JEPARA (SUARABARU.ID)- Tidak berlebihan jika Kota Jepara menjadi surga bagi para peneliti makam-makam Islam kuno. Pasalnya, kota yang terletak di ujung utara pulau Jawa ini banyak terdapat makam kuno dengan model batu nisan abad 16-18 Masehi. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena Jepara pada masa itu memegang peranan penting dalam sejarah panjang perkembangan kerajaan Islam di Nusantara.

Contoh misal, makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin di Mantingan, makam Tjitrosomo di Desa Sendang Kalinyamatan, makam Daeng di Krapyak, makam Sawo di Desa Dongos, makam di komplek Pangeran Syarif Saripan, hingga makam di TPU di komplek Benteng VOC Jepara yang banyak berserakan batu nisan tipologi Mataram.
Namun sayang, di komunitas pecinta makam atau yang biasa disebut “sarkub” seringkali mengidentifikasi makam berdasarkan metode ilmu “kasyaf” atau penglihatan secara spiritual (ghaib). Meskipun metode tersebut sudah lazim digunakan, namun kritik terhadap praktik semacam itu biasanya akan mendapat pertentangan.
BACA JUGA: Siapakah Sayyid Muhammad bin Syekh bin Abdurrahman bin Yahya alias Mbah Daeng, Berikut Penjelasannya
Salah satu peneliti dari Jakarta, Sariat Arifia, kepada suarabaru.id mengatakan bahwa metode mengidentifikasi makam dengan cara ghaib sah-sah saja. Namun perlu dipahami bahwa usia makam sebenarnya bisa dibuktikan secara ilmiah melalui batu nisan dan tipenya.
“Saya gak masalah dengan metoode ghaib, silahkan saja. Malah saya anjurkan kalau nisan itu jumlahnya ada 100, ya harus dinamai semua jadi bisa jelas”, ujarnya kepada suarabaru.id Sabtu (26/4/2025) saat dimintai pendapat terkait makam Auliya Daeng di Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.

“Yang jadi soal adalah, nisannya 100, yang dinamain cuma 1. Itu namanya belum kasyaf, kita harus pikir baik-baik dengan nisan-nisan yang ada di sebelahnya. Kalau kasyaf itu dikasih 100 nisan, semua dinamain terus diceritakan tahun berapa wafatnya, tokoh apa bagaimana, kasyaf itu enggak milih-milih”, terang pria yang telah mengelilingi makam-makam dari Aceh hingga Jepara.
BACA JUGA: Haul Auliya Daeng, Waliyullah yang Ikut Berjuang Bersama Ratu Kalinyamat
Menurutnya, secara ilmiah, hubungan orang-orang Bugis dan Wajo Sulawesi Selatan dengan Jawa memang ada benarnya. “Kerajaan Malaka itu kongsi orang-orang Melayu, Bugis, Wajo, Cina, bahkan orang Banda, atau yang disebut Bendan”, terang Sariat.
“Pertanyaannya, apakah penamaan Makam Auliya Daeng ini terjadi pada masanya, atau masa setelahnya?”, tandas Penulis buku Sejarah Fatahillah ini.
Siapa Mbah Daeng?
Dikitup dari suarabaru.id , Mbah Daeng adalah Sayyid Muhammad bin syekh bin Abdurrahman bin Yahya. Beliau oleh warga setempat biasa dipanggil dengan sebutan Mbah Daeng. Mbah Daeng sendiri adalah seorang tokoh Agama pada masa kerajaan Islam. Beliau juga seorang pejuang yang membantu Ratu Kalinyamat dan pasukannya mengusir Portugis dari tanah Jepara.

“Mbah Daeng ini berasal dari Bugis, seorang keturunan Rosulullah saw yang menyebarkan agama Islam ke jepara, dan menyebut nama-nama orang sholih atau meperingati haul orang-orang sholih akan membuka pintu langit terbukanya rahmat Allah Swt”, ujar KH. Masduki Ridwan dalam mauidhoh hasanahnya di puncak acara haul, Rabu, (20/09/2023).
Bahkan menurut Habib Luthfi bin Yahya dari Pekalongan, Maqbaroh Auliya’ Daeng merupakan pemakaman Zanbalnya Indonesia. Zanbal merupakan sebuah pemakaman di Kota Tarim, Hadramaut Yaman. Pemakaman Zanbal terkenal karena yang dimakamkan disitu semua adalah para Waliyullah. Jika seseorang yang bukan Wali dikuburkan di situ, maka Bumi maqbaroh tidak mau menerimanya dengan berbagai kisahnya.
ua













