
“Para siswa dari Loyola yang datang ke sini, banyak meminta konfirmasi tentang peristiwa pertempuran lima hari di Semarang. Sebelumnya, tampaknya, mereka sudah membaca atau mendengar kisah tentang peristiwa ini,” ujarnya.
Kesit pun menjelaskan item per item arsip koran maupun foto-foto tentang pertempuran lima hari di semarang itu. “Kami ingin, mereka yang hadir di sini menemukan sumber resmi tentang peristiwa itu. Mereka yang selama ini hanya mendapatkan cerita-cerita dari orang, bisa mengonfirmasi kejadiannya lewat sumber-sumber yang ada di sini,” ujar Kesit.
Yang menarik juga, kata Kesit, siswa SMA Karangturi yang ingin membuat cerita fiksi berbasis peristiwa bersejarah ini. “Setelah mereka menonton pameran dan mendapatkan penjelasan, ada yang tertarik untuk membuat karya sastra berbasis kejadian ini,” ujar Kesit.
Foto dari David Soltau
Kesit menuturkan, foto-foto yang terekam dalam pertempuran lima hari di Semarang, semuanya karya orang asing. Satu di antaranya Adalah Kapten David Soltau, seorang dokter berkebangsaan Belanda, yang bertugas di RAPWI (Relief Administration Prisoners of War and Internee) yang menangani interniran Eropa yang ada di kamp-kam di Semarang).
Dalam tugasnya, David juga memotret banyak sekali peristiwa, terutama di kamp-kamp penampungan interniran seperti di Bangkong, Lamper, Halmahera. Dalam pameran ini bisa dilihat foto-fot karya David, yang menggambarkan para Perempuan Eropa bersama anak-anak gadisnya memasak dan berkegiatan.
Yang juga menarik, anak-anak SMA Karangturi dan SMA Kolese Loyola merasa muncul kedekatan psikologis dengan menonton pameran ini.

“Mereka banyak yang kaget, bahwa ternyata sekolah SMP mereka seperti SMP Yohanes di Karangpanas dan SMP Domenico Savio di dekat Tugu Muda dulu merupakan kamp interniran,” ujar Kesit.
Bahkan, ada seorang guru SMA Kolese Loyola yang dulu neneknya bertukar bahan makanan dengan para interniran di kamp daerah Jalan Halmahera.
Ditanya sudah berapa banyak orang yang mengunjungi pameran ini, Kesit menuturkan, sampai hari kedua, Jumat 10 Oktober 2025 sudah tercatat lebih dari 300 orang.
“Kami masih banyak kegiatan terkait even ini, ada diskusi, pentas musik, dan yang lain. Kami berharap pameran ini bisa membuka hal baru, mengonfirmasi kejadian yang selama ini hanya lewat cerita bisa terkonfirmasi dengan data arsip dan foto yang kami pamerkan,” kata Kesit.
R. Widiyartono













