WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Tanah longsor, mendominasi jenis musibah bencana yang terjadi di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Selama periode Januari-Oktober 2025, telah terjadi bencana tanah longsor sebanyak 70 kali. Jumlah ini, mencapai 51.47 persen dari total kejadian bencana di Kabupaten Wonogiri selama 10 bulan terakhir ini.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama, semalam, menyatakan, selama kurun waktu Januari-Oktober 2025, telah terjadi sebanyak 136 kejadian bencana. Terdiri atas tanah longsor sebanyak 70 kali, angin kencang (puting beliung) 39 kali, erosi 11 kali, banjir 5 kali, kebakaran lahan 6 kali, tanah ambles 3 kali dan tanah retak sebanyak 2 kali.
Dari serangkaian bencana tersebut, telah menimbulkan korban meninggal 1 orang karena kebakaran lahan dan 1 orang lagi karena tersambar petir. Total kerusakan yang ditimbulkan bernilai Rp 2,897 miliar lebih, dan nilai kerugian materi sebanyak Rp 314,301 juta.
Mencermati data tersebut, bencana yang berkaitan dengan hidrometereologi masuk dalam kategori yang mendominasi. Yakni sebanyak 131 dari 136 kejadian, atau mencapai 96,32 persen. Untuk bencana hidrometeorologi tercatat hanya sebanyak 6 kejadian, yakni bencana kebakaran lahan.
Berkaitan dengan hal tersebut dan dalam menyambut datangnya musim penghujan yang saat ini sudah mulai terjadi, Kapolres Wonogiri AKBP Wahyu Sulistyo menekankan, ada lima hal penting untuk pegangan dalam kesiapsiagaan tanggap darurat bencana hidrometeorologi.
Kelima hal penting itu yang ditekankan Kapolres, terdiri atas: Pertama, perkuat kerja sama lintas instansi dalam upaya mitigasi dan kesiapsiagaan. Kedua, dekati masyarakat secara humanis, ajak mereka aktif berperan dalam penanggulangan bencana. Ketiga, kenali kondisi medan agar penanganan di lapangan berjalan aman dan efektif.
Penyelamatan
Keempat, pedomani SOP (Standard Operating Procedure) agar setiap langkah terarah dan tidak menimbulkan korban tambahan. Kelima, cepat berkoordinasi dan laporkan setiap kejadian bencana, agar langkah penyelamatan bisa dilakukan segera.
Kasi Humas Polres AKP Anom Prabowo, menyatakan, penegasan Kapolres itu disampaikan saat berlangsung apel kesiapan tanggap darurat bencana hidrometeorologi Tahun 2025. Apel lintas sektoral tersebut, digelar di halaman Mapolres Wonogiri, diikuti jajaran kepolisian, TNI, Satpol-PP, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), para relawan siaga bencana, personel fire fighter Pemadam Kebakaran (Damkar), bersama aparat dari sejumlah instansi terkait.
Ikut hadir dalam apel, Wakil Bupati Imron Rizkyarno, Dandim 0728 Letkol Inf Edi Ristriyono bersama unsur Forkopimda, Kepala BPBD Fuad Wahyu Pratama, Kepala Satpol-PP Joko Susilo dan Pimpinan dari dinas instansi terkait.
Apel kesiapsiagaan tanggap darurat bencana hidrometeorologi Tahun 2025 ini, digelar sebagai bentuk kesiapan menghadapi potensi bencana alam di musim hujan. Ikut hadir dalam apel tersebut, Wakil Bupati Imron Rizkyarno, Dadim Letkol Inf Edi Ristriyono bersama jajaran Forkopimda dan Kepala BPBD Fuad Wahyu Pratama.
Dalam amanatnya, Kapolres Wonogiri AKBP Wahyu Sulistyo menegaskan, apel digelar untuk memastikan kesiapan semua pihak dalam menghadapi musim hujan. “Penanggulangan bencana bukan hanya tugas BPBD, Polri, atau TNI. Ini tanggung jawab kita bersama. Kuncinya ada pada sinergi, kesiapsiagaan, dan koordinasi,” tegas Kapolres.
Kapolres menekankan pentingnya pendekatan preventif kepada masyarakat. Juga perlu melakukan edukasi kepada masyarakat, agar lebih siap dan paham saat terjadi bencana, sehingga dapat melakukan langkah antisipasi. Kapolres menyampaikan apresiasi kepada para relawan dan petugas lapangan, yang telah bekerja tanpa pamrih.(Bambang Pur)













