WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Pasar Kota Wonogiri, yang dikenal sebagai pasar tradisional terbesar dan termegah di Provinsi Jawa Tengah, Senin dinihari tadi (6/10/25) musnah terbakar. Amukan jago merah, dilaporkan terjadi mulai Pukul 03.00 dinihari. Api diketahui mulai berkobar dari lantai 2 sisi barat.
Belum diketahui pasti penyebab kebakaran. Tapi sejumlah pedagang menyebutkan, api kebakaran diduga dari korsleting listrik. Api cepat berkobar, karena komoditas yang dijajakan di lantai 2 merupakan jenis dagangan yang mudah terbakar. Yakni terdiri atas berbagai komoditas kebutuhan sehari-hari termasuk minyak goreng, aneka ragam perkakas rumah tangga, perlengkapan dapur, aneka busana dan sebagian kios dipakai untuk warung makan minum. Dari kobaran api kebakaran, sesekali terdengar ada suara ledakan.
Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Wonogiri (Perdasari) Honru Suryanto yang mendapat khabar kebakaran, langsung menuju lokasi. Dia menyatakan, kiosnya yang berada di lantai dua musnah terbakar bersama kios dan los milik para pedagang lainnya. ”Habis total,” ujar Honru. Sehari-hari Ny Honru berjualan aneka kebutuhan pokok di lantai dua.
Tokoh pedagang Pasar Wonogiri Kota, Mukhlas, yang juga menjabat sebagai Pelindung Perdasari, menyatakan, api berkobar dari sisi barat laut lantai dua. Tapi karena tak mampu untuk segera dipadamkan, akhirnya meluas ke sisi selatan dan merembet ke semua kios dan los di lantai dua. Api kemudian merembet ke lantai satu dan lantai tiga.
Kata Mukhlas, memang mobil pemadam kebakaran (Damkar) Wonogiri segera tiba di lokasi, tapi karena api terlanjur berkobar, menjadi tidak mampu untuk segera dipadamkan. Akibatnya, api meluas ke mana-mana.
Para pedagang yang mendapatkan informasi kebakaran pasar, segera berdatangan untuk melakukan tindakan darurat penyelamatan dagangannya. ”Yang bisa diselematkan, segeralah diangkut ke luar,” seru pedagang di sisi timur. Tapi sejumlah pedagang ada yang diingatkan untuk tidak mendekat api, karena dapat membahayakan.
Korban Luka
Reza bersama istrinya, bergegas menyelamatkan dagangan milik ibunya yang berjualan aneka sepatu dan sandal di lantai satu. ”Alhamdulillah, sebagai besar dagangan dapat kami selamatkan,” tutur Reza.

Bupati Wonogiri Setyo Sukarno dan Anggota DPRD Wonogiri Dwi Prasetyo, begitu mendapatkan khabar Pasar Kota Wonogiri terbakar, langsung mendatangi ke lokasi. Bupati Setyo dan Legislator Dwi Prasetyo, menyatakan prihatin atas musibah kebakaran pasar tersebut.
Kepala Satpol PP Wonogiri, Joko Susilo, melalui Koordinator Lapangan Damkar Wonogiri Sriyanto Kembo, menyatakan, telah meminta bantuan Damkar se Solo Raya. Yakni dari Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Karanganyar dan Kabupaten Sragen. ”Total kami menurunkan sebanyak 12 unit mobil brandweer, termasuk dari Markas Induk Damkar Wonogiri dan dari Poswil di Baturetno serta bantuan dari Damkar se Solo Raya. Semua kami kerahkan ke Pasar Kota Wonogiri,” tegas Sriyanto Kembo.
Dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri, ikut memberikan bantuan mobil tangki air untuk mensuplai air ke mobil brandweer. Jajaran Polres Wonogiri turun ke lokasi melakukan bantuan pengamanan dan menolong para bakul yang menyelamatkan dagangannya, dan mengatur arus lalu lintas di ruas jalan protokol depan pasar.
Dalam tindakan pemadaman, seorang personel Fire Fighter dari Markas Induk Wonogiri, Alfi, mengalami luka-luka cedera di bagian kaki. Ini terjadi, saat melakukan tugas pemadaman, mendadak terjatuh. ”Petugas yang cedera langsung diangkut ke RSUD Wonogiri untuk pengobatan,” jelas Sriyanto Kembo.
Pasar Kota Wonogiri diresmikan Gubernur Jateng Mardiyanto pada Tanggal 14 Oktober 2003. Dibangun dengan konstruksi tiga lantai di era kepemimpinan Bupati Begug Poernomosidi, yakini Bupati Wonogiri yang menjabat dua periode (2000-2010).
Keberadaannya menjadi pasar tradisional terbesar dan termegah di Provinsi Jawa Tengah. Sebagai pasar tradisional, Pasar Kota Wonogiri menjadi tempat transaksi jual beli dengan jumlah pedagang sebanyak 1.362 bakul.(Bambang Pur)













