blank

“Genre ini symbol Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN. Maka para duta Genre harus bisa menjadi contoh bagi yang lain. Genre bukan sekadar kontestasi tetapi pascakontestasi harus kita pikirkan harus bagaimana,” ujar Wihaji.

Diingatkan, Duta Genre berbeda dengan Duta Wisata atau Putri Indonesia, karena Genre sudah dibekali tentang berbagai pengetahuan mengenai banyak hal. “Yang harus mampu menggabungkan penting IQ dan SQ. Orang pinter itu biasa, tetapi orang yang pinter spritualitas yang baik tentu berbeda,” kata dia.

Disampaikan pula, saat ini pihaknya sedang menyiapkan program “Sekolah Keluarga” dengan materi yang bertahap, basic, intermediate, sampai advance mengenai siklus kehidupan.

“Bila urusan keluarga selesai, maka sebenarnya urusan negara juga selesai. Masalah korupsi, bullying, seks bebas, disorientasi seksual, kekerasan seksual, dan sebagainya itu bisa diantisipasi melalui keluarga,” ujar Wihaji.

Dia menandaskan perlunya parenting education atau pendidikan bagi orang tua. “Karena anak-anak tidak pernah salah. Maka orang tua harus bisa melakukan transfer value, menanamkan nilai-nilai baik dan kebijakan pada anak-anaknya,” ujar Wihaji.

Ketika SuaraBaru mengenai Program Sekolah Keluarga, Wihaji belum bersedia menjelaskan secara rinci. “Wis, disampaikan dulu kami punya program itu. Nanti penjelasannya saat launching,”kata dia.

Disinggung mengenai anggapan bahwa anak-anak sekarang terkesan lemah, dan kaitannya dengan program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang menjadi salah satu poin quick win, dia menjelaskan, laki-laki itu kekuatan dan penyemangat dalam keluarga.

Menurut Unicef, kata dia, 20,9 persen anak-anak di dunia merasa “kehilangan ayah” (fatherless). “GATI dimaksudkan agar para ayah di Indonesia mengerti tantangan anak sekarang itu berbeda dibanding dulu. Anak-anak juga butuh sentuhan batin ayah, ayah adalah contoh leadership dalam keluarga,” kata dia.

Dengan adanya GATI ini, diharapkan lahir kekuatan pada anak-anak. “Bagaimana dengan ibu yang menjadi orang tua Tunggal? Kita juga pikirkan itu. Yang utama diingat, anak-anak sekarang sangat butuh sentuhan batin orang tua, kalau tidak mereka akan memilih hape (ponsel) sebagai orang tua. Ini berbahaya,” kata dia.

Kepala Perwakilan BKKBN Jateng Eka Edi Sulistyaningsih merasa sangat Bahagia dengan kehadiran Menteri Wihaji, bertemu dengan karyawan BKKBN dan Duta Genre.

blank
Para Duta Genre merasa sangat bahagia bisa berfoto bersama Mendukbangga Wihaji. Foto: R. Widiyartono

“Kunjungan ini menjadi berkah bagi kami. Kami bisa belajar dari kepemimpinan Pak Menteri yang sederhana, low profile, dan sangat egaliter. Kunjungannya benar-benar akan memacu semangat kami untuk lebih guyub dan rukun dalam bekerja,” kata Perempuan yang sering disapa Mak Eka ini.

Sedangkan Wakil Ketua Genre Jateng Ahmad Fadjri mengaku Bahagia bisa bertemu Menteri. “Kami ingin punya peran, dan selalu ingin ikut kegiatan yang sifatnya formal maupun informal untuk memberikan inspirasi bgagi remaja yang lain,” kata Fadjri.

R. Widiyartono