
Merayakan bahwa Kota Semarang adalah rumah bagi siapapun, tanpa memandang agama, suku, atau latar belakang budaya.
“Ini ada teman-teman tamu dari Bali juga yang perform. Harapannya Semarang juga bisa setara dengan Bali untuk pariwisatanya,” kata Agustina.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Wing Wiyarso, menjelaskan, wisatawan dewasa ini menunggu acara-acara budaya di Kota Semarang.
Karenanya, Pemkot Semarang berupaya menampilkan sesuatu yang baru dan segar setiap tahunnya. Adapun pada festival kali ini ada tiga ogoh-ogoh yang ditampilkan.
“Sebenarnya kita harap bisa lebih banyak tetapi karena ada kebijakan efisiensi dari pemerintah pusat sehingga beberapa perwakilan dari luar kota ini banyak yang mengundurkan diri karena memang keterbatasan anggaran. Namun kita tidak berkecil hati, karena dari komunitas lokal banyak yang meramaikan,” kata Wing.
Festival dimeriahkan dengan penampilan Warak Ngendhog oleh Peradah Semarang. Kelompok kesenian lintas agama yang berpartisipasi antara lain umat Hindu dari berbagai daerah, umat Budha, Katolik, Kristen (PGKS), Islam (Ponpes Nahdlatus Sub’an), dan Penghayat Kepercayaan (MLKI).
Atraksi budaya Tionghoa hadir lewat Barongsai dari Matakin. Dua ogoh-ogoh diiringi oleh kelompok baleganjur dari Peradah Semarang dan Kabupaten Jembrana, Bali. Atraksi kemudian ditutup dengan Sendratari ‘Legenda Selat Bali’ di Lapangan Pancasila Simpang Lima.
Hery Priyono













