GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Seorang remaja putri terlihat memukul wajah seorang perempuan yang usianya lebih tua.
Remaja putri berambut panjang yang menggunakan kaus hitam itu berusaha merebut uang yang disimpan sang ibu yang mengenakan baju warna ungu.
Sang ibu berteriak karena sudah tidak tahan dengan perlakuan yang dilakukan oleh remaja putri tersebut.
BACA JUGA : Seorang Wanita Dilaporkan Hilang, Setelah Dijemput Mobil Merah
Semua itu terekam dalam sebuah video yang akhirnya viral di media sosial. Dari jejak video tersebut diketahui bahwa lokasi kejadian berada di Desa Warukaranganyar, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan.
Kabar video tersebut yang viral di media sosail membuat Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Purwodadi, Dewi Ratna Sari langsung meninjau ke loasi kejadian.
Hal itu diungkapkan Dewi saat dikonfirmasi pada Senin (28/4/2025). Menurut Dewi, diketahui remaja tersebut berinisial ECA (17) atau yang akrab disapa C dan perempuan yang menerima kekerasan pada video yang beredar tersebut adalah nenek dari C.
“Setelah video tersebut beredar dan viral, kami dari TKSK Purwodadi langsung mencari informasi dan didapati lokasinya di Desa Warukaranganyar. Kami datang ke rumahnya dan mendapatkan informasi bahwa orang tua anak tersebut bercerai dan saat ini diasuh oleh neneknya,” ungkap Dewi.
Dewi mengungkapkan, dari hasil asesmen lapangan yang dilakukan Senin (28/4/2025), kondisi anak terlihat memiliki emosi yang tidak stabil dan menunjukkan perilaku agresif kepada neneknya.
Diketahui, sang nenek bernama Patmi yang berusia 71 tahun. Sang nenek mengungkapkan bahwa C yang merupakan cucunya itu marah dan kecewa karena kebutuhan pribadinya tidak selalu dipenuhi. Hal itu seperti yang terekam dalam video yang beredar.
Dewi juga mengungkapkan, C sendiri punya adik berinisial YDD (14) dan punya kebiasaan yang tidak jauh dengan kakaknya.
“Secara fisik, anak dalam keadaan sehat, namun secara emosional dan psikologis menunjukkan tanda-tanda tekanan (depresi),” ujar Dewi.
Orang Tua Bercerai
Menurut Dewi, orang tua C dan YDD ini sudah bercerai. Sang ibu menikah lagi dan tinggal di Sumatera. Sementara, sang ayah tinggal di Desa Jambon, Kecamatan Pulokulon.
C dan YDD tinggal bersama neneknya dari ayah kandung mereka. Sang nenek sendiri hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebab suaminya mengalami sakit stroke.
“Nenek dari kedua anak ini mencukupi kebutuhan sehari. Keadaan kakek mereka terkena sakit stroke dan masih terbebani dengan dua cucu yang bersikap agresif,” ujar Dewi.
Hal itu diperparah dengan tidak adanya peran aktif dari kedua orang tua mereka dalam mengasuh atau mendukung kebutuhan anak.
“Untuk neneknya sudah mndapatkan bantuan BPNT Kemensos RI,” jelas Dewi.
Respon Masyarakat
Kebutuhan emosional anak yang tidak terpenuhi, kata Dewi, dikarenakan adanya perpisahan orang tua dan ketidakmampuan ekonomi nenek mencukupi kebutuhan dua cucunya.
Selain itu, kurangnya pengawasan, bimbingan dan kasih sayang dari figur orang tua juga mempengaruhi emosional anak tersebit.
“Faktor lingkungan sosial dan pergaulan juga menjadi tekanan kedua remaja tersebut,” tambah Dewi.
Masyarakat setempat, lanjut Dewi, menunjukkan keprihatinan dan empati yang baik. Namun, ada juga yang memberikan stigma negatif terhadap anak dan keluarganya.

“Dari kejadian ini, kami bisa lakukan analisa kasus bahwa anak mengalami keterlambatan dalam pengembangan emosional akibat kondisi keluarga yang tidak stabil dan kurangnya dukungan psikososial,” jelasnya.
Lingkungan pengasuhan yang kurang memadai membuat perilaku anak yang meledak-ledak. Bahkan, kurangnya keterlibtan orang tua juga memperparah kondisi psikososial anak.
“Saat ini, anak tersebut sudah diajak merantau ke Jakarta. Untuk C sendiri tidak sekolah, dia putus sekolah dan hari Rabu kemarin diajak ke Jakarta untuk bekerja dan dengan siapanya tidak tahu,” jelas Dewi.
TYA WIEDYA













