blank

Oleh : Lia Selviana, S.Pd.

Setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini dengan berbagai kegiatan. Namun sayangnya, peringatan ini sering kali terjebak pada hal-hal yang bersifat seremonial, yang hanya memotret Kartini dari tampilan luarnya, seperti balutan kebaya yang anggun dan sanggul tergelung rapi. Tak jarang tanggal 21 April dijadikan hari untuk mencitrakan diri seperti apa yang dipakai Kartini. Kartini seolah dirayakan sebagai simbol, tanpa menyentuh esensi sejati perjuangan Kartini: gagasan.

Menyoal tentang Kartini bukan tentang siapa untuk digoreskan dalam catatan sejarah, namun yang menjadikannya berharga adalah karena pemikiran dan gagasannya melampaui batas perempuan pada zamannya. Dalam surat-suratnya, terpantik keresahan akan ketertinggalan bangsanya, keterkungkungan pikiran, dan ketidakadilan sistem kolonial. Ia menyuarakan pentingnya pendidikan, bukan hanya untuk perempuan, tetapi untuk membebaskan bangsanya dari kebodohan dan ketertundukan. Kartini melihat bahwa kemajuan bangsa terletak pada pencerahan budi dan pikiran perempuan.

Belajar dari perjalanan hidup Kartini dalam dimensi historis-sosiologis, surat-surat panjang kepada sahabatnya, dan nota kritik yang ia kirimkan, terlihat jelas bagaimana Kartini tidak hanya berjuang atas nama emansipasi, lebih jauh lagi ia bicara tentang harapan modernitas dan kebebasan atas kehendak diri, yakni bagaimana kaumnya mendapatkan hak untuk merdeka, bebas untuk mengembangkan dirinya, serta berkontribusi lebih banyak untuk kepentingan bangsa dan negara, tanpa sedikitpun menghilangkan jati dirinya untuk menjadi manusia yang beradab.

Bagi Kartini, pendidikan adalah sebuah keniscayaan. Pendidikan adalah jalan untuk mencapai zaman kemajuan. Pernyataan Kartini tentang pentingnya pendidikan tertuang dalam nota yang ditulis kepada pemerintah Belanda tanggal 30 Januari 1903 yang berjudul Berilah Pendidikan kepada Orang-orang  Jawa. Dalam nota sepanjang 19 halaman ini Kartini berbicara berbagai hal, mulai kemungkinan keterbatasan kemampuan untuk mendidik 27 juta penduduk, prioritas pertama yang harus dilakukan, pendidikan budi pekerti, dan peranan perempuan dalam membangun peradaban baru. Di akhir notanya Kartini kembali meminta kesempatan agar bangsa Jawa laki-laki dan perempuan mendapat hak pendidikan agar mampu membawa bangsanya kearah kesejahteraan dan kemakmuran.

“Maka hendaknya negeri Belanda memberi kesempatan kepada anak bangsa Jawa laki-laki dan perempuan, untuk mencari kepandaian agar mereka mampu membawa tanah air dan bangsanya kearah perkembangan jiwa, kearah kecerdasan, pikiran, serta kemakmuran dan kesejahteraan yang merupakan perhiasan dan kehormatan bagi negeri Belanda”.

Pemikiran yang kritis dan revolusioner merupakan bukti meskipun sayapnya patah karena tak dapat melanjutkan sekolah, kakinya terluka oleh rantai adat patriarki Jawa ningrat namun tak membuat Kartini menyerah. Dialah perintis, pendobrak, dan suluh bagi kemajuan peradaban bangsa Bumiputera.

Pemikirannya yang jernih dan progresif memberi landasan intelektual bagi pergerakan nasional. Tak heran jika perkumpulan Indische Vereeniging yang merupakan cikal bakal gerakan nasionalisme modern Indonesia di Belanda pada tanggal 24 Desember 1911 secara aklamasi menerima gagasan, pemikiran dan konsep perjuangan Kartini sebagai richtsnoer atau pedoman resmi organisasi  ini.

Maka tak berlebihan jika dikatakan Kartini adalah pedoman resmi yang sunyi- ia tidak hadir secara formal, namun menuntun secara moral. Dalam semangat Kartini Indische Vereeniging bergerak. Ia menjadi fondasi pemikiran bahwa kemerdekaan sejati harus lahir dari keberanian berpikir, menggugat, dan membebaskan manusia dari belenggu ketidaktahuan.

Dalam lembaran demi lembaran surat Kartini telah menunjukkan bahwa intelektualitas Kartini mampu melahirkan pemikiran yang bersifat holistik. Penulis menganalisa setidaknya urgensi pemikiran Kartini mengarah kepada empat hal, yaitu Pertama, Pendidikan sebagai kunci kesetaraan; Kartini menyadari bahwa untuk membuat bangsanya maju tidak ada jalan lain selain terbebas dari belenggu feodalisme dan budaya yang timpang itu. Bagi Kartini pendidikan tidak terbatas pada jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan berhak memperoleh pendidikan yang setara. Dalam suratnya Kartini menulis :

“Kami hendak mencari perhubungan dengan laki-laki kaum kami yang terpelajar dan berhalauan kemajuan, hendak mencoba bersahabat dengan dia, lagipula akan mencoba mendapat bantuannya. Bukanlah laki-laki yang hendak kami lawan, melainkan pendapat kolot dan adat yang asing yang tiada gunanya lagi bagi tanah Jawa kami dimana yang akan datang ialah masa Jawa baru, yang beberapa orang lain serta kami jadi penebas jalannya. Kami ada tahu bahwa memang ada juga laki-laki yang menghargai perempuan yang beradab dan berpikiran. Ada kudengar seorang pegawai Bumiputera yang berpangkat tinggi mengatakan bahwa perempuan yang beradab dan terpelajar menjadi penolong dan pembantu berharga bagi laki-laki”.

Pemikiran Kartini tentang kesetaraan tersebut telah menunjukkan seberapa maju dan kuat keinginan Kartini untuk menyetarakan kaumnya. Baginya, perempuan terpelajar akan menjadi penolong bagi laki-laki dalam melakukan perubahan. Perubahan yang diinginkan Kartini adalah perubahan yang tetap berlandaskan etika

Kedua, pendidikan budi pekerti; Prinsip pendidikan Kartini adalah pendidikan yang bukan hanya mementingkan aspek kognitif, tetapi yang terpenting adalah aspek afektif. Konsep pemikiran pendidikan Kartini adalah pendidikan budi pekerti. Kartini berkata Kartini berata, “Dan pada pendidikan itu janganlah akal saja dipertajam, tetapi budi pun harus dipertinggi”. Konsep pendidikan budi pekerti yang demikian tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga membentuk akhlak.

Ketiga, kecakapan hidup; Kartini mengajarkan kecakapan dan keterampilan kepada muridnya di Sekolah Gadis. Mereka belajar, menulis, membaca, menjahit, merenda, memasak, dan berbagai keterampilan praktis lainnya. Kecakapan hidup yang digagas Kartini dimaksudkan agar murid-murid memiliki kemampuan dan keterampilan yang bisa dikembangkan. sebagai wadah dalam membentuk bangsa yang maju dan cerdas.

Keempat, nasionalisme; Kartini sangat berani menyuarakan gagasan dan cita-citanya untuk kebangkitan bangsanya. Nampak jelas betapa besar dan mendalam nasionalisme yang dimiliki Kartini. Ia ingin mendidik anak-anak yang cerdas, terampil, mandiri, dan berbudi pekerti, tapi juga harus memiliki rasa cinta dan semangat untuk tanah air dan bangsanya. Kepada Ny. Abendanon Kartini menuliskan surat perlunya orang Jawa dididik agar memiliki cinta dan semangat untuk tanah air dan bangsanya.

“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid kami sebagai orang-orang setengah Eropa atau orang Jawa kebarat-baratan. Dengan pendidikan bebas, kami bertujuan terutama sekali akan menjadikan orang Jawa sejati, orang Jawa yang dijiwai dengan cinta dan semangat untuk tanah air bangsanya. Dijiwai dengan mata hati terbuka, untuk keindahannya dan kesukarannya. Kepadanya kami ingin memberikan sesuatu yang bagus dari peradaban Eropa, bukan untuk mendesak atau mengganti sifat-sifat sendiri yang bagus, melainkan untuk memuliakannya”.

Kartini memang tidak melakukan perlawanan dengan mengangkat senjata, namun ketajaman pena dan nalar kritisnya memiliki pengaruh besar yang mampu mengobarkan api nasionalisme. Oleh karena itu, mengenang Kartini semestinya bukan sekadar berkebaya atau bernostalgia. Lebih dari itu, kita harus menengok ulang pemikiran dan keberaniannya. Menyalakan kembali semangat kritisnya, menyuarakan keadilan dan kemerdekaan dengan cara kita masing-masing di zaman ini.

Kartini bukan hanya milik perempuan. Ia milik seluruh anak bangsa yang ingin berpikir merdeka. Ia adalah sumber cahaya yang tak pernah padam. Karena itu tak boleh hanya dikenang dengan menganakan kebaya.

 

Penulis adalah Guru Sejarah SMAN 1 Mayong Kab. Jepara.