blank
Di Pendapa Kecamatan Giritontro, Kabupaten Wonogiri, wayangan Lakon Wahyu Katentreman akan dimerihkan Bintang Tamu Yeyen Samantha bersama Campursari Bayu Musik. Panitia menyediakan doorprize untuk penonton.(Dok.Ist)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Bagian Prokopim Pemkab Wonogiri, mengabarkan, Lakon Wahyu Katentreman, akan dipentaskan serentak dalam pagelaran wayang kulit di 25 kecamatan se Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Pentas wayang kulit spektakuler ini, akan disajikan Sabtu malam nanti (23/8/25) sampai dengan Minggu dinihari (24/8/25) besok.

ide Wayangan Tujuhbelasan serentak di 25 kecamatan se Kabupaten Wonogiri ini, datang dari Bupati Wonogiri Setyo Sukarno. Disebut sebagai wayang Tujuhbelasan, karena pakeliran wayang kulit semalam suntuk di seluruh kecamatan se Kabupaten Wonogiri ini, disajikan untuk memeriahkan peringatan genap 10 windu Kemerdekaan Indonesia atau HUT Ke-80 Republik Indonesia (RI) Tahun 2025.

Ketua Persatuan Dalang Indonesia (Pepadi) Kabupaten Wonogiri, Eko Sunarsono SSn, menyatakan, masing-masing kecamatan dimainkan oleh sedikitnya dua dalang. Khusus untuk Kecamatan Ngadirojo dimainkan oleh 5 dalang. Terdiri atas Ki Sujar Kresna Widiyanto, Danur Probo Kusumo, Fauzi Ramadhani, Anjat Sutrisno dan Paimin GS. Di Kecamatan Baturetno akan dimainkan 4 dalang, terdiri atas Ki Sudomo Redi Wiyoto SSn, Ki Egi Cahyo Widhi Asmoro, Ki Tulus Budiman dn Ki Agis Japa.

Tiga kecamatan lainnya masing-masing dimainkan 3 dalang. Yakni Kecamatan Wonogiri Kota, Kecamatan Pracimantoro dan Kecamatan Purwantoro. Di Kecamatan Wonogiri Kota akan tampil trio dalang terdiri atas Ki Bimo Cahyo Kuncoro, Ki Rehan Irawan dan Ki Sahrul Oktavian Ramadan. Tiga dalang yang akan tampil di Kecamatan Pracimantoro, salah satunya adalah Anjali Bintang Kusuma yang pernah meraih juara pertama lomba dalang tingkat nasional Tahun 2024. Di Kecamatan Purwantoro, tiga dalang yang akan tampil terdiri atas Ari Purbo, Surya Araya Bima dan Nareswara Praba.

Sementara itu wayangan nanti malam di Pendapa Kecamatan Giritontro menampilkan duet dalang Ki Alifian Nur Rohmad SSn dan Ki Bambang Indri SSn. Dimeriahkan dengan parade tumpeng dan hadirnya Bintang Tamu Yeyen Samantha dan Kesenian Campursari dari Bayu Musik. Panitia menyediakan doorprize menarik untuk penonton. Berbicara doorprize, Di Kecamatan Slogohimo, disediakan hadiah utama sebuah sepeda motor dan sejumlah perabotan elektronik.

Dalang muda Ki Alifian, dikenal mahir memainkan sabet anak wayang dalam gerak atraktif. Sebagai dalang yang menguasai sabet atau gerak tokoh wayang, Ki Alif sering memunculkan empat tokoh wayang Gendar Menjalin sekaligus, dengan mendemonstrasikan aneka gerak yang menakjubkan, Termasuk adegan joget wayang dalam atraksi susun.

Warisan Dunia

Pentas wayang kulit serentak di 25 kecamatan se Kabupaten Wonogiri ini, sekaligus untuk nguri-uri (melestarikan) kesenian wayang. Untuk diketahui, wayang kulit telah menjadi warisan dunia yang diakui sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau mahakarya warisan kemanusiaan untuk lisan dan non-bendawi. Pengakuan ini diberikan oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003.

Wonogiri, merupakan kabupaten satu-satunya di Indonesia yang memiliki Museum Wayang Nasional. Lokasinya di Kecamatan Wuryantoro (sekitar 20 Kilometer arah barat daya Ibukota Kabupaten Wonogiri. Museum ini, diresmikan oleh Presiden RI Ke-5 Megawati Soekarnoputri. Setiap tahun, Kabupaten Wonogiri secara rutin menggelar lomba karawitan pelajar dan lomba dalang anak serta lomba dalang remaja.

”Semua dalang yang tampil dalam pagelaran wayang serentak tujuhbelasan kali ini, seluruhnya merupakan dalang muda. Kami tidak menghadirkan dalang dari luar, semuanya dalang Wonogiri,” tandas Eko Sunarsono yang juga mantan Kabid Kebudayaan Dikbud Kabupaten Wonogiri.

Lakon Wahyu Katentreman, menceritakan tentang Semar Bodronoyo berusaha mengatasi pagebluk (wabah) yang melanda Desa Karang Kadempel. Semar, menugaskan para putra Pandawa untuk mencari tiga pusaka yang menjadi syarat mendapatkan wahyu tersebut, untuk memperoleh kekuatan spiritual guna membebaskan dari pagebluk. Tiga pusaka itu, terdiri atas Senjata Cakra milik Prabu Kresna, Jimat Kalimasada milik Prabu Puntadewa dan Kiai Nenggala milik Prabu Baladewa.

Lakon ini, membawa pesan moral, tentang pentingnya kebijaksanaan, ketenangan batin dan pengendalian diri dalam mencapai kedamaian, baik secara individu maupun sosial. Ini relevan dengan kondisi masyarakat sekarang, yang sering dihadapkan pada informasi hoax yang mudah memprovokasi. Tampilnya Ki Semar Bodronoyo yang bijaksana, mampu menenangkan kawula (masyarakat) untuk tidak mudah percaya pada isu yang belum jelas kebenarannya yang dapat mengacaukan.(Bambang Pur)