blank

Oleh: Sri Hidayati

Di era globalisasi dan kemajuan teknologi yang pesat, pendidikan tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademis, tetapi juga yang memiliki life skills atau keterampilan hidup atau dikatakan juga dengan makna yang lebih luas sebagai kecakapan hidup.

Istilah “life skills” mulai dikenal secara luas pada akhir abad ke-20, terutama ketika organisasi-organisasi internasional seperti World Health Organization (WHO) dan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mulai menggunakannya dalam konteks pendidikan dan pengembangan individu.

Jauh sebelum itu, pada akhir abad ke-19 ternyata di Indonesia pendidikan keterampilan telah didengungkan oleh Kartini. Raden Ajeng Kartini, yang dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan di Indonesia, tidak hanya mengangkat isu kesetaraan gender, tetapi juga memiliki pandangan yang visioner mengenai pentingnya pendidikan dan keterampilan hidup (life skill) bagi generasi muda.

Dalam surat-suratnya yang terkenal, Kartini menekankan bahwa pendidikan harus mampu membekali seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, dengan keterampilan yang dapat digunakan dalam kehidupan nyata.

Kartini menyadari bahwa pendidikan tidak semata-mata soal membaca, menulis, dan berhitung. Menurutnya, esensi pendidikan adalah kemampuan untuk mandiri, berpikir kritis, serta terampil dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Pandangan Kartini sangat relevan hingga kini, terutama dalam konteks bagaimana generasi muda harus dibekali dengan life skill agar siap menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.

Salh satu kutipan tulisan Kartini yang mencerminkan pemikiran ini adalah  surat kepada Stella, 25 Mei 1899: “Kami berkeinginan mendidik anak-anak perempuan, bukan menjadikan mereka wanita yang hanya tahu bersolek dan menjahit semata, tetapi wanita yang berpikir, berpengetahuan, dan berguna bagi masyarakat.”

Dalam kutipan tersebut, Kartini menunjukkan bahwa pendidikan harus bersifat menyeluruh. Bagi Kartini, perempuan tidak boleh dibatasi hanya dengan keterampilan domestik, namun juga perlu diberi akses untuk berpikir luas, berpengetahuan, dan memiliki keahlian yang dapat memberdayakan mereka di masyarakat. Hal ini mencerminkan konsep life skill dalam arti modern, yaitu keterampilan yang mencakup kemampuan berpikir kritis, mengambil keputusan, berkomunikasi efektif, dan mengelola diri secara emosional maupun sosial.

Pemikiran Kartini ini menunjukkan bahwa ia telah jauh melampaui zamannya. Ia memahami bahwa untuk membangun bangsa yang kuat, diperlukan generasi muda yang tangguh secara mental dan cakap secara keterampilan. Ia bahkan mengkritisi sistem pendidikan kolonial yang hanya berorientasi pada pembentukan kelas elit, bukan pemberdayaan seluruh rakyat, terutama kaum perempuan.

Pemikiran itu disampaikan Kartini dalam suratnya kepada Abendanon, 1 Agustus 1901:Kami tidak ingin kaum perempuan hanya menjadi perhiasan rumah tangga. Mereka harus mampu berdiri sendiri, membantu dirinya sendiri, dan bahkan membantu orang lain.”

Dari pernyataan ini, kita bisa melihat bahwa Kartini sangat mendukung pendidikan praktis yang mengajarkan kemandirian. Dalam konteks hari ini, pendidikan seperti itu bisa diartikan sebagai pelatihan keterampilan seperti kewirausahaan, teknologi, komunikasi interpersonal, dan manajemen waktu. Semuanya merupakan bagian dari life skill yang sangat dibutuhkan oleh generasi muda di era digital ini.

Generasi muda saat ini hidup di tengah dunia yang kompleks dan penuh tantangan. Tidak cukup hanya pintar secara akademik, mereka juga perlu mampu menghadapi tekanan sosial, persaingan kerja, hingga perkembangan teknologi yang cepat. Kartini, meski hidup lebih dari seabad lalu, telah melihat pentingnya kesiapan mental dan keterampilan praktis dalam mendukung kehidupan generasi masa depan.

Lebih jauh lagi, Kartini juga menyoroti pentingnya karakter dalam pendidikan. Ia percaya bahwa integritas, empati, dan rasa tanggung jawab adalah bagian tak terpisahkan dari pendidikan sejati. Ini yang disampaikan dalam suratnya kepada kepada Stella, 4 Oktober 1901: “Pendidikan yang baik bukan hanya menanamkan ilmu, tapi juga membentuk hati yang kuat dan pikiran yang jernih.”

Dalam dunia modern, pernyataan ini semakin terasa relevan. Pendidikan karakter adalah bagian dari life skill, karena membantu generasi muda menjadi pribadi yang tahan banting, etis, dan dapat dipercaya. Nilai-nilai yang sangat dibutuhkan dalam masyarakat global yang penuh tantangan moral dan sosial.

Sebagai bangsa, kita perlu kembali merenungi warisan pemikiran Kartini ini. Perjuangannya bukan hanya soal membebaskan perempuan dari belenggu diskriminasi, tetapi juga tentang bagaimana membekali seluruh generasi muda dengan keterampilan hidup agar mereka dapat menjadi agen perubahan yang sejati.

Dengan menjadikan pemikiran Kartini sebagai inspirasi, pendidikan di Indonesia harus semakin diarahkan pada pengembangan life skill, agar setiap anak bangsa baik perempuan maupun laki-laki dapat hidup mandiri, berdaya saing, dan berkontribusi positif bagi masyarakat.

Penulis adalah  Kepala SMK Islam Tsamrotul Huda Jepara dan  Ketua Retno Kencono Jepara