blank
Ilustrasi rokok ketengan. Foto: Dok/Pixabay

Data menunjukkan, semakin muda seseorang mulai merokok, semakin sulit ia berhenti. Dampaknya akan menjadi risiko penyakit kronis di usia produktif, penurunan daya pikir, dan beban ekonomi pada negara. Satu generasi yang sakit-sakitan akan menjadi beban sistem kesehatan, memperlambat kemajuan, dan mengancam daya saing bangsa di panggung global.

Tanggung jawab menyelamatkan generasi muda dari rokok tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah atau keluarga. Ini adalah tugas kolektif kita semua. Pemerintah harus bertindak tegas dengan melarang penjualan rokok ketengan dan menegakkan sanksi bagi pelanggar, khususnya warung-warung di sekitar sekolah. Sekolah perlu menjadi tempat aman, bukan hanya dari kekerasan, tetapi juga dari pengaruh zat adiktif.

Pendidikan atau edukasi bahaya rokok harus dikemas dengan cara kreatif, relevan, dan berbasis empati. Orang tua dan guru wajib menjadi teladan. Tidak cukup hanya melarang, tapi harus hadir sebagai pendengar dan pemberi arah saat anak-anak mencari jati diri serta menjadi teladan bagi generasi muda.

Masyarakat pun harus ikut menjaga lingkungan. Menegur penjual rokok ketengan kepada anak-anak bukan hanya hak, tapi tanggung jawab moral kita sebagai warga negara. Remaja sendiri juga perlu diberi ruang untuk menyalurkan energi mereka, bisa melalui seni, olahraga, kewirausahaan, atau kegiatan sosial. Mereka butuh panggung untuk merasa bermakna, bukan pelarian semu melalui rokok.

Generasi emas tidak lahir dari paru-paru yang gelap oleh nikotin, tetapi dari visi yang bersih, semangat yang menyala, dan tubuh yang sehat. Kita tidak boleh membiarkan mimpi besar Indonesia kandas karena abainya kita hari ini.

Rokok ketengan memang kecil bentuknya, tapi dampaknya besar dan mematikan. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena gagal bertindak sekarang. Jika kita ingin Indonesia hebat di masa depan, maka hari ini kita harus berani berkata, cukup sudah rokok merampas masa depan anak-anak kita

Ning S