blank
Foto dokumentasi prosesi Jalan Salib yang dilakukan muda-mudi Umat Kristen dari Gereja Kristen Jawa (GKJ) Induk Wonogiri. Memperagakan jalan sengsara Yesus dalam 13 stasi, termasuk berjalan kaki memanggul kayu salib.(Dok.Ist)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Prosesi Jalan Salib di Wonogiri, Jawa Tengah (Jateng), masuk dalam 6 agenda Paskah tingkat nasional di Tanah Air. Jalan salib, dilaksanakan oleh Umat Kristiani bersamaan dengan ritual Jumat Agung, yang rencananya akan digelar Jumat (18/4/25) lusa.

Serangkaian ibadah Pekan Paskah Tahun 2025, telah dimulai dari Minggu Palma (13/4/25). Kemudian dirangkai dengan Rabu Abu (16/4/25) hari ini, dan Kamis Putih (17/4/25) besok. Dilanjut dengan Jumat Agung (18/4/25) lusa, Sabtu Sunyi (19/4/25) serta perayaan Minggu Paskah (20/4/25) mendatang.

Di Indonesia, ada 6 agenda tradisi Paskah yang digelar secara tahunan. Pertama, Kure di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kedua dan Ketiga, Ziarah Kapel Tuan Ma dan Samana Santa (Pekan Suci) di Larantuka Flores. Keempat, Buha-Buha Ijak di Sumatera Utara. Kelima, Momento Mori di Kalamantan Tengah (Kalteng). Keenam, prosesi Jalan Salib di Wonogiri Jateng.

Ritual Jalan Salib ditradisikan berlangsung bertepatan pada Jumat Agung. Yakni hari peringatan penyaliban dan wafatnya Yesus Kristus di Bukit Golgota. Umat Katolik melakukannya di Gunung Gandul, dan Umat Kristen Jawa di Makam Kristen Sono Praloyo, Bantarangin, Bulusulur, Wonogiri.

Skenario visualisasi Jalan Salib, di bawah Koordinator Prim Karono dari Gereja Katolik Santo Yohanes Rasuk Wonogiri, akan diawali dengan narasi “Siapakah yang kamu cari ?” Pertanyaan ini, mengajak kita merenungkan makna sejati perjalanan iman.

Langkah demi langkah, luka demi luka, salib itu dipikul dengan kasih. Di setiap tetes darah dan keringat, ada pengorbanan besar demi keselamatan manusia. Perjalanan penuh makna mengenang wafat dan sengsara Tuhan Yesus Kristus ini, mengajak umat untuk bersama menyusuri setiap langkah-Nya, merasakan penderitaan dan kasih-Nya yang tak terbatas.

Bagi Umat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Wonogiri, rangkaian peringatan Paskah 2025 dimulai Minggu Palma yang digelar Minggu (13/4/25) lalu. Kemudian dirangkai Kamis Putih (17/4) besok, ditandai dengan perjamuan Kudus Istimewa. Ini dilakukan oleh bersama jemaat gabungan dari Pepanthan Timang, Mento dan Jatisobo pada Pukul 15.00. Kemudian GKJ Induk bersama Pepanthan Pokoh Kidul pada Pukul 18.00.

Jalan Kaki

Untuk prosesi Jalan Salib, Jumat (18/4/25), akan diawali start dari GKJ Induk Sanggrahan Kota Wonogiri, jalan kaki menuju Makam Kristen Sono Praloyo di Bantarangin, Bulusulur, Wonogiri, menempuh jarak sekitar 2 KM, dimulai Pukul 06.00. Untuk Sabtu Sunyi (19/4/25), digelar di GKJ Induk Pukul 19.00. Ibadah Paskah, Minggu (20/4/25) Pukul 05.00 di GKJ Induk bersama Pepanthan Pokoh Kidul (Pokid) beserta Gabungan dari Mento dan Timang. Untuk Jatisobo Pukul 07.00 dan khusus GKJ Induk Pukul 16.30.

Tradisi tahunan Jalan Salib pada Peringatan Jumat Agung, ditandai dengan menggelar ritual penyaliban Yesus yang dikemas dalam 13 stasi jalan sengsara Sang Penebus Dosa. Disajikan dalam serangkaian gerak teatrikal drama liturgi.

Diawali jalan kaki dari titik start, pemeran Yesus berjalan sambil memanggul kayu salib. Di kepalanya terpasang Makhota Berduri. Serangkaian adegan teatrikal drama liturgi disajikan untuk memvisualisasikan jalan sengsara Yesus. Itu berlangsung sejak dari awal penangkapan, dan di sepanjang jalan dilakukan penyiksaan oleh bala prajurit bersenjatakan pecut cemeti, pedang dan tombak.

Tiba di titik finish, ditusuk tombak dan wafat, kemudian disalib pada tiang kayu palang. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Yesus berseru dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani ?” Sajian visualisasi jalan sengsara Sang Penebus Dosa ini, dibarengi dengan penyampaian narasi yang membuat orang menjadi trenyuh (terharu) oleh penderitaannya.

Jalan Salib (Via Crucis atau Via Dolorosa) merupakan visualisasi jalan penderitaan. Ini merujuk pada penggambaran masa-masa terakhir penderitaan Yesus dan devosi yang memperingati penderitaan tersebut. Devosi, adalah sikap hati dan tindakan yang menunjukkan cinta dan penyerahan diri kepada yang dicintai.

Sejarah devosi dimulai oleh Santo Fransiskus Assisi dan menyebar ke seluruh Gereja Katolik Roma pada Abad Pertengahan. Ini biasa dilakukan pada masa pra-Paskah, terutama pada Hari Jumat Agung.(Bambang Pur)