
Ketiganya diproyeksikan sebagai percontohan pengelolaan migrasi tenaga kerja yang legal, aman dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi desa.
Menurut Karding, Desa Migran Emas adalah bentuk gotong royong semua pihak, antara pemerintah, perangkat desa dan masyarakat dalam memberikan layanan pelindungan terhadap Pekerja Migran Indonesia (PMI).
“Layanannya mencakup penyediaan informasi, sosialisasi, literasi migrasi, pendampingan usaha, hingga edukasi agar tidak terjadi pemberangkatan secara ilegal,” ujarnya di depan para kepala desa dan masyarakat.
Karding menekankan pentingnya desa sebagai ujung tombak dalam pengelolaan migrasi pekerja secara terstruktur dari hulu ke hilir. Ketika dikelola dengan baik, migrasi bisa menjadi sumber devisa dan peningkatan ekonomi bagi desa.
Dia mencontohkan Desa Bumidaya di Lampung Selatan, ada sekitar 250 warganya bekerja secara legal di Taiwan, mengirim remitansi hingga Rp 500 juta per bulan. Ekosistem migrasi tersebut, kisah Karding, dikelola bersama antara kepala desa, perangkat desa, dan masyarakat, menjadikan desa itu mandiri secara ekonomi.
Disebutkan, remitansi yang masuk ke desa harus dikelola agar berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga dan pembangunan ekonomi lokal. “Kalau semua orang berangkat ke luar negeri secara legal dan berkualitas, maka desa akan menikmati hasilnya dalam jangka panjang,” lanjutnya.
Selain itu, Karding menegaskan, pentingnya regulasi dan komitmen dari seluruh pihak, termasuk perangkat desa dan pemerintah kabupaten, dalam memastikan tata kelola migrasi yang sesuai prosedur.
“Kita ingin semua yang berangkat ke luar negeri itu legal. Maka perlu kerja bersama, dari hulu di desa sampai hilir di negara tujuan. Di Wonosobo, Peraturan Desa sudahndisiapkan, bahkan sudah didukung Peraturan Daerah dari Bapak Bupati, ini wujud komitmen kita bersama,” tambahnya.
Karding menjelaskan bekerja di luar negeri tidak hanya soal penghasilan tinggi seperti profesi perawat di Jepang yang bisa menghasilkan Rp 15-25 juta per bulan. Namun juga soal peningkatan kapasitas SDM. PMI yang kembali ke tanah air membawa pengalaman, keterampilan dan budaya kerja yang positif.
“Mereka pulang bukan hanya membawa uang. Tetapi juga budaya hidup sehat, bersih, disiplin dan keterampilan yang bisa ditularkan ke lingkungan sekitar,” pungkasnya.
Muharno Zarka













