
Pemanfaatan PLTS Atap tidak hanya mendukung pencapaian Bali Mandiri Energi, tetapi juga memperkuat perwujudan komitmen Bali untuk mencapai net-zero emission (NZE) pada tahun 2045. Dalam beragam kajian IESR dengan CORE Universitas Udayana, termasuk Nusa Penida 100% Energi Terbarukan 2030 dan Peta Jalan Bali NZE 2045, PLTS
Atap menjadi kunci peningkatan bauran energi terbarukan khususnya di sektor bangunan. Pemanfaatan PLTS Atap yang masif berkontribusi pada penghematan biaya listrik, penciptaan lapangan kerja hijau baru, dan perluasan partisipasi masyarakat dalam transisi energi.
Prof. Ida Ayu Dwi Giriantari, Ketua CORE Universitas Udayana (UNUD) menyampaikan, bahwa tidak mungkin Bali terus menambah pembangkit konvensional tanpa batas. Jika penambahan pembangkit terus dilakukan tanpa strategi, pada akhirnya ruang untuk pembangkit baru akan habis. Karena itu, pengelolaan sisi permintaan menjadi krusial.
“Salah satunya melalui pemanfaatan PLTS Atap dan pembangunan pembangkit energi surya secara tersebar. Selain lebih efisien secara ruang, pendekatan ini juga lebih ramah lingkungan. Inilah alasan di balik program percepatan pemanfaatan PLTS Atap, agar pengembangan energi bersih dapat mengejar kebutuhan dan mendukung tercapainya Bali Net Zero Emission 2045,” kata Prof. Ida.
IESR merekomendasikan agar Pemerintah mendukung inisiatif ini dan juga melakukan revisi terhadap Permen ESDM No. 2/2024 yang mengatur tentang PLTS Atap untuk mencabut sistem kuota dan memperkenalkan kembali skema net-metering dan penggunaan PLTS Atap dengan BESS, untuk PLTS Atap untuk bangunan industri dan komersial. Revisi ini akan membuka kesempatan luas konsumen listrik di Bali dan di seluruh Indonesia untuk memasang PLTS Atap sebagai pembangkit terdistribusi dan memperkuat ketahanan energi di Indonesia.
Bali sebagai pusat budaya dan pariwisata Indonesia, dapat menjadi contoh nyata transisi energi yang adil dan berbasis masyarakat. PLTS Atap bukan hanya solusi teknis, melainkan simbol partisipasi warga dalam menyelamatkan bumi.
IESR mendorong perluasan kolaborasi antara pemerintah daerah, PLN, institusi pendidikan, komunitas lokal, dunia usaha, serta organisasi masyarakat sipil.
Percepatan adopsi PLTS Atap akan menjadi langkah krusial dalam menjadikan Bali Mandiri Energi bukan hanya program unggulan Gubernur, tetapi juga gerakan kolektif seluruh warga Bali menuju masa depan yang bersih, tangguh, dan lestari yang dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia untuk mencapai dekarbonisasi sistem energi 2060 atau lebih awal.
Ning S













