blank
Unggahan foto/video tentang Kota Lama Semarang di media sosial, nyaris semua tentang keindahan tak banyak bicara, misalnya sejarah. Foto: Tangkapan layar SB.ID

Media sosial seperti pisau bermata dua. Bisa digunakan untuk mengiris sayuran untuk dimasak, tetapi juga bisa untuk melukai. Dalam jagad pariwisata, media sosial sangat memberikan pengaruh besar. Orang bisa dengan gampang berbagi foto atau video saat mengunjungi sebuah destinasi. Kemudian ditambahi dengan komentar perasaan hatinya, seperti tematnya indah, udaranya sejuk, menyenangkan dan sebagainya.

Tetapi sangat mungkin pula, pengunjung yang kecewa kemudian mengunggah video atau fto dengan tambahan komentar yang melukiskan kekecewaan pada destinasi tersebut. Dan, inilah media sosial. Siapa saja bisa melakukan apa sesuai dengan keinginan hatinya.

Destinasi Jadi Objek Visual

Media sosial juga bisa mengubah pandangan atau pemikiran Masyarakat. Apalagi bila secara massif muncul. Misalnya saja keberadaan Kota Lama Semarang, sebagai peninggalan bersejarah. Kini, Instagram dan TikTok seakan telah menjadikan Kota Lama Semarang lebih mirip studio foto daripada ruang sejarah. Dibalut filter estetik dan caption hidden gem, kawasan ini tampak seperti lokasi ideal untuk konten digital.

Tapi, di balik visual yang menarik itu, adakah ruang untuk refleksi sejarah dan kesadaran sosial? Di era digital, pariwisata tak lagi dipasarkan lewat brosur dan paket perjalanan. Kini, konten media sosial menjadi ujung tombak promosi destinasi. Kota Semarang pun ikut dalam arus ini, menghadirkan wajah-wajah cantik wisata lokal ke layar gawai. Namun, narasi yang dibangun kerap berhenti pada permukaan: keindahan visual, bukan makna historis atau dampak sosial.

Cukup ketik Kota Lama Semarang di Instagram, ribuan foto akan muncul dengan komposisi sempurna, tone hangat, dan pose ikonik. Lawang Sewu pun mengalami hal yang sama. Bangunan bersejarah ini direduksi menjadi latar foto, bukan lagi ruang yang mengandung kisah kolonialisme dan perlawanan. Kita seolah olah  lupa bahwa ruang-ruang ini pernah menjadi saksi penderitaan, kisah-kisah kelam penindasan, bukan sekadar bingkai foto berfilter estetik.

Herbert Marcuse, filsuf dari Mazhab Frankfurt, pernah mengingatkan dalam bukunya One-Dimensional Man (1964), bahwa masyarakat modern cenderung menjadi manusia satu dimensi menerima apa yang tampak tanpa mempertanyakan makna di baliknya. Dalam konteks pariwisata digital, kritik ini terasa sangat relevan. Komunikasi yang seharusnya membawa nilai, kini hanya menyodorkan citra.

Estetika Saja Tidak Cukup

Di Semarang, lembaga pendidikan pariwisata baik di tingkat SMK maupun perguruan tinggi semakin gencar mengajarkan keterampilan digital antara lain membuat video promosi, desain media sosial, dan strategi pemasaran destinasi. Namun, tanpa fondasi berpikir kritis, mahasiswa hanya akan menjadi produsen konten satu dimensi.

Mereka adalah alat yang efektif untuk promosi visual, tetapi gagal menjadi agen perubahan yang mampu memahami dan mengatasi kompleksitas serta dampak sosial-ekonomi dari industri pariwisata.

Mahasiswa hanya melihat apa yang tampak  tanpa mempertanyakan makna di baliknya, bisa saja mahasiswa mampu menciptakan visual yang indah, tapi tak menyadari bagaimana pariwisata bisa menyebabkan gentrifikasi (proses perubahan sosial dan ekonomi di suatu kawasan akibat pengembangan pariwisata) eksploitasi budaya lokal, hingga ketimpangan ekonomi di kawasan wisata.

Para penyelenggara pendidikan pariwisata, mestinya harus berpikir ulang, dengan mengajarkan pertanyaan-pertanyaan mendasar: siapa yang diuntungkan dari promosi ini? Suara siapa yang tak terdengar? Apakah sejarah hanya akan menjadi dekorasi, bukan narasi?

Pariwisata bukan sekadar untuk menyenangkan orang, hadir merasakan dan menyaksikan keindahan sebuah destinasi. Mereka yang datang, semestinya memahami untuk apa mereka dan, dan mendapatkan apa setelah pulang. Mereka pulang tak sekadar membawa Kembali foto atau video, mungkin juga souvenir untuk kenangan. Tetapi, memahami tentang apa yang didatangi, kemudian menjadi inspirasi dan membuka pemikirannya. Menumbuhkan kesadaran baru.

Seperti halnya saat hadir di Kota Lama, bukan sekadar foto estetik yang jadi kenangan, tetapi bagaimana pengunjung sejarah bangsa ini pada masa lalu, dan apakah bangsa ini juga menghargai sejarah masa lalunya.

Membangun Kesadaran Dua Dimensi

Marcuse percaya bahwa perlawanan terhadap kesadaran satu dimensi harus dimulai dengan membangkitkan kembali kemampuan berpikir kritis. Kita perlu narasi alternatif yang tidak hanya menjual estetika, tetapi juga menghidupkan makna. Komunikasi pariwisata digital semestinya mampu menyentuh isu-isu keberlanjutan, sejarah, hak masyarakat lokal, dan etika wisata.

Inilah peluang sekaligus tantangan bagi pendidikan pariwisata di Semarang, mahasiswa dan pelaku industri harus didorong untuk menciptakan konten yang tidak hanya menarik, tetapi juga dapat memberikan pencerahan. Ruang-ruang bersejarah di Lawang Sewu serta bangunan-bangunan menarik  di Kawasan Kota Lama  bukan sekadar latar visual, melainkan cermin perjalanan bangsa yang perlu dihargai.

Semarang sebagai kota bersejarah tidak boleh menjadi korban dari estetika semata. Komunikasi pariwisata digital perlu bergerak dari yang dangkal ke yang mendalam. Dari yang cantik ke yang kritis. Karena pariwisata bukan hanya soal keindahan tempat, tetapi juga bagaimana kita menghargai memori, manusia, dan makna di dalamnya.

Sudah saatnya kita tidak hanya menjadi penonton pasif di balik layar smartphone. Tapi ikut bertanya, ikut peduli, dan ikut menyuarakan. Karena komunikasi, termasuk komunikasi pariwisata, pada akhirnya adalah cermin cara kita memandang dunia.

Herman Novry Kristiansen Paninggiran, Dosen Prodi Pariwisata USM, Mahasiswa Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid Jakarta