Ia berharap buku Pesantren Anti Bullying dan Kekerasan Seksual dapat menjadi sumber informasi yang berguna bagi pengasuh pesantren, pendidik, orang tua, dan seluruh pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan pesantren.
“Pemahaman yang mendalam mengenai bullying dan kekerasan seksual, serta langkah-langkah pencegahan yang tepat, akan membantu kita bersama-sama menciptakan pesantren yang bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga tempat yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi setiap santri, terutama bagi perempuan dan anak,” pintanya

Karena itu menurut Hj. Nawal Nur Arofah, M.Si, pesantren harus selalu berorientasi pada kepentingan anak, dengan memberikan hak kepada anak terkait kelangsungan hidup dan perkembangannya serta senantiasa mengembangkan partisipasi pada anak, dengan membentuk interaksi positif pada anak. ”Yang harus ditanamkan kepada anak-anak adalah mahabbah yaitu sifat cinta kasih, mujahadah, ta’awun yakni menumbuhkan sikap bekerja sama, serta tawadhu’ (rendah hati).
Rektor UNISNU Jepara Prof. Dr. Abdul Djamil, M.A. dalam paparannya menyebut bullying dan kekerasan seksual kini menjadi ikon yang acap kali muncul di media berita yang bisa diakses dengan mudah. “Karena itu penerbitan buku Pesantren Anti Bullying dan Kekerasan Seksual ini bagaikan oase di tengah usaha bersama menyemai gagasan tentang pentingnya pendidikan di pesantren.”
Hadepe – Amaliyatul Hidayah Rofiq













