SEMARANG (SUARABARU.ID)– Tim Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Semarang (Unnes), belum lama ini menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tajuk, ‘Pengenalan High Level Inquiry-Based Science Laboratory Berorientasi Keterampilan Proses’.
Kegiatan ini digelar dalam rangka mendukung peningkatan kompetensi pedagogi guru IPA Kota Semarang. Bertempat di SMP IT Bina Amal Semarang, sekitar 35 guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA Kota Semarang, hadir dalam acara ini.
Adapun tujuan utama kegiatan ini, untuk mengenalkan model pembelajaran laboratorium berbasis inkuiri tingkat tinggi (high level inquiry). Model pembelajaran itu menekankan penguatan keterampilan proses, dalam pembelajaran sains.
BACA JUGA: Komisi D DPRD Kudus Bantah Pemangkasan HKGS, Hanya Minta Data Verifikasi
Tim pelaksana kegiatan ini terdiri dari dosen dan mahasiswa FMIPA Unnes, yang diketuai Stephani Diah Pamelasari SS MHum. Sedangkan materi kegiatan disampaikan dua narasumber, Risa Dwita Hardianti SPd MPd, dan Muhammad Ahganiya Naufal SSi MSi. Keduanya membahas secara komprehensif konsep laboratorium inkuiri, serta integrasinya dalam pembelajaran IPA.
Anggota tim lainnya yang turut berperan aktif dalam pelaksanaan kegiatan ini, Prof Dr Sri Ngabekti MS, Luthfi Hanum Saputri SPd, Kaylha Salsabilla Nurazizah, Rifqi Ardiyansyah, dan Aditya Permana Putra. Seluruh tim memberikan pendampingan teknis, serta fasilitasi selama proses pelatihan berlangsung.
”Salah satu sesi inti dalam kegiatan ini, praktik laboratorium optika berbasis high level inquiry. Dalam sesi itu, para guru dibagi dalam beberapa kelompok, dan diberi kebebasan merancang serta melaksanakan eksperimen optika, sesuai dengan ide masing-masing kelompok, dengan menggunakan alat dan bahan yang telah disediakan panitia,” kata Stephani dalam keterangan tertulisnya.
BACA JUGA: Revitalisasi Semarang Zoo, Dewan Kota: Langkah Maju Konservasi dan Hiburan Kota

Menurut dia, pendekatan ini memberikan pengalaman langsung kepada peserta, mengenai bagaimana high level inquiry dapat diterapkan dalam pembelajaran sains di kelas. Para guru pun terlihat antusias dan kreatif dalam merancang percobaan. Mulai dari pembiasan cahaya, hingga pembentukan bayangan.
Dalam sesi refleksi, salah satu guru menyampaikan, pendekatan open-inquiry seperti yang telah dilakukannya itu, menantang tetapi menyenangkan. Hal itu karena, membutuhkan kemampuan berimprovisasi dalam merancang percobaan, dan rasa ingin tahu untuk mencoba berbagai kemungkinan lain.
Guru lain juga menambahkan, praktikum dengan pendekatan high level inquiry ini, dapat meningkatkan keterampilan laboratorium siswa.
Riyan













