SEMARANG (SUARABARU.ID)– Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Semarang (USM), memberikan pelatihan jurnalistik kepada sukarelawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang.
Kegiatan bertema ‘Pelatihan Jurnalistik Berbasis Komunikasi Risiko dan Ramah Gender’ itu, berlangsung di Markas PMI, Jalan Mgr Soegijopranoto, Semarang, Kamis (16/10/2025).
Ketua Tim PKM USM, Dr Sri Syamsiyah LS MSi mengatakan, kegiatan pelatihan itu bertujuan untuk memberikan tambahan wawasan pada sukarelawan, akan pentingnya publikasi informasi kegiatan-kegiatan kemanusiaan.
BACA JUGA: Universiti Malaya Malaysia dan USM Jalin Kerja Sama
”Melalui publikasi di media, masyarakat akan mendapatkan banyak informasi. Selain itu juga, untuk mendidik masyarakat tentang tugas-tugas kemanusiaan,” kata dia.
Syamsiyah kemudian menjelaskan berbagai bentuk publikasi di media. Di antaranya nilai berita, unsur-unsur berita dan berbagai hal terkait pemberitaan di media.
Materi juga diberikan tim PKM lainnya, Kharisma Ayu Febriana MIKom, Dr Yuliyanto Budi S MSi, Hilda Rahmah MA, dan Yoma Bagus Pamungkas MIKom.
BACA JUGA: Tim Victorieux Juara I Pop It Up K-Pop Dance Competition 2025 di USM
Kharisma Ayu memaparkan materi ‘Teori Komunikasi Risiko dan Peran Relawan PMI’, Yuliyanto Budi (Komunikasi Ramah Gender kepada Korban Konflik dan Bencana), dan Hilda Rahmah (Ayo Membuat Konten Sosial Media).
Sebelumnya, Ketua PMI Kota Semarang, Dr dr Awal Prasetyo MKes SpTHT-KL MM (ARS) menyampaikan berbagai kegiatan yang telah dilakukan. Di antaranya, Humanity for Healthier Lifestyle, yang merupakan program untuk lebih menekankan pada gaya hidup yang sehat.
Dalam kegiatan itu, selain pemaparan materi, para sukarelawan juga berlatih untuk praktik menulis berita kegiatan, yang berlangsung hari itu.
BACA JUGA: FH USM Gelar Seminar Nasional Hadirkan Tiga Narasumber Kompeten
Sementara itu, Kharisma Ayu memaparkan pentingnya sukarelawan memahami komunikasi risiko, dalam melakukan semua kegiatannya. Jenis komunikasi risiko ini terkait dengan pertukaran pesan, seperti ancaman, ketidakpastian, dan tindakan yang direkomendasikan dalam kegiatan-kegiatan kebencanaan.
”Kadangkala masyarakat enggan untuk dievakuasi, meskipun saat itu sedang terjadi bencana. karena itu perlu ada komunikasi yang baik,” katanya.
Sedangkan Yulianto Budi menekankan perlunya perempuan untuk ikut dilibatkan, dalam proses pengambilan kebijakan tentang kebencanaan. Hal ini dikarenakan, perempuan yang merupakan kelompok rentan, memiliki kebutuhan yang berbeda.
Pada bagian lain, Hilda Rahmah memaparkan materi tentang bagaimana membuat konten di media sosial. ”Konten di medsos perlu konsisten, kreatif, adaptasi tren dan jangan takut mencoba,” pesannya.
Riyan













