blank
Sebagian anggota Paguyuban Pensoioiunan Milenial Jepara yang hadir dalam Halal bihalal dan Mengenal Lebih Dekat RA.Kartini. Foto: Agus

JEPARA (SUARABARU. ID)-  Gempuran budaya yang menyertai  era disrupsi informasi sungguh sangat besar, hingga banyak budaya dan kearifan lokal yang mulai ditinggalkan dan kemudian hilang di tengah-tengah masyarakat. Karena itu pensiunan aparatur negara baik sipil, maupun  TNI dan  Polri  harus berani mengambil peran sebagai benteng budaya bagi masyarakat dilingkungannya masing-masing seperti yang sudah dilakukan dan digagas  R.A. Kartini

blank
Janur Yanto ( duduk ) , pendiri dan ketua Forum Paguyuban Pensiunan Milenial Jepara.Foto: Hadepe

Hal tersebut diungkapkan oleh Hadi Priyanto, saat diminta untuk memberikan sekapur sirih seputar gagasan R.A.Kartini di forum halal bihalal Paguyuban Pensiunan Milenial Jepara. Kegiatan yang berlangsung di Cafe Angkringan Benteng Portugis, Jepara Minggu (20/4-2025) itu dihadiri ketua paguyuban , Janur Yanto serta sekitar delapan puluh anggota pensiunan dari berbagai latar belakang profesi. Paguyuban ini  ini didirikan 30 November 2022 oleh Janur Yanto.

blank
Ketua Yayayasan Kartini Indonesia saat memberikan sekapur sirih Gagasan R.A Kartini. Foto: Amin

Lebih lanjut Hadi menyampaikan, RA.Kartini hingga saat ini masih hanya di kenang gagasannya seputar perannya dalam gerakan emansipasi perempuan.”Padahal gagasan beliau sangat lengkap mulai budi pekerti hingga budaya yang harus menjadi karakter bangsa. Juga tentang nasionalisme, gerakan literasi, pengembangan ukir, batik, keluarga berencana, seni tradisi hingga kritik -kritik keras terhadap kolonialisme dan feodalisme,” ungkap Hadi Priyanto yang juga Ketua Yayasan Kartini Indonesia dan penulis buku. Menurut R.A. Kartini, karakter dan budaya bangsa harus terus diperkuat, tamabahnya.

blank
Hj Insriah, S.Ag, M. Ag saat memberikan muidlo khasanah. Hadepe

Oleh sebab itu, pensiunan harus turun gunung untung membangun ketahanan budaya bagi anak-cucu, agar memiliki mentalitas yang kuat dan tidak terombang-ambing kemajuan.”Mari kembali kita hadirkan kearifan sejarah lokal, dongeng, tembang=tembang tradisional dan bahkan tradisi, dan secara khusus gagasan besar R.A. Kartini  ahar menjadi contoh dan motivasi generasi muda,” pintanya.

Sementara Hj Insriah, S.Ag, M. Ag dalam muidloh khasanah menyetakan, setelah puasa diharapkan semua bersih. “Implikasinya cinta Allah dan cinta sesama yang semakin kuat,” ujarnya. Sebab setelah puasa kita harus meningkatkan kualitas iman, reformasi mental dan selalu mencari ridlo Allah, tambahnya.

blank
Menyanyi bersama anggota Forum Paguyuban Milenial Jepara. Foto: Hadepe

Hj Insriah juga mengajak anggota Paguyuban Pensiunan Milenial Jepara untuk selalu mencari bekal sebelum dipanggil Allah.  “Bekal itu adalah bertobat, shalat 5 waktu,  selalu ingat pada pada Allah dan terus mencari ilmu yang dapat meningkatkan iman dan ketaqwaan,”  terangnya.

Ketua panitia, Amin Ayahudi berharap melalui forum Pensiunan Milenial Jepara tersebut dapat terbangun silaturahmi yang kuat dan sekaligus produktif untuk memberikan kontribusi bagi penguatan budaya bangsa yang saat ini semakin rapuh.

Haadepe