KUDUS (SUARABARU.ID) – Bulan Safar 1447 H sudah memasuki pekan terakhir. Salah satu hari yang mendapat perhatian masyarakat adalah Rabu Wekasan atau Rabu terakhir di bulan Safar. Tahun ini, Rabu Wekasan bertepatan pada 20 Agustus 2025.
Sebagian umat Islam terutama di wilayah Jawa meyakini hari tersebut sebagai waktu turunnya bala atau bencana. Karena itu, muncul berbagai tradisi tolak bala yang dilaksanakan masyarakat, termasuk di Kabupaten Kudus.
Amalan Rabu Wekasan
Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, KH M. Djamaluddin Ahmad, dalam kitab Al-Risalah Al-Badi’ah halaman 83 menuliskan amalan khusus pada Rabu Wekasan.
Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa para ahli makrifat dan mukasyafah menyatakan, setiap tahun Allah menurunkan 320.000 bencana yang jatuh pada Rabu terakhir bulan Safar. Hal ini juga tercantum dalam kitab Kanzun Najah was-Surur fi Fadhail al-Azminah wash-Shuhur karya Abdul Hamid Quds.
Amalan yang dianjurkan adalah melaksanakan shalat 4 rakaat dengan niat shalat mutlak, kemudian membaca:
Al-Fatihah (1x)
Al-Kautsar (17x)
Al-Ikhlas (5x)
Al-Falaq (1x)
An-Naas (1x)
Setelah salam, dianjurkan membaca doa khusus memohon perlindungan dari segala musibah.
Tradisi Rabu Wekasan di Kudus
Di Kudus, tradisi Rabu Wekasan secara khusus dilaksanakan di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo. Berpusat di Masjid Wali Desa Jepang, puncak perayaan ditandai dengan pembagian Air Salamun.
Air Salamun diambil dari sumur Masjid Wali Al-Ma’mur, yang diyakini peninggalan Sunan Kudus pada masa dakwah Islam. Sebelum dibagikan, air tersebut terlebih dahulu didoakan agar membawa keberkahan dan menjadi penolak bala.
Tradisi pembagian Air Salamun sudah berlangsung sejak masa Sayid Ndoro Ali Al-Idrus, seorang tokoh penyebar Islam di Desa Jepang sekitar awal 1900-an. Hingga kini, ritual tersebut tetap dilestarikan dan menjadi daya tarik spiritual serta budaya masyarakat Kudus.
Ali Bustomi













