WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) 17 Agustus 1945, merupakan mukjizat dari Tuhan Yang Maha Esa. Proklamasi Kemerdekaan RI, terwujud hanya dalam waktu 58 detik, tanpa didukung dengan teknologi militer.
Demikian diungkapkan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Drs KH Yudian Wahyudi MA, PhD, Jumat (22/8/25), saat memberikan sambutan pada acara penguatan Relawan Gerakan Kebajikan kepada kelompok masyarakat. Acara ini digelar di Pondok Pesantren Al Huda, Bulusulur, Kecamatan Wonogiri Kota, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
”Bagaimana didukung teknologi militer, karena Indonesia baru memiliki Angkatan Perang pada Tanggal 5 Oktober 1945,” tandas Prof Yudian. Pada hal selama 430 tahun dijajah oleh bangsa lain, selalu kalah perang karena tidak memiliki tekonologi militer.
Kalau kemudian mampu membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), itupun juga merupakan mukjizat. Sulit dibayangkan sebanyak 78 kerajaan di Nusantara, begitu mudah menyerahkan kedaulatannya masing-masing demi menyatu untuk membentuk NKRI. Kata Pro Yudian, tidak ada kejadian di dunia ini sebagaimana yang terjadi di Nusantara. Yakni raja-raja bersedia menyerahkan kedaulatannya demi terwujudnya Republik Indonesia.
Mukjizat lain yang dimiliki Indonesia adalah Sumpah Pemuda, Lagu Kebangsaan Indonesia dan Pancasila 1 Juni 1945. Sebagai ideologi bangsa, Pancasila menjadi perekat bangsa yang terdiri atas berbagai kerajaan, beragam suku dan ras. ”Indonesia merupakan negeri yang senantiasa diridhoi Tuhan, negeri yang menjadi tempat terkabulnya doa,” tandas Prof Yudian.
Bandingkan dengan Amerika, Kemerdekaan Negara Adi Kuasa itu, diperoleh dengan cara memisahkan dari induknya. Sebagai bagian dari Koloni Inggris, kemerdekaan Amerika diproleh dengan pertolongan Belanda, Perancis dan Spanyol.
Over Capacity
Kedatangannya Prof Yudian di Ponpes Al Huda bersama Anggota Komisi-13 DPR-RI Drs Hamid Noor Yasin MM disambut dengan kalungan bunga oleh Pimpinan Ponpes Al Huda, Adi Suwito. Seluruh hadirin, mengawali acara ini dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya tiga stanza yang dipimpin Dirigen Ustadzah Resti Fatimah Sukasih. Kemudian dirangkai dengan sajian Tari Saman oleh para santri dan pemanjatan doa yang dipandu Ustadz Adi Suwito SPdI. Acara ini dirangkai dengan upacara peletakan batu pertama pembangunan asrama santri untuk pelayanan boarding school.
Ketua Deputi Antar Lembaga Bidang Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP Dr Ir Prakoso MM dalam laporannya, menyatakan, kegiatan penguatan relawan gerakan kebajikan Pancasila ini, diikuti 515 orang santri. Ikut hadir memberikan sambutan, Bupati Wonogiri Setyo Sukarno.
Juga hadir Ketua Lembaga Kajian Pancasila UNS Sebelas Maret Surakarta Prof Dr Leo Agung S MPd, Direktur Sosialisasi dan Komunikasi BPIP Prof Dr H Agus Mohammad Najib SAg, MAg bersama para tokoh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Wonogiri, yakni Sutikno, Ahmad Zarif dan Anis Haryanto.
Anggota Komisi-13 DPR-RI Hamid Noor Yasin, dalam sambutannya menyatakan prihatin dengan kondisi over capacity Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Indonesia. Seperti di Lapas Kerobokan, Bali, mislanya, yang berkapasitas 800 orang, tapi dihuni oleh sebanyak 3.000 warga binaan. ”Ini menjadi PR bagi BPIP, karena tidak ada lagi Lapas di Indonesia yang longgar. Ironisnya, para penghuninya mayoritas usia muda yang terlibat penyalahgunaan narkoba, jumlahnya mencapai 70 persen,” jelas Hamid.
Kata Hamid, para korban narkoba itu merupakan generasi muda bangsa. Bila ini tidak secepatnya mendapatkan penanganan, cita-cita Indonesia Emas di Tahun 2045 sulit diwujudkan. ”Salah-salah bukan Indonesia Emas tapi Indonesia Cemas,” tegas Hamid.
Menjawab pertanyaan wartawan, Kepala BPIP Prof Yudian, menyatakan, dengan kewenangan yang terbatas, institusinya telah mensosialisasikan Pancasila dan membuat perpustakaan di sejumlag Lapas. Juga menjalin kerjasamadengan 17 Pondok Pesantren (Ponpes) untuk melakukan terobosan bersama Lapas. Yakni melakukan pembinaan dan pembekalan kepada para warga binaan, agar kelak sehabis masa hukumannya berakhir, dapat kembali ke masyarakat dengan perilaku baik.
Besok, tambah Prof Yudian, kami akan ke Tebu Ireng Jombang. Sebelumnya telah ke Entikong, ke Morotai, ke Nias. Juga memberikan bantuan pompa air sekaligus mensosialisasikan Pancasila ke Gunungkidul, Pacitan, Tasikmalaya dan ke Singaparna, Kemudian memberikan bantuan sumur pantek ke Balikpapan, agar petani mampu meningkatkan produksi tanaman pangan. Berikut melakukan sosialisasi Pancasila melalui budaya wayang di Yogyakarta. Rencananya, BPIP akan mensosialisasikan Pancasila bersama para guru MTs di Bandung.(Bambang Pur)













