
“Karena harus menunggu konstruksi cor kuat, penggunaan kembali jembatan Pusung baru bisa dilakukan hari ini. Kami paham masyarakat sudah lama menunggu untuk bisa melewati jembatan itu seperti semula,” ujarnya.
Menurut Afif, saat perbaikan dikerjakan, masyarakat sempat bertanya-tanya, “Kapan, Pak, jembatan dibuka?” Bahkan sebelum dikerjakan pun banyak yang menanyakan, “Pak, pripun penanganan jembatan Pusung?”
“Karena ini memang jalur ini sangat vital bagi lalu lintas masyarakat. Anak-anak berangkat sekolah, karyawan atau ASN bekerja dan pedagang yang hendak ke pasar semuanya terdampak. Mereka harus memutar lewat jalur lain. Tentu ini menghabiskan waktu lebih lama,” tandasnya.
Sementara itu Kepala DPUPR, Nuruddin Ardiyanto menyampaikan, perbaikan Jembatan Pusung Sojokerto menggunakan Belanja Tak Terduga (BTT) Pemkab Wonosobo tahun 2025. Perbaikan jembatan tersebut menghabiskan anggaran Rp 800 juta.
“Jembatan Pusung ini awalnya dibangun tahun 1955 dan pernah diperbaiki pada tahun 1982. Tahun ini, dilakukan perbaikan total pada posisi yang terdampak. Dari fondasi bawah hingga bagian atas. Sedangkan rangka jembatan masih memanfaatkan struktur bangunan dari tahun 1982,” jelasnya.
Untuk sementara, lanjut dia, jembatan dibatasi hanya untuk kendaraan dengan muatan maksimal 4 ton. Jika pembatasan ini dipatuhi, diperkirakan struktur akan bertahan selama 10 tahun ke depan. Masyarakat dan pengguna jalan harus ikut merawat Jembatan Pusung agar bisa tahan lebih lama.
Muharno Zarka













