blank

 

blank
Oleh: Hartono Sri Danan Djoyo

SUARABARU.ID  : “Apa itu ribut-ribut Whoosh; saya yang tanggung jawab.”
Kalimat itu terlontar enteng, namun mengguncang ruang kesadaran publik. Dalam satu helaan tutur, kuasa menegaskan diri sebagai pemilik kebenaran, sekaligus pemutus segala perdebatan. Di negeri yang katanya demokratis, ucapan demikian terasa seperti tamparan (tidak halus) bagi akal sehat: rakyat disuruh diam, bukan diajak berpikir.
Di titik inilah kita belajar bahwa kekuasaan bukan hanya diuji oleh kebijakan, melainkan juga oleh cara bicara. Karena, tutur kata seorang pemimpin menjadi etalase moral kekuasaannya. Ketika tutur berubah menjadi bentakan, maka di sanalah demokrasi kehilangan denyutnya.

Laju tanpa Nurani
Whoosh, oleh penguasa (sebelumnya), nama yang dirancang untuk membangkitkan kebanggaan nasional, kini justru menyisakan laksa ironi. Ia memang melaju cepat, tetapi meninggalkan banyak jejak ganjil di belakangnya. Di antara gemuruh rel dan kilau logam, tersembunyi tumpukan tanya yang belum dijawab, untuk siapa sebenarnya proyek ini dibangun?
Rakyat kecil tidak pernah benar-benar diajak bicara. Mereka hanya menjadi penonton dari proyek raksasa yang membakar dana, menyisakan utang, dan memindahkan beban pada pundak publik. Di balik slogan kemandirian, terselip ketergantungan yang semakin dalam. Di balik wajah kemajuan, tersembunyi ambisi yang ingin dicatat lebih besar dari rasionalitas. Belum lagi, Whoosh menyisakan bau anyir korupsi yang tak luntur oleh bilasan kata-kata berbunga penguasa penggagasnya.
Namun yang paling menyesakkan bukanlah semata karena tumpukan masalahnya yang membuncah, melainkan cara kekuasaan yang sekarang menanggapi persoalan. Alih-alih membuka ruang klarifikasi, suara rakyat justru diredam dengan pernyataan pongah: “saya yang tanggung jawab.” Kalimat yang tampak gagah di permukaan, namun di dalamnya terkandung aroma kesewenangan moral, seolah kata “saya tanggung jawab” bisa mengusir beban yang menghadang (rakyat) 60 tahun kedepan.

Ketika Tutur Menjadi Tirani
Tirani tidak selalu lahir dari kekerasan fisik; kadang ia tumbuh dari tutur yang menafsirkan kebenaran hanya dari mulut penguasa. Tirani tutur adalah bentuk kekuasaan yang menindas tanpa perlu kekerasan: cukup dengan nada, dengan intonasi yang menutup kemungkinan dialog.

Ketika seorang pemimpin merasa bahwa “tanggung jawab” cukup ditegaskan dengan suara keras, maka yang runtuh sesungguhnya bukan hanya wibawa, melainkan juga kepekaan pengucapnya. Dalam demokrasi, tanggung jawab tidak diukur dari keberanian menepuk dada, tetapi dari kerendahan hati untuk mendengar. Kita sering lupa bahwa bahasa politik bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga alat pembentukan kesadaran publik. Ketika bahasa itu dipakai untuk menundukkan, bukan menjelaskan, maka rakyat diperlakukan sebagai objek, bukan subjek.

Dari sinilah muncul jarak antara rakyat dan kekuasaan. Rakyat berbicara dengan penderitaan, pemimpin menjawab dengan kebanggaan. Rakyat menghitung harga beras, pemimpin menghitung panjang rel. Dalam jarak tutur itulah demokrasi perlahan kehilangan makna.

Bahasa yang Membusungkan Dada

Banyak yang beranggapan bahwa ketegasan adalah tanda kepemimpinan. Bisa jadi benar, namun ketegasan tanpa nurani hanyalah kesombongan yang dibungkus retorika. Kata-kata “apa itu ribut-ribut Whoosh” bukan sekadar refleksi temperamen, tapi cermin dari cara pandang yang menempatkan kritik sebagai gangguan, bukan masukan.

Proyek sebesar Whoosh seharusnya menjadi ruang belajar bersama: bagaimana negara membangun dengan akal, bukan dengan gengsi. Namun ketika tutur pemimpin sudah berubah menjadi benteng, maka kebenaran akan kesulitan menembusnya. Rakyat tidak anti terhadap kemajuan; mereka hanya ingin memastikan bahwa kemajuan itu berpihak pada kehidupan mereka. Bahwa laju Whoosh tidak 60 tahun meninggalkan mereka di stasiun derita karena anyir korupsi.

Barangkali inilah saatnya kita meninjau kembali hubungan antara tutur dan nurani. Tutur tanpa nurani menjadi gema kekuasaan, sementara nurani tanpa tutur hanyalah sunyi yang tak bermakna. Pemimpin yang bijak bukan yang paling sering berbicara, melainkan yang paling tekun mendengar. Ia sadar bahwa kata-katanya bukan hukum, melainkan janji yang harus diuji oleh realitas rakyat yang dirasakan rakyat.

Tirani tutur hanya bisa dilawan dengan kerendahan tutur. Negara akan selamat bila pemimpinnya tidak terjebak dalam keyakinan bahwa kebenaran lahir dari resonansi suara (keras) nya sendiri. Kita boleh bangga dengan kereta cepat, tetapi kebanggaan sejati bukan pada kecepatannya, melainkan pada arah yang ia tuju. Bila ia melaju meninggalkan nurani, maka yang tiba di ujung rel bukanlah kemajuan, melainkan kesombongan kolektif.

Jika jujur diakui, Whoosh bukan simbol zaman (Indonesia). Ia tak lebih sebagai gerbong tanpa ruh yang dirancang cepat sampai tujuan dan tak pernah peduli “mengapa berangkat”. Bila tutur kuasa tak lagi mengenal batas, maka sejarah akan mencatat: bangsa ini pernah punya pemimpin yang kuat suaranya, tapi lemah pendengaranya..