Oleh: Amir Machmud NS
// dari mana dia tancapkan nama?/ dari mana mengukuhkan karisma?/ memberi beda/ meneguhkan wibawa/ di keangkeran Anfield…//
(Sajak “Legenda Anfield”, 2025)
ANFIELD. Di tempat itulah, akhir pekan lalu Liverpool meraih gelar juara Liga Inggris untuk kali ke-20, atau yang kedua di era Liga Primer.
Catatan itu menyamai torehan Manchester United, yang juga 20 kali menjadi juara Inggris.
Sedemikian “angker” nama Anfield dalam identifikasi klub yang begitu “sangar”: Liverpool. Simaklah, You’ll Never Walk Alone (YNWA) menjadi ungkapan kekuatan kebersamaan seluruh pemangku kepentingan klub kota pelabuhan itu.
Menyebut Liverpool tak mungkin melupakan nama-nama legendaris yang merupakan bagian dari sejarah kehebatan klub Merseyside itu.
Liverpool pernah mengapungkan narasi kepercayaan diri ini, “Hanya ada satu tim terbaik dunia, Liverpool. Tim terbaik nomor dua? Cadangan Liverpool…”
Atau, Anda tentu masih mencatat elan filosofis Bill Shankly, dedengkot peletak fondasi kesangaran The Reds, “Sepak bola lebih penting dari persoalan hidup dan mati. Bahkan lebih penting dari hidup itu sendiri…”
Antropologi sepak bola bisa mendiagnosis betapa Liverpool berbeda dari klub lain, yang sama-sama memiliki suporter “ultras”, memberi dukungan ekstrem. Kita lihat kemudian, legenda-legenda yang berkembang di Anfield memiliki pesona tersendiri dalam menebar karisma di jagat sepak bola.
Berderet nama menghias sejarah perjalanan Liverpool. Paling aktual, pada era milenial ini, kita mencatat satu nama yang memberi pengaruh sangat signifikan, yang untuk kali kedua mengantar The Reds menjadi kampiun Liga Primer.
Baik fans Liverpool maupun lawan-lawannya, siapa yang tak hormat kepada Mo Salah?
Ya, Mohamed Salah Hamed Mahrous Ghaly. Nama yang sebelumnya pernah mengenakan jersey Al-Mokawloon, FC Basel, Chelsea, Fiorentina, dan AS Roma.
Kini Mo Salah telah melangkah ke wilayah legenda klub. Kontribusinya musim ini adalah bukti, betapa besar kebergantungan Liverpool kepada bintang asal Mesir itu.
Musim ini, pemain yang menjadi ikon “humanisme Islam” itu membukukan 31 gol dan 21 assist. Dia mengungguli pemain lain yang juga memberi kontribusi sebagai pilar penting. Dari Virgil van Dijk, Trent Alexander-Arnold, Alisson Becker, Luis Diaz, Diogo Jota, dan Cody Gakpo merupakan nama-nama produk racikan taktik Arne Slot dan pelatih pendahulunya, Juergen Klopp.
Legenda
Ketika Mo Salah menyatakan musim depan siap bertahan di Anfield dan mengenyampingkan tawaran klub lain dengan bayaran jauh lebih besar, artinya “Raja Mesir’ itu siap mentas sebagai legenda penting dalam sejarah klub.
Lewat produktivitas gol dan layanan assist-nya, dia menjadi gantungan utama tim di era Klopp dan kini Arne Slot. Selama berkarier di The Reds sejak 2018, dia telah mencetak 244 gol dari 393 laga di semua ajang.
Khusus di Liga Primer, dengan tambahan satu gol, dia mencetak sejarah sebagai pemain asing dengan produktivitas tertinggi (185) gol, mengungguli Sergio Aguero (184 gol), dan Thierry Henry (175 gol). Tinggal tiga gol lagi, dia akan melewati 187 gol Alan Shearer di Liga Inggris.
Bersama The Reds, dia membendarakan satu trofi Liga Champions, satu Piala Super Eropa, satu Piala Dunia Antarklub, dua kali juara Liga Primer, satu Piala FA, dan tiga Piala Liga.
Nama Mo Salah sejajar dengan para legenda Liverpool seperti John Toshack, Roger Hunt, Bruce Grobbelaar, Phil Neal, Alan Hansen, Kenny Dalglish, Graeme Souness, Kevin Keegan, John Barnes, Ian Rush, Michael Owen, Robbie Fowler, atau Steven Gerrard.
Keberadaannya di Anfield Road juga memberi nilai plus dengan status psikologis sebagai simbol humanisme. Dengan perilaku dan kelembutan interaksinya, aura performa Salah membantu menepis fobia terhadap muslim.
Kunci Trofi
Salah sempat dikritik karena bermain kurang memuaskan di dua leg 16 besar Liga Champions melawan Paris St Germain. Dia dinilai “hilang”, kurang memberi pembeda bagi penampilan Liverpool yang semula menjadi salah satu favorit juara. Liverpool pun disingkirkan klub Prancis tersebut.
Akan tetapi, Mo Salah konsisten di Liga Primer, dan hingga pekan-pekan terakhir masih sangat diandalkan oleh Arne Slot untuk ikut mengunci gelar liga.
Terkait dedikasi, Slot memuji Salah sebagai “orang gila”. Dia takjub penyerang andalannya itu masih bersinar pada usia yang sudah “kepala tiga”.
Slot yang semula kurang diperhitungkan ketika meneruskan pekerjaan Juergen Klopp, bakal menjadi legenda lain Anfield Road. Pada musim pertamanya, 2024-2025, dia langsung tune in dengan tim dan mempersembahkan gelar. Kemenangan 5-1 atas Tottenham Hotspur pekan lalu, menjadi momen bersejarah bagi Slot.
Dia menyamai Jose Mourinho (2004-2005), Carlo Ancelotti (2009-2010), Manuel Pellegrini (2013-2014), dan Antonio Conte (2016-2017) yang meraih trofi liga pada musim perdananya.
Pria asal Belanda — yang seperti Klopp juga menganut filosofi sepak bola menyerang dan dinamis — ini melengkapi keping sejarah dalam jejak besar Merseyside Merah, menjadi semenyala bara yang berkobar di dada Mo Salah dkk…
— Amir Machmud NS; wartawan Suarabaru.Id dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah —













