PACITAN (SUARABARU.ID) – Davina Aulia Saputri dari Kecamatan Pringkuku, berhasil meraih gelar Juara I lomba panata adicara pengantin tingkat Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Sebagai juara yang bertengger di peringkat paling atas, Davina, memiliki nilai tertinggi yakni sebanyak 746.
Juara II dan III masing-masing diraih oleh Ardan Maulana Adinata dan Alvina Khusnul Khoir, keduanya dari SMK Negeri 1 Donorojo, Kabupaten Pacitan. Keduanya memiliki nilai 740 dan 737. Untuk Juara Harapan 1, 2 dan 3, masing-masing dimenangi oleh Uyun Aqila Bima Antarez (Kecamatan Donorojo) dengan nilai 723, Devi Indi Astuti (Kecamatan Punung) dengan nilai 719, dan Alya Kumalasari (SMA Negeri 1 Pacitan) dengan nilai 718.
Dewan juri yang melakukan penilaian adalah trio Budayawan Jawa, terdiri atas Raden (R) Paryoko Harry Susilo, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Pramono Dwija Dipuro dan Darmuji. Semalam, R Parjoko Harry Susilo, menyatakan, penetapan juara telah dituangkan dalam Surat Keputusan (SK) Dewan Juri Nomor: 003/KPTS/KT.PACITAN/X/2025, yang ditandatangani di Pacitan pada Tanggal 28 Oktober 2025 oleh Ketua Sekar Kridha Utama, Bambang Pidera.
Lomba panata adicara pengantin ini digelar ini digelar oleh Karang Taruna bersama Dewan Pengurus Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Pacitan. Pelaksanaan lomba Tahun 2025 ini, merupakan yang Ke-4 kalinya. Tujuannya, untuk nguri-uri (melestarikan) budaya Jawa, utamanya di bidang keprotokolan atau MC.
MC adalah singkatan dari Master of Ceremony. Secara harfiah, berarti pemandu acara dan keprotokolan pada sebuah gelaran atau event. Yakni personel yang secara resmi bertugas menata dan mengatur tata urutan acara. Jadi, MC keprotokolan berarti seorang pembawa acara yang tugasnya memandu acara resmi, agar berjalan sesuai dengan aturan dan tata tertib yang berlaku.
Lomba panata adicara temanten ini, mengusung tema Adon Kawasisan Panata Adicara. Yakni lomba adu pandai sebagai pambiwara (protokol) upacara pengantin Jawa. ini merupakan upaya nyata Pemkab Pacitan, untuk memberikan dorongan kepada generasi muda, agar aktif melestarikan kearifan lokal. Ini sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda.
Finalis
Grand final lomba bergengsi ini, diikuti sebanyak 15 orang finalis. Mereka tampil adu kemahiran dalam membawakan acara adat pernikahan, dengan bahasa dan tata krama Jawa. Lomba ini, sekaligus upaya melestarikan tradisi di tengah arus modernisasi, agar bertahan di tengah kemajuan zaman.
Ketua DPRD Kabupaten Pacitan, Arif Setia Budi, dalam sambutannya mengatakan, kemampuan berkomunikasi memang perlu diasah. Sebagai puncaknya, kemudian dilombakan seperti ini, akan menjadi kunci kesuksesan dalam melahirkan budayawan Jawa yang eksistensinya akan berperan di masa depan.
Menurut Arif Setia Budi, delapan puluh persen kesuksesan seseorang, ditentukan oleh kemampuan berkomunikasi. Lomba ini, dinilai sangat bagus untuk melatih generasi muda Pacitan, agar berani tampil dan pandai berkomunikasi.
Arif sebagai legislator Partai Demokrat ini, menambahkan, peran seorang panata adicara (pembawa acara) tidak hanya sebatas berbicara. Tapi juga harus memahami tentang kepemimpinan dan manajemen diri. Budaya seperti ini, harus terus dikembangkan agar tidak tergerus oleh kemajuan zaman.
Ketua Karang Taruna Kabupaten Pacitan, Mulyadi, menyebutkan, lomba ini sebagai bukti nyata adanya semangat dari generasi muda, dalam ikut menjaga warisan leluhur. ”Generasi muda Pacitan memiliki semangat luar biasa, dalam melestarikan budaya lokal,” tandas Mulyadi.
Gelaran lomba panata adicara ini, sekaligus menjadi ajang silaturahmi, dan wadah untuk membangun karakter serta kepribadian yang unggul bagi kaum muda.(Bambang Pur)













