blank
Masyarakat Sejarah Kudus-Jepara dalam sarasehan nasional di Jepara.

JEPARA (SUARABARU.ID)- Ada hal yang menarik dalam acara ‘Sarasehan Nasional’ yang digelar belum lama ini. Sarasehan yang mengangkat tema mengungkap fakta baru sejarah masuknya Islam di Jawa Abad ke 15 ini membedah kitab Babad Tanah Jawi (BTJ) yang dianggap telah mendistorsi tokoh-tokoh Islam Jawa.

blank
Sariat Arifia, Hadi Priyanto, Aslim Akmal, dan Hadi Priyanto.

Sarasehan yang dihadiri berbagai komunitas ini juga dihadiri masyarakat sejarah Jepara-Kudus yang selama ini terdoktrin dengan cerita Babad Tanah Jawi. Hadir juga Hadi Priyanto (Pegiat dan Pemerhati Sejarah Jepara), Moh Aslim Akmal (Pegiat dan Pemerhati Sejarah Kudus), Sariat Arifia (Peneliti Sejarah Islam di Jawa), serta Nur Hidayat (Ketua Komisi C DPRD Jepara).

Seperti diketahui, dalam kitab BTJ narasi Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin yang merepresentasikan masyarakat Jepara, bermusuhan dengan Arya Penangsang dan Sunan Kudus representasi dari masyarakat Kudus.

Selama itu pula cerita-cerita dalam BTJ telah disadur dalam berbagai cerita lakon ketoprak, ludruk, bahkan film. Ratusan tahun BTJ telah menarasikan konflik antara tokoh-tokoh Islam di Jawa.

“Melalui penulisan skenario sutradara kesenian ketoprak yang menceritakan bahwa Ratu Kalinyamat melakukan topo wudho atau bertapa telanjang, jelas cerita yang kurang ajar”, ujar Aslim Akmal geram saat menyampaikan kritik atas BTJ.

“Ratu Kalinyamat itu seorang wanita solehah, digambarkan mempunyai dendam kesumat kepada Arya Penangsanga sampai membuat sayembara untuk membunuh Adipati Jipang tersebut”, ungkap pria yang akrab disapa Kiai Aslim ini.

blank
Cerita Babad Tanah Jawi yang mendistorsi tokoh Islam.

Masih menurut dia, bukan hanya Ratu Kalinyamat yang sejarahnya terdistorsi, tokoh seperti Ja’far Ash-Shadiq atau Sunan Kudus, Sunan Prawoto, Sunan Hadlirin digambarkan oleh BTJ penuh intrik perebutan kekuasaan.

“Pembunuhan karakter tokoh-tokoh Islam melalui provokasi dan propaganda dalam BTJ membuat warga Jepara, Kudus, dan Demak, dengan mudahnya diadu domba. mereka diajak serta dipengaruhi dengan kisah perebutan kekuasaan melalui pertikaian, perselisihan, pembunuhan dan dendam”, beber Kiai Aslim.

Sementara itu Sariat Arifia dalam pemaparannya menerangkan tentang kajian perkembangan Islam di Jepara dimana Ia sudah melakukan penelitian dan kunjungan di beberapa tempat yang ada di Jepara.

BACA JUGA: Mengkritisi Ulang Babad Tanah Jawi yang Mendistorsi Tokoh Islam di Abad 15-16 Masehi

“Rekonstruksi sejarah perkembangan Islam di kawasan Selat Muria bisa kita lihat dari adanya nisan di pemakaman yang dipengaruhi oleh Pasai beronamen Jawa. Jepara sendiri pada era Ratu Kalinyamat merupakan bandar atau pelabuhan besar perlintasan perdagangan komoditas seperti beras dari Demak pada saat itu”, ungkap peneliti dari Jepara tersebut yang telah beberapa kali mengunjungi Jepara.

Dalam forum sarasehan inilah disepakati bahwa masyarakat Jepara, Kudus, dan Demak melupakan adanya kisah permusuhan dan dendam yang melibatkan tokoh-tokoh seperti Sunan Prawoto, Sunan Hadlirin, Arya Penangsang, Ratu Kalinyamat, dan Sultan Hadiwijaya

“Itu semuanya ulah penjajah Belanda yang ingin mengadu domba melalui naskah provokasi dan propaganda agar warga masyarakat tidak kompak, guyub rukun dan bersatu untuk melawan penjajah Belanda pada jaman itu,” tandas Nur Hidayat.

ua