WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Dalam memperingati Jumat Agung Paskah 2025, umat Kristiani Kabupaten Wonogiri Jumat (18/4/25), menggelar ritual (kegiatan yang terikat pada aturan tertentu) jalan salib di dua lokasi terpisah. Yakni di lereng puncak Gunung Gandul oleh umat Katolik, dan di Pemakaman Sono Praloyo yang dilaksanakan oleh umat Gereja Kristen Jawa (GKJ).
Sebagaimana diberitakan, jalan salib ini masuk dalam 6 agenda Paskah tingkat nasional di Tanah Air. Jalan salib di lereng puncak Gunung Gandul, yang merupakan visualisasi sengsara Yesus Kristus, dikemas dalam drama liturgi ”Siapakah yang Kamu Cari.” Dilakukan oleh para muda-mudi Katolik dari Gereja Santo Yohanes Rasul Wonogiri.
Diawali prosesi jalan kaki menuju lereng puncak gunung untuk penyaliban. Jumat Agung oleh umat Katolik ini, kemudian dirangkai dengan ibadah Jumat sore (18/4/25) Pukul 15.00 yang dipimpin Romo Lambertus Issri Purnomo Pr. Untuk Vigili Paskah Sabtu (19/4/25) besok, dipimpin oleh Romo Alexxander Joko Purnomo Pr, dan Paskah Minggu lusa (20/4/25) oleh Romo Sarce Pr.
Kemudian jalan salib di Pemakaman Kristen Sono Praloyo yang dilakukan muda-mudi GKJ Wonogiri, menampilkan Pemuda Danu untuk memperagakan sebagai tokoh Yesus Kristus. Prosesinya, diawali jalan kaki start dari GKJ Induk Sanggrahan Kota Wonogiri, menempuh jarak sekitar 2 KM ke arah timur. Sepanjang prosesi berlangsung, digelar visualisasi melalui 13 stasi sengsara Sang Penebus Dosa.
Jumat Agung, merupakan salah satu bagian Tri Hari Suci Paskah, yang menandai momen penting pengorbanan Yesus di kayu salib. Ini dilakukan, setelah umat Kristiani sebelumnya menggelar ibadah Kamis Putih (satu hari sebelum wafat Yesus Kristus), dan Paskah tiga hari setelah Jumat Agung.
10 Penderitaan
Untuk diketahui, Kamis Putih merupakan pembuka dari Tri Hari Suci guna mengenang perjamuan terakhir Yesus bersama murid-murid-Nya. Sebelum disalib, Yesus mengenalkan Ekaristi Kudus dan mencontohkan teladan mengenai kerendahan hati, dengan membasuh kaki murid-murid-Nya.
Pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus memiliki makna kasih yang tulus, pelayanan, dan mengajarkan umat untuk saling melayani dengan rendah hati. Elemen lain yang tersurat dalam Kamis Putih, adalah Sakramen Ekaristi dan pemindahan Sakramen Mahakudus.
Sakramen Ekaristi adalah momen ketika Yesus mengambil roti dan memecah-mecahkannya serta mengambil cawan lalu mengucapkan, ”Inilah tubuh-Ku, inilah darah-Ku.” Sementara itu, pemindahan Sakramen Mahakudus, dilakukan setelah misa dengan membawa hosti ke tempat khusus untuk adorasi, sebagai lambang Yesus berdoa di Taman Getsemani.
Jumat Agung, merupakan peringatan kematian Yesus di kayu salib di Bukit Golgota. Bagi umat Kristen, makna penyaliban dan kematian Yesus adalah bentuk pengampunan dosa dari Tuhan untuk umat manusia. Sebelum mati di kayu salib, Yesus harus melalui 10 tahap penderitaan.
Pertama, berdoa di Taman Getsemani. Kedua, Yesus ditangkap. Ketiga, Yesus dibelenggu dan diadili. Keempat, Yesus dicambuk. Kelima, kepala Yesus dipakaikan mahkota duri. Keenam, Yesus memikul salib. Ketujuh, tangan dan kaki Yesus dipaku. Kedelapan, Yesus digantung di kayu salib. Kesembilan, Yesus berseru kepada Allah Bapa, Kesepuluh, Yesus menyerahkan nyawa-Nya dan mati.
Sementara itu, Paskah merupakan momen untuk merayakan kebangkitan Yesus dari kematian. Yesus bangkit pada hari ketiga terhitung sejak Ia mati di kayu salib. Kebangkitan Yesus melambangkan harapan akan keselamatan dan hidup yang kekal, kepada siapa pun yang percaya kepada-Nya. Kebangkitan Yesus dirayakan sebagai Paskah, tercatat di beberapa kitab, salah satunya Markus 16: 1-8.(Bambang Pur)













