KEBUMEN (SUARABARU.ID) – Sastrawan Jawa sekaligus pengajar Bahasa Daerah di Kebumen Eko Wahyudi menyatakan, generasi Z (Gen Z) semakin sulit memahami karya sasta Jawa karena masyarakat tidak lagi menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa Ibu.
Akibatnya Gen Z dan anak-anak muda sekarang umumnya tidak mendapatkan asupan diksi dan nilai-nilai Jawa.
Hal itu diungkapkan Eko Wahyudi yang juga penulis geguritan pada Diskusi Sastra Jawa bertajuk Geguritan; Kearifan Lokal yang Terlupakan, di Pendopo Kabumian, Minggu (24/8) malam.
Seorang peserta mengaku bahwa Bahasa Jawa dengan beragam kasta bahasa dinilai menyulitkan generasi Z untuk mempelajari, mencintai, dan sekaligus melestarikannya.
Diskusi Sastra Jawa yang diinisiasi Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Kebumen ini merupakan rangkaian Kebumen Fest 2025.

Hadir sebagai pemantik diskusi Sat Siswonirmolo, mantan Ketua DKD 2021-2025 yang juga pengamat sastra geguritan. serta Eko Wahyudi, penulis geguritan di berbagai media massa yang juga guru SMPN 1 Karangsambung.
Dalam paparannya, Ki Pekik, nama panggung Sat Siswonirmolo menyatakan, geguritan memiliki keunikan sebagai karya sastra. Keunikan tersebut dapat ditemukan dari susunan kata dan nilai-nilai luhur yang dapat dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Eko Wahyudi menyatakan, seni dan hiburan dalam karya sastra bisa saja ditemukan jika generasi Z mau memasukinya dengan jiwa, rasa, dan memahami nilai-nilai di kehidupan masyarakat Jawa itu sendiri.
Bahkan para leluhur Jawa memberikan wejangan dengan beragam pitutur luhur. Hiburan bukan semata-mata lelucon atau komedian. Lebih dari itu adalah hati dan jiwa bisa merasakan kedamaian dan pencerahan setelah memahami karya sastra.
Menurut Eko, geguritan yang mulanya berupa syair atau tembang menggunakan kaidah yang mengikat. Yaitu guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan. Pakem penulisan itu tidak bisa diubah.
“Geguritan yang dihasilkan lebih dominan berorientasi untuk memberikan pujian kepada penguasa. Bahkan nama penulisnya juga masih disembunyikan atau anonim,”terang Eko.
Eko menambahkan, geguritan lahir untuk melepaskan ikatan tersebut. Penulis gurit berusaha membebaskan dari jerat kaidah yang ada. Hingga hari ini, geguritan terus ditulis dengan beragam kreativitas para pengarangnya.
Di sela kegiatan tersebut Eko Wahyudi juga membacakan karyanya berjudul Lathi. Tata ukara kang rinacik mesthine ora ngemu karep licik/Mula digladhi nganggo ati/Aja nganti diasah nganggo glathi.
Gurit yang ditulis Eko pada awal 2017 itu menggambarkan keadaan masyarakat Indonesia yang gemar berceloteh, berujar, bahkan menghujat atas ketidaknormalan hidup yang dihadapi. Kebebasan tanpa batas tersebut, papar Eko, boleh jadi mengandung bahaya. Melalui guritan Lathi diaharapkan setiap pribadi bisa mengendalikan diri.
Terkait kesulitan generasi Z memahami dan menggunakan bahasa Jawa, Eko menilai disebabkan oleh masyarakat yang tidak menjadikan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu. sehingga mereka tidak mendapatkan asupan diksi dan nilai-nilai Jawa.
Eko justru menolak pernyataan tentang mempelajari bahasa dan sastra Jawa adalah kuno. Sebab penggurit Jawa Tengah – Suripan Sadi Hutomo, bisa menikmati Jawa dalam berbagai dinamikanya.
Di Kebumen ada nama besar sastrawan Jawa Turiyo Ragilputra dari Desa Kaibon Ambal yang juga guru SD pencapaian prestasi hingga ke tingkat nasional. Ironi, bagi warga Jawa yang memiliki bahasa dan aksara Jawa, jika kelak harus belajar ke negara-negara manca. Sebab hari ini sudah banyak warga negara lain yang belajar bahasa dan budaya Jawa.
Eko mengakui, melalui sastra geguritan tidak menyurutkan nilai pribadi menjadi kuno. Justru sebaliknya, bisa diterima di berbagai forum Jawa yang lebih luas. Misalnya, mengenal banyak penulis sastra Jawa dan terlibat dalam forum-forum diskusi sastra Jawa tingkat nasional.
Komper Wardopo













