blank
Bersamaan dengan tugas jurnalistik ke Cina, Wartawan Bambang Pur menyempatkan mengunjungi Tembok Besar Tiongkok (Great Wall) atau Wanli Chagceheng, yakni bangunan monumental salah satu keajaiban dunia dan menjadi situs Warisan Dunia UNESCO, yang membentang lebih dari 21.000 Kilometer.(Dok.Bambang Pur)

SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Bediding (Bedhidhing) dalam bahasa Jawa artinya terasa dingin. Karena terjadi fenomena penurunan suhu udara yang signifikan, terlebih pada malam hingga dini hari pada siklus Mangsa Kasa sekarang ini.

Budayawan Jawa Peraih Bintang Budaya, Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, dalam Pranata Mangsa, siklus Mangsa Kasa berlangsung sejak Tanggal 23 Juni sampai Tanggal 2 Agustus. ”Ini bersamaan dengan datangnya siklus musim kemarau puncak,” jelas Pranoto yang Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta.

Dalam Buku Horoskop Jawa Misteri Pranata Mangsa, Karya Ki Hudoyo Doyodipuro Occ (Dahara Prize Semarang), Mangsa Kasa memiliki candra (sebutan) Sotya Murca Ing Embanan. Artinya, bagai batu permata yang terlepas dari cincin pengikatnya. Menjadi pertanda datangnya musim kemarau, ditandai daun-daun berguguran, pepohonan berangsur menjadi meranggas (kehilangan daun), tanah kehilangan air.

Mangsa Kasa memiliki rotasi selama 41 hari, dan dalam naungan Batara Antaboga dan Batari Nagagini. Antaboga adalah dewa yang kuat bertapa dan memiliki kesaktian dapat beralih rupa. Dalam Buku Ensiklopedi Wayang Indonesia yang disusun Tim Penulis Sena Wangi (PT Sakanindo Pratama, Jakarta 1999), Hyang Antaboga atau Hyang Nagasesa (Hyang Basuki), dikenal sebagai Dewa penguasa dasar bumi, beristana di Kahyangan Saptapratala (lapis ke tujuh dasar bumi). Memiliki Aji Kawastrawam yang membuatnya dapat menjelma menjadi apa saja.

Betari Nagagini (Dewi Antawati) adalah putri Hyang Antaboga-Dewi Supreti, yang diperistri Bimasena (Werkudara) dan memiliki putra bernama Antareja. Tapi Nagagini dan Antareja, tidak terdapat dalam Kitab Mahabarata, namun terkenal di jagad pakeliran Wayang Kulit.

Terlepas dari Pranata Mangsa dan Dewa yang menaunginya, Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG), mencatat suhu udara di wilayah Surakarta saat ini 22 derjat Celsius. Bahkan di Desa Setren Kecamatan Slogohimo (40 Kilometer arah timur Ibukota Kabupaten Wonogiri) tercatat 19 derajat, dengan kelembaban udara 94 persen. Angka derajat yang makin rendah, terjadi di wilayah Tawangmangu kaki Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Beijing

Fenomena bediding berkaitan dengan pergerakan angin dari arah timur (angin Muson Timur) yang berasal dari Australia, yang bersifat kering dan sedikit membawa uap air. Selain itu, kondisi langit yang cenderung bersih dari awan, menyebabkan panas radiasi dilepaskan ke atmosfer, membuat udara terasa lebih dingin.

Dalam konteks klimatologi, ini merupakan fenomena yang normal terjadi berkaitan dengan kondisi atmosfer. Istilah bediding berasal dari bahasa Jawa, yakni dari kata bedhidhing. Bediding artinya terasa dingin. Musim bediding (dingin) ini, biasa berlangsung pada musim kemarau puncak sampai Bulan September.

Pada siang hari, matahari terasa sangat terik, karena tidak ada awan di langit. Radiasi yang dipancarkan balik oleh permukaan bumi pada malam hari optimum. Ini membuat udara di dekat permukaan bumi terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari.

Cuaca yang kontras, terasa dingin pada malam hari dan panas di siang hari, dapat memudahkan orang jatuh sakit oleh dampak bediding. Karena itu, upaya menjaga kesehatan diri dengan dibarengi makan menu bergizi, menjadi solusi terbaik dalam menyikapi musim pancaroba yang kini tengah berlangsung.
Wartawan Bambang Pur yang punya pengalaman dua kali melakukan tugas jurnalistik ke Cina, pernah merasakan cuaca dingin di Kota Beijing. Yang saat datang malam hari, biasa mencapai nol (0) derajat, bahkan pernah minus. Ini membuat tidak nyaman bagi orang yang biasa hidup di iklim tropis. Sebab, di hari ketujuh pengaruh dinginnya cuaca Beijing, menjadikan bibir pecah-pecah.(Bambang Pur)