KUDUS (SUARABARU.ID) – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teuku Riefky Harsya, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif Pemerintah Kabupaten Kudus dalam menyiapkan generasi muda sebagai pelaku ekonomi kreatif melalui pendidikan vokasi. Menurutnya, kolaborasi strategis antara pemerintah daerah dan sektor swasta menjadi contoh nyata pembangunan sumber daya manusia yang adaptif dan berdaya saing global.
“Langkah konkret Pemkab Kudus dalam membina talenta muda lewat pendidikan vokasi sangat luar biasa. Ini sesuai dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang mendorong lahirnya pelaku ekonomi kreatif unggulan dari daerah,” ungkap Teuku Riefky saat meninjau beberapa SMK unggulan di Kudus, Rabu (21/5/2025).
Dalam kunjungan tersebut, Menteri Ekraf didampingi langsung oleh Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris. Rombongan mengawali peninjauan dari SMK Raden Umar Said (RUS), sebuah sekolah vokasi yang telah menorehkan prestasi nasional melalui karya animasi seperti Nyla dan Waka Kibo Kids yang telah tayang di televisi nasional.
Teuku Riefky mengaku terkesan dengan kreativitas siswa SMK RUS. “Animasi karya siswa di sini sangat berkualitas dan berpotensi menembus pasar global. Ini membuktikan bahwa pendidikan vokasi bisa menjadi penggerak utama ekonomi kreatif,” ujarnya.
Bupati Sam’ani juga menegaskan komitmen Pemkab Kudus untuk memberikan apresiasi lebih kepada lulusan berprestasi. Ia menyebut, tiga besar lulusan SMK RUS akan diupayakan menjadi aparatur sipil negara di lingkungan Pemkab Kudus dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Potensi anak-anak kita luar biasa. Ini wujud apresiasi kami terhadap dedikasi dan kreativitas mereka,” kata Sam’ani.
Kunjungan dilanjutkan ke SMK PGRI 2 Kaliwungu, khususnya ke unit bisnis kuliner Jiva Bestari. Di sana, rombongan melihat langsung bagaimana siswa mengaplikasikan keterampilan tata boga secara nyata. Setelah itu, mereka mengunjungi SMK NU Banat Kudus yang terkenal dengan produksi busana muslimah melalui merek Zelmira.
“Baik di Jiva Bestari maupun Zelmira, para siswa tidak hanya belajar teori, tapi juga langsung terlibat dalam proses produksi dan pemasaran. Inilah bentuk pembelajaran berbasis industri kreatif yang sangat relevan,” jelas Menteri Ekraf.
Menurut Teuku Riefky, pendekatan ini tidak hanya mencetak lulusan yang siap kerja, tetapi juga membuka peluang lahirnya wirausahawan muda di bidang kuliner, fesyen, dan animasi—tiga subsektor unggulan ekonomi kreatif Indonesia.
“Kolaborasi Pemkab Kudus dan pihak swasta menjadi model pengembangan SDM ekonomi kreatif yang harus direplikasi daerah lain. Ini adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa,” tegasnya.
Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan institusi pendidikan, Kabupaten Kudus menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi kreatif bisa dimulai dari satuan pendidikan vokasi—menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi nasional dari daerah.
Ali Bustomi













