blank
PWI Jateng gandeng FH Unissula menggelar Sekolah Jurnalistik Angkatan XXIII melalui daring. Foto: Dok/PWI

Saling Dukung

Sementara itu, Dekan FH Unissula Jawade Hafidz mengungkapkan, sekolah jurnalistik yang memasuki Angkatan XXIII menunjukkan bukti bahwa kerja sama yang dibangun PWI dan FH Unissula berjalan dalam suasana akrab dan saling dukung.

“Kami berterima kasih dan memberikan apresiasi kepada PWI atas kemitraan ini. Ke depan sekolah ini bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas peserta. Kita bisa merancang kegiatan yang bersifat insidental, selain yang terjadwal,” kata Jawade.

Jawade meminta kepada para mahasiswa untuk tidak menganggap sederhana sekolah ini. Pasalnya, karena kegiatan ini merupakan prasyarat studi dan kelulusan bagi mahasiswa FH. Kedua, selaras dengan UU Pendidikan Tinggi terkait Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia guna membentuk SDM unggul.

Namun yang jelas, kata dia, dari Sekolah Jurnalistik ini mahasiswa akan belajar berbagai etika, yaitu etika berpikir, etika berkomunikasi, dan etika menulis.

”Etika berpikir berkait cara berpikir konstruktif, bukan destruktif. Salah satunya terbiasa mencari informasi yang benar dan akurat. Etika komunikasi, mengajarkan bentuk-bentuk komunikasi yang santun. Etika menulis, akan menjadikan kita penulis yang baik, penyampai kebenaran dan bukan penyebar hoaks. Apapun profesinya nanti, di mana akan bertugas, selalu menjaga kebenaran dan etika,” imbuhnya.

Dalam sekolah jurnalistik tersebut, Setiawan Hendra Kelana membuka materi ajar tentang Hukum Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Materi tersebut melingkupi etika bermedia dan alasan mengapa berjurnalistik itu diatur.

Sedangkan Alkomari menyampaikan materi tentang Konrvegensi Media, Widiyartono R mengupas Teknik dan Praktik Penulisan Artikel Ilmiah Populer, serta Budi Sutomo memberi materi soal Teknik dan Praktik Menulis Pendapat Hukum (Legal Opinion).

Ning S