WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri di bawah kepemimpinan Bupati Setyo Sukarno, akan menggelar wayangan Tujuhbelasan serentak di 25 kecamatan se Kabupaten Wonogiri. Ini akan menjadi momentum wisata budaya yang spektakuler, dan berpotensi untuk dicatatkan dalam pemecahan rekor ke MURI.
Disebut sebagai wayang Tujuhbelasan, karena pakeliran wayang kulit semalam suntuk di seluruh kecamatan di Kabupaten Wonogiri ini, disajikan untuk memeriahkan peringatan genap 10 windu Kemerdekaan Indonesia atau HUT Ke-80 Republik Indonesia (RI) Tahun 2025. Wayang kulit, warisan dunia yang diakui sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau mahakarya warisan kemanusiaan untuk lisan dan non-bendawi. Pengakuan ini diberikan oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003.
Bagian Prokopim Pemkab Wonogiri, menyatakan, wayang Tujuhbelasan semua akan mementaskan Lakon Wahyu Katentreman. Digelar serentak Sabtu malam Tanggal 23 Agustus 2025 mendatang, di masing-masing Pendapa Kantor Kecamatan. Dimainkan oleh para dalang lokal, dan tidak untuk dicatatkan ke rekor MURI.
Penetapan untuk menggunakan dalang lokal, disambut baik oleh Seniman Dalang Ki Sutopo. Dalang yang juga mahir menjadi pengrawit ini, tinggal di Banjarsari, Kota Surakarta dan merupakan mantan pejabat di Dinas Kebudayaan Pariwisata Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Wonogiri. ”Kabupaten Wonogiri banyak memiliki potensi dalang lokal yang layak ditampilkan,” ujar Ki Sutopo.
Penegasan sama, tentang memberdayakan dalang lokal untuk pementasan wayang Tujuhbelasan yang spektakuler tersebut, juga disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan (Dikbud) Wonogiri, Sriyanto, dan Kabid Kebudayaan Panggah Tri Asmara, serta Ketua Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia) Kabupaten Wonogiri, Ki Eko Sunarsono.
”Kabupaten Wonogiri memiliki kurang lebih 70 orang dalang,” tutur Ki Eko Sunarsono. Sebagai seniman dalang dan juga mahir jadi pengrawit, Ki Eko Sunarsono, menyatakan, dalam pagelaran wayang Tujuhbelasan nanti, akan mengutamakan para dalang muda. ”Setiap kecamatan, minimal menampilkan sedikitnya dua dalang untuk pentas bersama,” jelasnya. Diutamakan satu dalang dari kecamatan setempat, dan didukung dalang dari luar.
Ini, tandas Ki Eko, sebagai bentuk pelestarian budaya wayang kulit yang notabene sudah mendarah daging bagi masyarakat Wonogiri. Sekaligus memberikan tempat bagi para dalang muda untuk mengekspresikan kemahirannya. ”Kami para dalang sepuh, akan bersikap tut wuri handayani (mengikuti dari belakang),” ujarnya.
Tiga Pusaka
Dipilihnya lakon serentak Wahyu Kantentreman, ini sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan YME, agar masyarakat Kabupaten Wonogiri senantiasa mendapatkan anugerah kehidupan yang tenteram sejahtera, terjauhkan dari hal-hal yang negatif.
Dipilihnya dalang muda untuk tampil mendalang di event wayang Tujuhbelasan, sekaligus menjadi bagian pembinaan yang berkelanjutan. ”Setiap tahun Wonogiri selalu menyelenggarakan festival dalang anak, dalang remaja dan dalang muda. Sehingga perlu tempat untuk memberikan ruang kepada mereka untuk eksis,” jelas Ki Eko Sunarsono.
Lakon Wahyu Katentreman, menceritakan tentang Semar Bodronoyo berusaha mengatasi pagebluk (wabah) yang melanda Desa Karang Kadempel. Semar, menugaskan para putra Pandawa untuk mencari tiga pusaka yang menjadi syarat mendapatkan wahyu tersebut, untuk memperoleh kekuatan spiritual guna membebaskan dari pagebluk. Tiga pusaka itu, terdiri atas Senjata Cakra milik Prabu Kresna, Jimat Kalimasada milik Prabu Puntadewa dan Kiai Nenggala milik Prabu Baladewa.
Dalang akan menyajikan tentang betapa tidak mudahnya para putra Pandawa saat mencari ketiga pusaka tersebut. Misalnya, Gatutkaca harus berhadapan dengan Prabu Kresna. Ontoseno sempat dihajar oleh ayahnya (Werkudara), karena dianggap tidak sopan saat meminta Jimat Kalimasada.
Tapi semua rintangan dengan segala dinamikanya berhasil dilalui, dan Wahyu Katentreman akhirnya diperoleh. Masyarakat Karangkadempel pun terbebaskan dari pagebluk dan kembali menemukan kedamaian kesejahteraan. Lakon ini, membawa pesan moral, tentang pentingnya kebijaksanaan, ketenangan batin dan pengendalian diri dalam mencapai kedamaian, baik secara individu maupun sosial.
Lakon ini relevan dengan kondisi masyarakat sekarang, yang sering dihadapkan pada informasi hoax yang mudah memprovokasi. Tampilnya Ki Semar Bodronoyo yang bijaksana, mampu menenangkan kawula (masyarakat) untuk tidak mudah percaya pada isu yang belum jelas kebenarannya yang dapat mengacaukan.(Bambang Pur)













