Oleh: Made Dwi Adnjani

KELUARGA di Indonesia saat ini sedang bergerak di tengah lanskap sosial yang berubah cepat. Banyak rumah, percakapan keluarga sering kalah cepat dari dering notifikasi gawai. Dalam ruang-ruang keluarga Indonesia hari ini, percakapan tak lagi selalu berlangsung di ruang tamu atau meja makan.
Sebagian besar percakapan pindah ke grup WhatsApp keluarga, pesan singkat di sela kerja, atau komentar pendek di media sosial. Meja makan yang dulu menjadi ruang berbagi cerita kini kadang berubah menjadi “rest area” bagi ponsel.
Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2024 menunjukkan 221,6 juta orang atau 79,5% penduduk Indonesia sudah terkoneksi internet. Angka ini mencerminkan besarnya ruang digital yang kini menjadi bagian dari interaksi keluarga. Namun, kemudahan berkomunikasi lewat gawai tidak otomatis mampu memperkuat hubungan.
Di tengah gempuran tantangan seperti naik turunnya ekonomi, risiko perceraian yang masih tinggi, hingga kekerasan dalam rumah tangga seperti catatan tahunan Komnas Perempuan yang menunjukkan pada tahun 2024 mencapai 330.097, hal ini memperlihatkan bahwa beban relasi masih nyata di ruang domestik.
Potret keluarga Indonesia memang menunjukkan dua wajah. Di satu sisi, kita melihat kemajuan dengan adanya penurunan angka stunting menjadi 19,8% sebagai kabar baik, begitu juga dengan meningkatnya penetrasi internet yang mencapai hampir 80% penduduk.
Namun di sisi lain, data BKKBN melalui Indeks Pembangunan Keluarga (iBangga) menempatkan kondisi keluarga Indonesia berada di skor “cukup baik (berkembang)”. Ini pertanda bahwa masih ada ruang besar untuk perbaikan, terutama melalui penguatan komunikasi di tingkat rumah tangga. Singkatnya, ekosistem keluarga Indonesia sedang “sehat-rapuh”: memiliki modal sosial dan digital yang besar, namun tertekan oleh tantangan struktural dan kultural.
Mengapa Komunikasi Keluarga Menjadi Penentu Ketahanan?
Ketahanan keluarga (family resilience) bukan sekedar bertahan di tengah krisis, tetapi kemampuan beradaptasi, memaknai ulang situasi, dan tumbuh pasca guncangan. Ketahanan keluarga tidak akan tercapai hanya lewat kebijakan negara atau materi yang cukup.
Ketahanan lahir dari cara keluarga membangun hubungan dan menyelesaikan masalah sehari-hari. Di sinilah komunikasi keluarga menjadi kuncinya.
Penelitian menunjukkan bahwa keluarga yang rutin berbicara terbuka dan mendengar aktif cenderung lebih mampu menghadapi krisis. Komunikasi yang sehat tidak hanya bertukar informasi, tetapi juga berbagi makna, mengklarifikasi perasaan dan menegosiasikan perbedaan.
Saat orang tua mau mendengar pendapat anak, mereka menanam benih keterbukaan yang memudahkan anak jujur ketika menghadapi masalah. Sebaliknya, rumah yang orang tuanya hanya memerintah tanpa dialog seringkali melahirkan kepatuhan semu: anak tampak patuh di permukaan, tetapi menyembunyikan masalah yang berpotensi meledak di kemudian hari.
Pola interaksi pasangan juga menentukan ketahanan keluarga. Konflik adalah hal wajar, tetapi tanpa keterampilan mengelola emosi, perbedaan kecil bisa menjadi jurang besar. Menggunakan kalimat “saya merasa…….”, alih-alih “kamu selalu……”, yang cenderung menyalahkan adalah contoh sederhana yang bisa menurunkan tensi pertengkaran. Begitu pula membiasakan “time-out” saat emosi memuncak, lalu kembali berdiskusi setelah semua pihak tenang juga bisa menjadi alternatif untuk mencegah konflik bereskalasi ke arah yang merusak hubungan.
Bayangkan keluarga sebagai jaring laba-laba. Setiap benang adalah hubungan-orang tua dengan anak, pasangan suami-istri, saudara kandung. Tarikan atau getaran di satu sisi langsung terasa di sisi lain. Inilah gambaran sederhana Family System Theory dari Bowen yang melihat keluarga sebagai jaringan saling terkait. Kualitas hubungan akan menentukan daya tahan keseluruhan.













