blank
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menyerahkan tanda terima kasih kepada para desainer yang menampilkan karyanya dalam peragaan busana. Foto: R. Widiyartono

Sementara itu, Ketua Panitia Novita Dwi Parastuti, ketika ditanya mengenai adanya kata eco luxury, yang berkaitan dengan masalah lingkungan dan keberlanjutan mengatakan, bahwa segala aktivitas sekarang memang prolingkungan.

“Tetapi selain kami memberikan perhatian pada lingkungan atau ekosiste, kami juga berpikir tentang keberlanjutan usaha. Kami menjaga bumi sekaligus menjaga ekonomi,” ujar Novita.

Menurut Novita, JFT 2025 juga menjadi momentum memperkuat ekosistem fashion berkelanjutan, dengan melibatkan pengrajin batik, penenun, dan pelaku wastra dari berbagai wilayah di Jawa Tengah. Kolaborasi dari hulu ke hilir akan menjadi kekuatan utama, sekaligus memperluas nilai ekonomi kreatif daerah.

R. Widiyartono