blank
Para pengunjung tengah mengunjungi stan dalam acara International Day 2025 Despar FID UKSW di SC, Rabu. Foto: Humas UKSW

Bergerak ke sisi kanan, pengunjung disambut dengan aroma rempah-rempah dan teh yang memikat dari booth China. Selain itu, mereka juga diajarkan untuk membuat simpul China yang indah.

Memasuki area Costa Rica-Inggris, suasana seketika berubah menjadi semarak dengan penampilan tarian Punto Guanacasteco, di lengkapi dengan hidangan Arroz Con Leche, makanan manis khas Costa Rica.

Bergeser ke booth Jepang, para pengunjung diajak untuk belajar menulis dan mengucapkan bahasa Jepang serta menikmati sushi. Tak berhenti sampai di situ, nuansa elegan langsung terasa ketika mengunjungi booth negara Prancis yang dihiasi dekorasi ikonik menara Eiffel mini, seakan pengunjung berada di jantung Paris.

Despar Goes to Global

Ketika di jumpai di sela acara, Ketua Prodi Despar Rini Kartika Hudiono, S.Pd., M.A., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan perwujudan untuk mengekspresikan kreativitas mahasiswa melalui pertunjukan seni dan booth budaya.

“Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk memberikan warna internasionalisasi yang selaras dengan tagline Despar Goes to Global. Tujuan dari acara ini adalah untuk memberikan exposure tentang dunia global dan internasional kepada mahasiswa,” katanya.

Tahun ini, lanjutnya, berbeda dari tahun sebelumnya karena kali ini melibatkan lima negara yang menghadirkan momen inspiratif sekaligus menyatukan berbagai ekspresi budaya dari berbagai belahan dunia dalam suasana inklusif, meriah, dan edukatif.

Tak ketinggalan, Pelaksana Tugas (Plt) Dekan FId Priyo Hari Adi, Ph.D., juga turut mengunjungi setiap booth dari kelima negara tersebut. “Saya bangga dengan kegiatan internasional ini karena bisa menjadi jembatan untuk menjalin hubungan dengan berbagai negara,” ungkap Priyo Hari Adi yang juga merupakan Wakil Rektor Bidang Keuangan, Infrastruktur, dan Perencanaan (WR KIP) UKSW.

Menurutnya, acara ini mewadahi mahasiswa bahkan masyarakat umum untuk mengenal lebih dekat dengan budaya luar negeri sekaligus membangun jalinan kerja sama lintas negara.

Keliling Dunia 

Momen ini rupanya melukis kesan mendalam bagi para volunteer dan pengunjung. Berdiri dengan penuh semangat, salah seorang volunteer, Yuyun dari Korea Selatan mengaku senang dan bahagia karena diberikan kesempatan untuk memperkenalkan budayanya kepada para pengunjung.

“Saya semangat sekali bisa memperkenalkan budaya Korea kepada mahasiswa dan para siswa yang mengunjungi acara ini. Terima kasih kepada Indonesia khususnya UKSW karena sangat menghargai dan membuka diri terhadap budaya lain,” katanya.

Rasa senang juga disampaikan oleh salah satu pengunjung Adelia Sofi Dasina siswa dari SMK Saraswati Salatiga. “Melalui acara ini, saya diperkenalkan dengan berbagai budaya hingga makanan khas dari beberapa negara, seperti diajak keliling dunia,” bebernya.

International Day ini menandaskan komitmen UKSW untuk berkontribusi pada Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 pendidikan berkualitas dan ke-17 kemitraan untuk mencapai tujuan.  Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 31 Prodi Unggul dan A.

UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini di Salatiga, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat.

wied