KEBUMEN (SUARABARU.ID) – Sehari menjelang perayaan Hari Jadi ke-396 Kabupaten Kebumen 21/8, jajaran Pemerintah Daerah dipimpin oleh Bupati Lilis Nuryani berziarah ke makam para pemimpin terdahulu, Rabu (20/8).
Kunjungan para pejabat teras Kebumen ke makam leluhur pendiri daerah ini merupakan bentuk penghormatan dan mengenang jasa-jasa para pemimpin pendahulu yang telah membangun fondasi daerah sejak masa lalu hingga kini.
Ziarah dihadiri oleh Ketua DPRD Kebumen Saman, Wakil Bupati Zaeni Miftah, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), di antaranya Kapolres AKBP Eka Baasith Syamsuri, Dandim 0709 Letkol Arm Purba Sudibyo, serta para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Rombongan mengawali ziarah di makam Ki Ageng Bodronolo di Desa Karangkembang, Kecamatan Alian, dan dilanjutkan ke makam leluhur lainnya, seperti Tumenggung Kolopaking di Desa Kalijirek Kebumen, serta Makam Arungbinang, dan Pangeran Bumidirdjo di Kecamatan Kutowinangun.

Di makam Ki Ageng Bodronolo, Bupati Lilis Nuryani dan rombongan disambut hangat oleh Forkopimcam Alian dan Pemerintah Desa Karangkembang. Mereka kemudian memanjatkan doa bersama yang dipimpin juru kunci makam, dilanjutkan tradisi tabur bunga.
“Alhamdulillah, hari ini kami bisa berziarah ke makam para pendahulu kita. Ini adalah momen untuk mendoakan dan mengenang jasa-jasa mereka yang telah berjuang untuk Kebumen,”kata Bupati Lilis Nuryani.
Berdasarkan catatan sejarah, Ki Ageng Bodronolo merupakan sosok tokoh lokal yang memegang peran vital dalam cikal bakal Kabupaten Kebumen. Ia dikenal sebagai Bupati pertama Panjer (nama lama Kebumen) yang dilantik pada 21 Agustus 1629 M.
Sebagai orang kepercayaan Sultan Agung Mataram, Ki Ageng Bodronolo memiliki peran strategis dalam membantu persiapan logistik bagi pasukan Mataram saat menyerang VOC di Batavia.
Nama Desa Karangkembang sesuai folkore sejarah memiliki kaitan erat dengan kisah Ki Ageng Bodronolo.Setelah masa jabatannya berakhir, Ki Ageng Bodronolo memilih untuk menjalani kehidupan sebagai pertapa di Gunung Geong.
Di sana, ia membersihkan hutan (babat alas) yang terdapat banyak pohon kolang-kaling. Setelah ditebang, dari sisa-sisa pohon itu justru tumbuh tanaman bunga atau kembang dalam bahasa Jawa.
Berangkat dari peristiwa tersebut Ki Ageng Bodronolo kemudian menamai daerah tersebut Karangkembang, yang berarti tempat di mana bunga-bunga tumbuh dari lahan yang baru dibuka.
Komper Wardopo













