blank
Wisudawan Ilmu Pemerintahan Fisip Undip, Muhammad Khoiri. Foto: Dok Undip

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Muhammad Khoiri, adalah sosok yang layak menjadi inspirasi anak-anak muda saat ini. Gagal masuk perguruan tinggi, bekerja jadi buruh pabrik mebel, menabung dan kembali mendaftar, dan diterima di UNDIP lewat jalur UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer).

Dengan ketekunannya dia lulus Ilmu Pemerintahan FISIP UNDIP, predikat cumlaude dengan IPK IPK 3,94.

Perjalanan hidupnya yang penuh liku mengajarkan arti kesabaran, ketekunan, keberanian dan integritas, sekaligus menegaskan bahwa prestasi sejati tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi berkontribusi nyata kepada masyarakat dan kewirausahaan.

“Saya belajar sabar dan tekun. Tahun berikutnya, saya diterima di UNDIP lewat jalur UTBK, pilihan pertama saya,” kenangnya.

Pengalaman gap year itu menjadi titik balik yang membentuk mental juangnya. Selama 4 tahun 9 bulan masa studi, Khoiri membagi waktu antara kuliah, organisasi, kompetisi, dan pekerjaan. Ia pernah menjadi buruh mebel, operasional rental event, hingga asisten riset.

“Saya percaya kemenangan lahir dari persiapan. Setiap prestasi adalah tanggung jawab, bukan sekadar euforia,” ujarnya. Ia memimpin lima organisasi lintas daerah dan kampus, aktif di BEM UNDIP dan Himpunan Mahasiswa, serta konsisten menorehkan prestasi nasional.

Prestasinya membentang di berbagai bidang diantaranya juara esai ilmiah, public speaking, hingga Duta Tenun Troso. Ia juga menjadi Juara 1 Lomba Podcast RISTEK UNNES dan Islamic Public Speaking INSANI UNDIP.

Di tengah keterbatasan finansial, ia menjadikan lomba dan karya sebagai jalan pembuktian diri. “Kalau hanya kuliah tanpa prestasi, apa yang bisa saya banggakan?” ujarnya.

Kini, setelah menyandang gelar sarjana, Khoiri memilih jalur fleksibel sebagai freelancer data analis dan asisten riset. Di kampung halaman, ia merintis usaha makanan ringan dan bisnis fashion bersama teman-temannya. Ia tidak hanya menciptakan peluang kerja untuk dirinya, tetapi juga membuka pintu ekonomi lokal.

“Bagi saya, bekerja bukan hanya soal gaji, tapi ruang untuk tumbuh dan berkontribusi. Saya ingin membawa semangat UNDIP ke masyarakat dengan ilmu yang saya pelajari harus bisa dirasakan manfaatnya,” ucapnya.

Semangatnya sejalan dengan tujuan dari SDGs poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Khoiri tidak hanya meningkatkan keterampilan dan kemampuan lewat pendidikan, tetapi juga menunjukkan kewirausahaan dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan.

Menurutnya, UNDIP bukan sekadar kampus, tetapi kawah candradimuka. Ia percaya bahwa ilmu harus diiringi aksi, dan prestasi harus berdampak. Bermartabat berarti menjaga integritas, bermanfaat berarti mengembalikan ilmu ke masyarakat, dan berdampak berarti karya yang dirasakan luas.

“Di sini saya ditempa bukan hanya akademik, tetapi juga kepemimpinan, mental juang, dan jejaring,” katanya.

Khoiri juga menekankan pentingnya mahasiswa untuk selalu aktif di tiga hal yaitu publikasi ilmiah, kolaborasi internasional, dan inovasi nyata untuk masyarakat. Ia ingin mewariskan semangat tahan banting kepada adik-adik mahasiswa untuk jangan takut kalah, karena dari kekalahan lahir kemenangan yang lebih besar.

“Kalau tiap mahasiswa berani berkarya dan menembus forum global, maka visi World Class University bukan sekadar jargon, melainkan kenyataan,” tegasnya.

Khoiri menutup perbincangan dengan refleksi sederhana namun bermakna. “Setiap langkah saya ingin membuat nama UNDIP harum, tidak hanya di kampus, tapi juga di tengah masyarakat yang merasakan manfaatnya. Di situlah makna sejati UNDIP Bermartabat dan UNDIP Bermanfaat.”

Muhammad Khoiri sebagai cerminan wisudawan yang menginspirasi tidak hanya mengejar gelar, melainkan makna berkontribusi nyata sejalan dengan semangat Dikti Saintek Berdampak.

Dari ruang pabrik hingga podium prestasi, Khoiri berhasil membuktikan bahwa integritas, kerja keras, dan keberanian untuk mencoba dapat mengubah arah hidup. UNDIP sekali lagi mencetak lulusan yang bukan hanya berdaya saing global, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat.

Hery Priyono