JEPARA (SUARABARU.ID)- Banyaknya situs-situs bersejarah di Kabupaten Jepara yang hilang membuat sebagian kelompok masyarakat Jepara yang peduli dengan tinggalan masa lampau mencoba untuk mengeksplorasi hingga mendata situs yang dinilai sebagai cagar budaya tersebut.

Hilangnya Keraton Kalinyamat, hilangnya Benteng VOC, hilangnya keberadaan jalur kereta api di Jepara yang dibangun di masa Belanda, hingga hilangnya bekas bangunan stasiun Mayong yang terbuat dari kayu jati, yang sekarang dipindah tangankan kepada pemilik Hotel MesaStila dan dijadikan sebagai lobi hotel, di Desa Losari, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang menjadikan keprihatinan para pegiat dan pemerhati sejarah Jepara.
Terkait dengan jalur kereta api, seperti diketahui, perusahaan kereta api pertama yang masuk ke Jepara, bernama Semarang Joana Stroomtram Maatschappij (SJS) pada tahun 1873. Semarang Joana Stroomtram Maatschappij (SJS) pada tahun 1873 membangun Stasiun Mayong di desa Pelemkerep, Jepara.

Jalur kereta api yang menghubungkan Kudus-Mayong diaktifkan pada 6 September 1887. Kemudian, jalur Mayong-Pecangaan dibuka pada 5 Mei 1895. Jalur Mayong-Welahan juga dibuka pada 10 November 1900.
Jadi, secara garis besar, Stasiun Mayong (dan jalur kereta api ke Jepara) dibuka oleh SJS pada tahun 1873 dan jalur-jalurnya diaktifkan secara bertahap sejak tahun 1887.
Salah satu yang ditemui oleh suarabaru.id, adalah Ridi Mahafia, seorang pemuda yang mempunyai minat dengan keberadaan situs bersejarah di Jepara, salah satunya situs jalur kereta api di masa lalu. Ia mengaku telah melakukan eksplorasi hampir lebih lima tahun.
Salah satu hasil eksplorasinya adalah Jalur trem Kudus-Mayong-Pecangaan sepanjang 13 km yang dibuka pada 6 September 1887, sedangkan jalur Mayong-Pecangaan sepanjang 10 km dibangun pada 5 Mei 1895.
BACA JUGA: Stasiun Mayong, Cagar Budaya yang Hilang
“Jejak-jejak jalur kereta api lama masih bisa dilihat hingga saat ini meskipun hanya tinggal sedikit. Seperti sisa-sisa rel kereta yang tertutup aspal, eks sinyal tebeng, esk bangunan pabrik gula Mayong, perumahan dinas PG Mayong, hingga stasiun Mayong yang semula di Desa Pelemkerep, sekarang pindah di Magelang”, ujarnya belum lama ini.
“Jalur kereta api yang menghubungkan Kudus-Mayong-Pecangaan sempat tidak berfungsi selama pendudukan Jepang tahun 1942. Selama beroprasi, kereta api di jalur tersebut melayani pengngkutan produk mebel, gula, hingga ditutup pada tahun 1975 karena kalah dengan moda transportasi mobil”, terang Ridi.

“Namun sayang, bangunan-bangunan bekas jalur kereta api sudah banyak yang hilang. Meskipun sisa-sisanya masih terlihat namun tidak utuh. Seperti jembatan trem yang sebagian sudah direnovasi menjadi jalan raya”, bebernya.
Masih menurut Ridi, eks jembatan jalur trem yang berada di desa-desa yang dilewati jalur kereta api tersebut ada yang masih utuh namun kondisinya terbengkelai dan tertutup rerimbunan pohon bambu karena tidak terurus. Namun sebagian juga banyak yang sudah dibongkar.
“Sebagai peninggalan cagar budaya, seharusnya pemerintah lebih serius memperhatikan bangunan-bangunan warisan kolonial iitu. Sebagai pegiat sejarah Jepara, kami tidak muluk-muluk untuk meminta mengaktifkan kembali jalur kereta api tersebut, mungkin setidaknya perlu dilindungi dulu sebagai benda cagar budaya, dibersihkan serta dirawat”, tandas Ridi.
ua













