blank
Fashion show mahasiswa UKSW menggunakan wastra Nusantara. Foto: UKSW

SALATIGA (SUARABARU.ID) – Wastra nusantara bukan sekadar kain tetapi warisan nilai, simbol kebudayaan, sumber kehidupan, dan ekspresi jati diri. Inisiatif untuk meresmikan Komunitas Wastra di Salatiga tentu bukan seremonial belaka tetapi memberikan makna dalam wastra nasional.

Tak hanya simbol budaya dan identitas, dalam setiap tenunan, goresan, canting, dan warna kita menemukan jejak perempuan tangan komunitas harmoni dengan alam juga ruang inovasi kolaborasi pemberdayaan ekonomi di keluarga. Dalam wastra kita menemukan titik temu antara tradisi dan teknologi, seni dan kebudayaan, nilai lokal dan pasar global.

Hal ini ditekankan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Veronica Tan, dalam acara Launching Komunitas Wastra Kota Salatiga yang digelar di kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), belum lama ini.

Bukan sekadar kain

Veronica menyampaikan, warisan budaya kita terancam oleh wastra tiruan yang diproduksi secara masal. Di saat yang sama, bumi kita terus diuji oleh krisis lingkungan yang juga berdampak pada kelangsungan wastra sebagai identitas dan sumber ekonomi keluarga.

“Di tengah tantangan ini, hari ini di Salatiga kita menyaksikan gerakan yang hidup: parade seribu wastra dan launching komunitas wastra nusantara. Ini bukan sekadar kain, melainkan warisan nilai, simbol budaya, dan sumber kehidupan. Dalam setiap tenunan dan canting, ada jejak perempuan, harmoni dengan alam, dan ruang inovasi,” ungkapnya.

Veronica juga menekankan bahwa pelestarian wastra adalah bentuk bela negara yang relevan hari ini: merawat budaya, menciptakan nilai ekonomi, memperkuat peran perempuan, melibatkan laki-laki, melindungi anak, dan menjaga bumi sebagai warisan bersama.

Acara Launching Komunitas Wastra Kota Salatiga yang menjadi bagian penting dari peringatan Dies Natalis ke-25 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fiskom), sekaligus menyatukan semangat Hari Kartini dan Hari Bumi dalam satu gerakan nyata untuk menjaga warisan budaya nusantara.

Wastra, berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti kain atau busana, bukan sekadar penutup tubuh, namun juga cerminan identitas budaya yang hidup dalam keseharian masyarakat dari berbagai etnis di Indonesia. Launching komunitas ini menjadi penanda bahwa pelestarian budaya adalah tanggung jawab kolektif lintas generasi.

Mendukung penuh

Dukungan juga diberikan oleh Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Salatiga Retno Robby Hernawan yang hadir dalam acara kemarin. Dalam sambutannya, Ketua TP PKK Kota Salatiga menyatakan dukungan penuh terhadap komunitas ini sebagai upaya konkret untuk melibatkan generasi muda dalam pelestarian wastra.

“Salatiga memiliki kekayaan motif batik dan tenun yang luar biasa. Dengan keterhubungannya terhadap nilai perjuangan Kartini dalam merawat budaya lokal, saya sangat menyambut baik peluncuran Komunitas Wastra ini. Ini adalah ruang dialog, ruang cinta, dan ruang aksi untuk menjaga kain tradisional kita agar tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya.