blank
Muh Khamdan menyampaikan materi secara daring dari ruang widyaiswara Badiklat Hukum Jateng (23/10/25)

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Di hadapan para Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Radio Republik Indonesia (RRI), Dr. Muh Khamdan, Widyaiswara Badiklat Hukum Jawa Tengah, Kementerian Hukum, menyampaikan bahwa Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang ASN bukan sekadar pembaruan regulasi, melainkan gerakan besar menuju transformasi birokrasi yang tangguh dan berkelas dunia. Dalam sesi Pelatihan Dasar (Latsar) yang berlangsung sejak Rabu (22/10), ia mengurai arah baru birokrasi berbasis talenta dan pengembangan kompetensi terintegrasi.

Khamdan menegaskan bahwa ASN masa kini harus menjadi bagian dari ekosistem birokrasi yang agile, lincah merespons perubahan, dan berorientasi hasil. “Transformasi ASN berarti menempatkan talenta terbaik bangsa dalam sistem manajemen talenta yang transparan, adil, dan berbasis kompetensi,” ujarnya. Menurutnya, manajemen ASN yang unggul tidak hanya diukur dari kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap tantangan baru, termasuk digitalisasi, krisis global, dan kebutuhan masyarakat yang terus berubah.

Sebanyak 10 peserta CPNS dari berbagai satuan kerja RRI, mulai dari Banda Aceh, Sibolga, Tanjungpinang, Bandar Lampung, Madiun, Ambon hingga RRI Pusat, mendapatkan pembekalan tentang pentingnya siklus manajemen ASN 6P. Siklus manajemen dari perencanaan, perekrutan, pengembangan, penilaian, promosi, dan purnabakti ASN. Khamdan menyebut enam tahapan itu sebagai “sumbu peradaban birokrasi baru” yang akan menentukan arah masa depan ASN Indonesia.

blank
Layar pembelajaran daring Latsar RRI.

Ia juga mengaitkan transformasi ini dengan peta jalan pengembangan ASN nasional, yaitu Smart ASN 2024, Robust ASN 2030, dan Competitive ASN 2045. “Ketiganya menggambarkan evolusi birokrasi kita. Dari cerdas dan responsif, menuju tangguh, lalu berdaya saing global,” kata Khamdan. Ia menekankan bahwa perjalanan itu memerlukan ASN yang tidak hanya loyal, tetapi juga tech savvy, inovatif, dan berjiwa pembelajar.

Dalam sesi reflektif, Sarah Triandini dari RRI Banda Aceh mengungkapkan pandangannya tentang arah transformasi birokrasi tersebut. Ia sepakat bahwa masa depan ASN harus ditopang oleh semangat agile dan fleksibilitas. “Birokrasi yang kaku sudah tidak relevan lagi. Kita butuh ASN yang adaptif, tech savvy, dan eco friendly. Itulah wujud robust ASN yang siap menghadapi tantangan zaman,” ujarnya dengan penuh optimisme.

Sementara itu, Samsul Hidayatulloh dari RRI Madiun menegaskan bahwa transformasi tidak akan berhasil tanpa kesadaran diri sebagai pembelajar. “Saya percaya bahwa ASN harus menjadi learning person agar mampu menciptakan learning organization. Dengan budaya belajar, kita bisa mempercepat lahirnya budaya kerja kreatif dan kolaboratif,” tuturnya. Menurutnya, semangat ini selaras dengan cita-cita membentuk birokrasi yang berbasis pengetahuan dan inovasi berkelanjutan.

Dari RRI Pusat, Shelly Apriyanti menambahkan bahwa arah transformasi ASN juga harus menguatkan birokrasi digital. Ia mencontohkan bagaimana RRI tengah mengembangkan platform radio streaming digital dan berbagai lini usaha kreatif. “Digitalisasi bukan hanya alat, tetapi budaya baru birokrasi. Kita dituntut inovatif, adaptif, dan kolaboratif agar tetap relevan di era disrupsi,” ujarnya. Shelly percaya bahwa kolaborasi lintas sektor dan penguasaan teknologi menjadi kunci agar ASN tidak tertinggal dari perubahan zaman.

Khamdan pun merespons pandangan para peserta dengan penegasan bahwa semua gagasan itu sejalan dengan delapan karakteristik ASN SMART, mencakup integritas, profesionalisme, nasionalisme, wawasan global, jejaring, penguasaan IT dan bahasa asing, keramahan, serta kewirausahaan. “ASN masa depan harus berkarakter smart, bukan hanya pintar di atas kertas, tetapi juga bijak, kreatif, dan punya daya saing,” katanya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa investasi terbaik birokrasi bukan terletak pada infrastruktur atau sistem, melainkan pada manusia yang menggerakkannya. ASN yang kompeten dan berintegritas adalah modal utama menuju birokrasi kelas dunia. “Kita sedang membangun birokrasi corporate university, di mana setiap pegawai menjadi pembelajar sepanjang hayat,” ujarnya menutup sesi dengan penuh refleksi.

Pelatihan yang diwarnai semangat pembaruan ini menjadi simbol bahwa reformasi birokrasi kini memasuki babak baru. Dari birokrasi administratif menuju birokrasi pembelajar. Di tangan ASN yang adaptif, reflektif, dan kolaboratif, masa depan pelayanan publik Indonesia tampak lebih cerah dan bermartabat.

Hadepe