blank
Foto bersama seminar bertajuk “International Trade in the Era of Global Trade Wars” secara daring. Foto: UKSW

“Data terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga April 2025 hanya mencapai 4,87%, sementara target nasional adalah 5,2%,” ungkap Profesor Yafet. Dalam konteks ini, ia menekankan pentingnya strategi diplomasi ekonomi Indonesia melalui percepatan implementasi Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), penguatan posisi dalam forum Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara, serta optimalisasi keunggulan komparatif Indonesia di sektor sumber daya alam.

Profesor Yafet menyoroti bahwa selain dampak negatif seperti inflasi dan menurunnya ekspor, perang dagang juga membuka peluang strategis, termasuk relokasi manufaktur dan dorongan inovasi teknologi di negara-negara berkembang. Oleh karena itu, diperlukan konsistensi dalam kebijakan fiskal dan moneter nasional yang mendukung daya saing industri serta keberlanjutan perdagangan luar negeri.

Seminar yang menjadi forum reflektif dan strategis ini turut menandai dukungan UKSW terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 pendidikan berkualitas, SDGs ke-17 kemitraan untuk mencapai tujuan, SDGs ke-8 pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, dan SDGs ke-16 perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh.

Seminar ini juga menjadi kontribusi UKSW terhadap program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Berdampak yang selaras dengan Asta Cita 2 memantapkan sistem pertahanan keamanan negeri, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau dan ekonomi biru, serta Asta Cita 4 memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, dan pendidikan.

Ning S