WONOSOBO(SUARABARU.ID)-Assalamu’alaikuum? “Monggo, monggo mlebet Mas,” ucap Mbah Sodri Prajoko (75), ramah, menyambut kedatangan rombongan tamu yang berkunjung ke rumahnya.
Pagi itu, memang beberapa wartawan diajak Camat Sukoharjo Wonosobo, Setiawan, bersilaturahmi dengan Mbah Joko-sebutan akrabnya-di Dusun Jlegong RT 08 RW 03 Desa Sukoharjo Kecamatan Sukoharjo Wonosobo.
Mbah Joko pun, bergegas meminta, saya dan rombongan, untuk duduk lesehan beralaskan tikar plastik di ruang tamu yang tampak masih “berantakan” itu. Sebelumnya, sudah ada tiga tamu yang sudah mengawali tiba di rumah pria yang saat muda mengaku bekerja secara serabutan itu. Mereka adalah staf Bidang Perumahan dan Permukiman Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Perhubungan (Disperkimhub) Wonosobo.
Mbah Joko adalah merupakan salah satu warga yang menerima bantuan dana Corporation Social Responsibility (CSR) Bank Jateng Wonosobo dan Disperkimhub setempat. Saat ini, rumah kakek pengagum Presiden Soekarno, itu sedang dalam tahap renovasi.
Maka wajar jika kondisi rumahnya masih sedikit “berantakan”. Sebelum dibedah, rumah Mbah Joko hanya berlantai tanah, sebagian berdinding batako tanpa plester dan papan kayu seadanya.
Rumah suami dari Mbah Manisem itu, nylempit di belakang, di antara rumah-rumah lain milik tetangganya. Samping rumahnya, merupakan kebun yang ditumbuhi beberapa pohon duku, pisang dan kelapa.
Mbah Joko, ternyata tidak sekadar pengagum Presiden RI pertama Ir Soekarno. Dia adalah merupakan “pengasuh” Bupati Wonosobo saat ini, Afif Nurhidayat, di kala kecil, di rumah orang tuanya di kampung Desa Sukoharjo Kecamatan Sukoharjo Wonosobo.
“Pak Afif niku awit alit pun ketingal pinter. Sinaune sregep. Menawi kaleh kulo manut sanget. Dugi sakniki taseh eman kaleh kulo. Kaleh Mbah Putri ugi eman,” kisahnya, mengenang masa kecil Bupati Wonosobo saat ini.
Layak Huni

Camat Sukoharjo Setiawan menyatakan dana bantuan CSR dari Bank Jateng dan Disperkimhub Wonosobo untuk merehab rumah Mbah Joko merupakan doroangan dari Bupati Afif Nurhidayat, yang waktu kecil diasuhnya.
“Sebetulnya, rumah Mbah Joko, sudah mau dibangun sejak dulu. Tapi beliau belum mau, baru setelah dibujuk berkali-kali, akhirnya mau juga ndalemnya direhab,” ujar Pak Iwan, panggilan Camat Sukoharjo.
Saat ini, progress pembangunan rumah Mbak Joko sudah 80 persen alias hampir selesai. Lantai sudah dikeramik dan plafon telah terpasang. Dinding rumah juga telah diplester halus dan tinggal dicat.
“Semua proses pembangunan rumah dan segala kebutuhan material sudah ada yang ngurusi. Tukang juga ada yang mendatangkan secara khusus. Pokoknya Mbah Joko tahunya nanti rumah jadi dan tinggal ditempati. Tidak mengeluarkan biaya sedikit pun,” tegasnya.
Menurut Pak Iwan, Mbah Joko juga mendapatkan tambahan bantuan dana dari Bupati Afif Nurhidayat, pemerintah Desa Sukoharjo dan pemerintah Kecamatan Sukoharjo. Semua tergerak untuk membantu “membedah” rumah Mbak Joko agar lebih layak untuk dihuni.
Rumah Mbah Joko yang sebelumnya “tidak layak huni” diharapkan dalam waktu tak lama lagi, nanti bisa nyaman untuk ditinggali di masa tuanya. Dia mengucapkan terimakasih atas bantuan yang diberikan kepadanya.
Mbah Joko juga merupakan potret lansia yang punya semangat hidup tinggi. Meski tergolong sudah cukup sepuh, kemampuan pendengaran dan penglihatannya, masih cukup baik. Tiap hari dia mengaku masih sering pergi ke ladang.
“Wong urip kui kudu pikirane omber. Sregep nyambut gawe. Men ati karo awake ora rusak. Nek pikiran omber karo awake sehat, uripe kui mesti kepenak,” tutur Mba Joko, dengan menggunakan bahasa Jawa.
Hari sudah siang, saya dan rombongan pun harus segera pamit pulang. Mbah Joko melepas tamunya dengan senyum riang. “Ampun kapok nggih Mas, sanes wedal tindak mriki maleh,” pesannya, penuh kasih sayang.
Muharno Zarka













