramal benar dan berakhlak mulia,” ujar Gus Fahmi.

Guru Bangsa

blank
Sejumlah warga ketika mengingat pengajian akbar di Dalangan Purwojati Kertek Wonosobo. Foto : SB/dok Pemuda Dalangan

Dia juga mengingatkan bahwa generasi muda harus menjadi penerus perjuangan tersebut dengan menjaga integritas, menolak kemungkaran dan menegakkan nilai keadilan dalam kehidupan sehari-hari.

“Meneladani KH Ahmad Rifa’i bukan hanya mengenangnya, tapi meniru keberaniannya untuk berkata benar di tengah kebatilan. Itulah makna sejati dari semangat kepahlawanan,” tegasnya.

KH Ahmad Rifa’i lahir di Tempuran, Kendal, pada tahun 1786. Setelah menimba ilmu di Mekah dan Mesir, beliau dikenal sebagai ulama reformis yang gigih menegakkan ajaran Islam.

Melalui puluhan karya berbahasa Jawa dengan tulisan Arab Pegon, beliau menanamkan semangat tauhid, akhlak dan keadilan sosial.

Sikap tegasnya terhadap penindasan membuat beliau diasingkan ke Ambon pada tahun 1859 kemudian diasingkan ke Minahasa hingga wafat pada tahun 1870.

Atas jasa dan perjuangannya, pemerintah RI menetapkan KH Ahmad Rifa’i sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2004.

Pengajian Akbar di Dalangan menjadi momentum penting bagi masyarakat Wonosobo untuk memperkuat ukhuwah dan kesadaran spiritual.

Melalui kegiatan ini, nilai-nilai perjuangan Kiai Ahmad Rifa’i terus dihidupkan sebagai inspirasi moral dalam kehidupan berbangsa dan beragama.

“Semoga semangat perjuangan dan keteguhan beliau menjadi teladan bagi kita semua untuk terus berbuat baik, menegakkan kebenaran, dan memperkokoh persatuan,” tutupnya.

Muharno Zarka