blank
Parade Senja Seribu Wastra Nusantara yang akan dilaksanakan Senin (21/4/2025). Foto: UKSW

“Pesan yang ingin kami sampaikan adalah wastra nusantara menjadi kekuatan multikultural yang juga menjadi kekuatan UKSW. UKSW menjadi pemantik yang menjadi inspirator agar pelaku wastra mulai terbuka. Rangkaian kegiatan ini adalah media kami menyuarakan pesan,” kata Sampoerna, S.Pd., M.Si., Wakil Dekan Fiskom UKSW.

Wastra tidak hanya dilihat sebagai produk estetika, tetapi juga sarana dialog antar budaya. Dari wastra, tergambar dinamika kehidupan masyarakat, yaitu tradisi, nilai, spiritualitas, bahkan siklus hidup manusia, mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Ia menjadi identitas budaya yang hidup dan menyatu dalam keseharian berbagai etnis di Nusantara. Dengan demikian, pelestarian wastra juga berarti menjaga narasi sejarah, menjaga ruang diskusi antar generasi, dan membuka jalan kontribusi pada berbagai sektor termasuk politik dan sosial.

“Sebagai lembaga pendidikan, UKSW terpanggil untuk memberi diri bagi pelestarian budaya. Melalui Parade Senja Seribu Wastra Nusantara ini, kami ingin menyuarakan bahwa menjaga warisan seperti wastra adalah juga bentuk kontribusi nyata bagi bangsa—baik secara sosial, budaya, bahkan dalam ruang dialog politik,” imbuh Dr. Ir. Arianti Ina R. Hunga, M.Si., Dosen UKSW sekaligus pegiat wastra nusantara.

Dies Perak Fiskom UKSW juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan lainnya seperti Lomba Foto dan Creative Video Competition untuk pelajar SMA/SMK, Bazar UMKM, dan juga seminar.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 64 program studi di jenjang D3 hingga S3, dengan 28 Prodi Unggul dan A.

Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat.

Ning S